Iqra 1/3

Sebelumnya Selanjutnya
text

Buku Anak, Beda Benua Beda Selera

Ilustrasi cerita anak Indonesia tidak selamanya cocok dengan selera anak Jerman. Adegan kekerasan tak boleh digambarkan.

i

Anak-anak mendapat perhatian khusus dalam Frankfurt Book Fair. Tahun ini, pekarangan tengah area Pameran Buku Frankfurt—disebut Agora—menyediakan beragam sarana, seperti panggung permainan dan tenda dongeng, untuk para pembaca belia itu.

Paviliun Indonesia memiliki Island of Tales atau Pulau Dongeng—yang menawarkan aneka pogram, dari pembacaan dongeng oleh para penulis buku anak, pelajaran menggambar komik, hingga permainan interaktif. Paviliun Indonesia juga mempunyai Island of Images, yang menyajikan potongan-potongan komik, baik yang klasik maupun konvensional.

Jumat pagi dua pekan lalu, di Pulau Dongeng, Murti Bunanta dan Tety Elida membuktikan bahwa tali dan origami bisa mendatangkan suasana lebih hidup dan menarik dalam bercerita. Bersama Tety Elida, para peserta belajar menggunakan tali untuk menyampaikan cerita sederhana tentang nyamuk.


Cara bercerita dengan tali cukup menantang. Para peserta harus beberapa kali mengulangi tahap demi tahap dalam membentuk tali. Monika Mertens dari Oberursel, misalnya, mendatangi panggung Indonesia di Pameran Buku Frankfurt secara khusus untuk mempelajari teknik bercerita ini.

161879761734

"Saat ini di daerah tempat saya tinggal, di Oberursel, banyak sekali keluarga pengungsi. Kami ingin sekali menghibur anak-anak pengungsi itu dengan bercerita dan saya pikir teknik ini sangat cocok untuk mereka. Anak-anak dapat dengan mudah terlibat tanpa terhalang oleh perbedaan bahasa," pustakawan itu menjelaskan alasan di balik ketertarikannya.

Selain bercerita dengan tali, Murti Bunanta memperkenalkan cara menggunakan kertas origami sebagai alat peraga untuk bercerita. Aneka teknik kreatif ini khusus disiapkan kedua aktivis cerita anak itu untuk berbagi strategi bercerita demi merangsang imajinasi dan minat baca anak.

Industri buku anak ini gampang-gampang susah. Yang jelas, industri ini tak pernah ditinggalkan pembeli. "Orang tua, sebagai pemegang kendali dalam keluarga, berperan besar dalam memilih buku atau barang untuk anaknya," kata Yudith Andhika dari Divisi Pemasaran Internasional Grup Kompas Gramedia.

Susahnya? Seleranya tidak bisa ditebak dan ilustrasi serta ceritanya harus sesuai dengan perkembangan anak. "Kita tidak bisa seenaknya menawarkan semua dongeng untuk anak, karena tidak semua dongeng sesuai untuk anak," ujar Laura Prinsloo dari penerbit Kesaint Blanc. Penerbit ini menawarkan dongeng bergambar yang ditulis ulang oleh penulis Inggris, Andy Bianchi. Sangkuriang, misalnya, digambarkan tidak lagi jatuh cinta pada ibunya. Adegan Sangkuriang membunuh anjing yang ternyata ayahnya itu juga diubah. "Sebisa mungkin ceritanya tidak lagi mengandung unsur kekerasan atau hal yang tidak bisa diterima anak," Laura menambahkan.

Selera ilustrasi yang berbeda juga menjadi batu sandungan dalam penjualan buku anak, menurut beberapa penerbit yang ditemui Tempo di Frankfurt, akhir pekan lalu. Melihat ilustrasi buku anak yang diterbitkan Mizan, Renate Reichstein dari penerbit Oetinger menyimpulkan ada beberapa ilustrasi yang tidak cocok dengan selera anak Jerman.

