Kartun 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Tempo Doeloe
Pendidikan Anticopet ala Singapura

TERPILIH menjadi Gubernur DKI Jakarta bulan lalu, Joko Widodo langsung berhadapan dengan sejumlah masalah kronis, antara lain tawuran pelajar. Di Ibu Kota, bentrokan antarpelajar memang sedang hangat-hangatnya, hingga menelan korban jiwa.

i

TERPILIH menjadi Gubernur DKI Jakarta bulan lalu, Joko Widodo langsung berhadapan dengan sejumlah masalah kronis, antara lain tawuran pelajar. Di Ibu Kota, bentrokan antarpelajar memang sedang hangat-hangatnya, hingga menelan korban jiwa.

Untuk mengatasinya, Jokowi mengimbau pelajar dan mahasiswa agar sering berkomunikasi. Selanjutnya, sejak pekan lalu, kepolisian dan Dinas Pendidikan Jakarta menggelar pelatihan untuk 3.200 pelajar sekolah menengah atas se-Jakarta di Lido, Sukabumi, Jawa Barat. Dibagi dalam 12 gelombang, mereka ditempa selama sepekan, agar terbangun etika dan tanggung jawab moral.

Masalah "moral" pelajar juga pernah mengemuka di Singapura. Majalah Tempo dalam rubrik Agama edisi 13 Februari 1982 melaporkan bagaimana para orang tua dan pemimpin negeri itu resah akibat tingkah anak-anak mereka. Pelajar di sana sering diadukan karena mencopet atau mencuri, hal yang membuat geram Perdana Menteri Lee Kuan Yew. "Maling kecil belajar mencuri sejak masih di sekolah," katanya.


Para maling itu demikian terlatih sehingga sangat terampil menggasak barang milik orang lain. Seorang tentara kehilangan jam tangan atau dompet yang baru 10 detik diletakkan, "Itu lumrah di tangsi batalion," kata Dr Goh Keng Swee, Wakil Perdana Menteri dan Menteri Pertahanan, dalam sebuah penelitian pendidikan, akhir 1970-an.

161833393381

Kajian tersebut menyimpulkan perlu program baru dalam sistem pendidikan. Tugas itu dipercayakan kepada Goh Keng. Pada 1980, dia dibebaskan dari Menteri Pertahanan dan dilantik sebagai Menteri Pendidikan. Goh merancang berbagai komisi program pembinaan moral. Mula-mula dia tertarik pada program seorang pastor Katolik, Dr Robert Balhetchet, yang memimpin proyek percontohan pendidikan moral bernama "Ada dan Menjadi" di sekolah Bukit Merah.

Kebanyakan murid sekolah Bukit Merah berasal dari keluarga papa, penghuni satu kamar di rumah-rumah susun sederhana. Sekolah yang menjadi proyek percontohan itu paling brengsek. Sewaktu Goh hendak meninjau ke sana, ia dinasihati supaya naik taksi saja. Mobil bisa digores anak-anak.

Ternyata para pelajar di sana tidak lagi sebrengsek yang dibayangkan. Program tersebut mulai berbuah. Kebanyakan siswanya telah menjadi murid yang membanggakan.

Muncul ide, proyek Balhetchet hendak diperluas hingga ke 21 sekolah. "Kalau bisa membina Bukit Merah, tentu bisa membina sekolah mana pun di Singapura ini," kata Goh. Tapi program seperti ini memerlukan waktu lama. Hasilnya baru bisa diharapkan sepuluh tahun kemudian. "Kecuali Dr Balhetchet bisa memproduksi 120 Dr Balhetchet lainnya."

Lalu Goh melihat jalan pintas: mewajibkan pelajaran agama di sekolah menengah. Menurut dia, agama merupakan jalan terbaik dan bisa diandalkan untuk menciptakan warga yang jujur dan lurus. Dia menyorongkan bukti, sebagai bekas murid Sekolah Anglo-Chinese (ACS) yang mendapat pelajaran agama, belum pernah ada alumnusnya masuk penjara karena melakukan kejahatan. "Para bankir juga berpendapat, lulusan ACS dapat dipercaya," katanya.

Kebijakan Menteri Goh ini mengundang banyak perdebatan. Di kota dagang itu terdapat empat agama besar: Buddha, Kristen, Islam, dan Hindu. Dalam suatu pertemuan Menteri Pendidikan beserta stafnya dengan para kepala sekolah terjadi debat. Kepala Sekolah St Patrick, Joseph McNally, menilai siswa belum matang untuk menerima pengajaran empat agama.

Kepala Sekolah Biara Katong, Marie Bong, melaporkan satu delegasi orang tua muslim datang kepadanya, berang mendengar pengajaran Bibel akan diwajibkan. Seorang tua beragama Hindu juga pernah menggedor sekolah karena protes yang sama. Bahkan direktur proyek pembinaan moral "Ada dan Menjadi", Dr Robert Balhetchet, ikut mengajukan keberatan. Menurut dia, pengajaran agama tidak menjamin terbentuknya manusia bermoral.

Toh, Goh kukuh pada pendiriannya. "Singapura kekurangan ideologi yang kuat dan terancang baik, kecuali agama," ujarnya. Selama ini di sekolah-sekolah ada mata pelajaran civics dan "pengetahuan masalah hangat". Menurut Goh, kedua vak itu dirancang sebagai pendidikan moral, ternyata gagal.


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161833393381



Kartun 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.