"Saya bisa memakluminya. Banyak buku anak yang kami terbitkan memang punya pangsa pasar khusus, yakni anak muslim. Makanya, ada gambar kerudung dan semacamnya. Tapi kami juga memiliki produk lain yang sifatnya lebih umum," kata Sari Meutia, Direktur Utama Mizan Publishing, menanggapi komentar Reichstein.

Oetinger adalah salah satu penerbit buku tertua di Jerman, dengan divisi buku anak yang cukup besar. Salah satu buku anak terbitan Oetinger yang terkenal adalah Pippi Langstrumpf (Pippi Longstocking) karya Astrid Lindgren dari Swedia. "Dulu, sebelum menandatangani kontrak dengan Astrid Lindgren, kami hampir bangkrut. Bisa dikatakan Pippi telah menyelamatkan Oetinger," ujar Reichstein.

Menurut Sari Meutia, buku anak Eropa memiliki karakter yang khas dan punya tradisi ilustrasi yang sudah cukup tua. "Jadi memang sulit ditembus. Tapi dengan Turki, misalnya, kita punya kesamaan selera. Karena itu, banyak produk kami, misalnya ensiklopedia Halo Balita, berhasil terjual ke penerbit Turki. Sementara itu, komik Garudayana terjual ke Jepang," katanya. Komik Garudayana memiliki karakter ilustrasi manga, yang menurut Sari Meutia bisa diterima publik Jepang.

Penerbit Jepang, Digital Catapult, memborong sejumlah kontrak kerja sama dengan beberapa penerbit Indonesia: Garudayana dari Mizan, Grey & Jingga dari Gramedia, serta produk komik besutan komunitas komik re:ON.

Digital Catapult memilih ketiga komik itu karena, "Kami sedang mengeksplorasi komik di luar Jepang. Kami memilih ilustrasi yang bernuansa manga yang kuat karena itu yang digemari pasar Jepang, tapi dengan isi cerita yang berbeda," ujar Tatsuki Hirayanagi dari Digital Catapult Inc, Tokyo.

Menurut Nung Atasana, anggota Komite Buku Indonesia, ilustrator Indonesia turut memegang peran penting dalam Pameran Buku Frankfurt tahun ini. "Kami membawa beberapa ilustrator buku anak dan komik untuk bertemu dengan para penerbit di sini. Dari situ, ternyata kami dengar sudah ada 25 janji pertemuan ilustrator dengan penerbit dan agen dari berbagai negara. Semoga pertemuan itu membuahkan hasil kontrak," kata Nung Atasana.

Jumat dua pekan lalu, pameran dibuka untuk pengunjung bisnis dan anak sekolah. Terlihat banyak rombongan anak-anak didampingi guru kelasnya menjelajahi area pameran.

Salah satu daya tarik pameran bagi anak-anak sekolah itu ada di aula 4.1, yang mengusung tema "Classroom of the Future". Di sana, anak-anak bisa memilih aktivitas yang mereka sukai, dari permainan interaktif, kursus memasak untuk anak, kursus jurnalistik, kursus membatik digital, hingga kursus melukis topeng. "Yang paling banyak meminati kursus memasak adalah anak laki-laki," kata Astrid Enricka, salah satu koki yang menangani kursus memasak di stan Indonesia.

Sabtu dan Ahad, 17 dan 18 Oktober lalu, ribuan pengunjung memadati aula 3.0, yang khusus menawarkan produk buku dan permainan interaktif untuk anak. Meskipun selera berbeda-beda, ribuan anak yang mengunjungi Pameran Buku Frankfurt 2015 tampak terhibur oleh buku-buku warna-warni, acara-acara permainan, dan hadiah-hadiah kecil yang dibagikan di tiap stan penerbit.

Luky Setyarini (Frankfurt)


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161879761734



Iqra 1/3

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.