Berjihad Mendukung Sidang - Investigasi - majalah.tempo.co ‚Äč

Investigasi 6/9

Sebelumnya Selanjutnya
text

Berjihad Mendukung Sidang


Demokrasi juga milik kelompok yang ingin memuluskan jalannya Sidang Istimewa MPR.

Edisi : 23 November 1998
i
ADA kaum oposan, ada pula kelompok sayap kanan. Begitulah yang terjadi ketika Sidang Istimewa MPR berlangsung, dua pekan silam. Wakil rakyat yang tengah bersidang itu tak cuma "direcoki" oleh kelompok oposisi yang menolak hasil sidang dan berniat menggagalkan konferensi berbiaya Rp 20 miliar itu, tapi juga didukung oleh kelompok yang menginginkan agar perhelatan besar itu berjalan mulus.

Suara bulat ini tercermin saat apel akbar umat Islam di Stadion Utama Senayan, Jakarta, sehari menjelang perhelatan nasional itu. Acara yang diselenggarakan oleh Forum Silaturahmi Ulama, habaib, serta tokoh masyarakat Islam dari Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi itu menghasilkan pernyataan sikap yang tegas, yakni menentang pihak-pihak yang ingin menggagalkan Sidang Istimewa MPR.

Pernyataan yang dibacakan K.H. Syaifuddin itu lantas mendapat keplokan dari 100 ribu umat dan sejumlah tokoh yang hadir, seperti Ketua Pelaksana Komite Indonesia untuk Solidaritas Dunia Islam (KISDI) Ahmad Sumargono dan Sekjen Dewan Dakwah Islamiah Indonesia (DDII) H. Husein Umar. Pengusaha nasional Fadel Muhammad malah bersuara lebih lantang. Katanya, bila imbauan tak diindahkan, umat Islam siap menghadapi dengan segala risiko.

Tidak jelas benar, apakah apel besar tadi mengilhami munculnya pasukan pengamanan SI MPR yang kemudian dikenal dengan sebutan Pam Swakarsa. Yang hampir pasti, sebagian besar ormas yang turut serta dalam apel itu punya andil dalam mengerahkan anggota PAM Swakarsa berlabel Islam--atau setidaknya menyetujui keberadaannya. Pasukan yang mereka kerahkan itu dilengkapi dengan bambu runcing serta berikat kepala bertuliskan ayat Alquran.

Anggota Pam Swakarsa terdiri atas berbagai unsur. Majelis Dakwah Islamiah, forum pengajian yang dibina Golkar, misalnya, menurunkan 600 anggota dengan tugas memblokir Tugu Proklamasi yang sedianya menjadi ajang digelarnya parlemen jalanan oleh mahasiswa dan kelompok penentang SI MPR. "Yang masuk ke sini harus lewat Istiqlal," kata Aceng Zaelani, salah seorang koordinatornya. Maksudnya, dari masjid terbesar di Jakarta itulah gerakan dimulai.

Ada pula "alumni" SMA Jakarta. Kelompok yang satu ini berasal dari Menteng, Kalipasir, dan Gondangdia. Dengan kekuatan 200 orang, bersama kelompok lain mereka bertugas menjaga Taman Ismail Marzuki agar tak disusupi mahasiswa yang ingin melakukan orasi. "Di sini tak boleh ada kumpul-kumpul membicarakan sidang istimewa. Kita siap bentrok," kata Syarif, sang koordinator.

Itu kelompok gurem. Tim yang besar digerakkan oleh Faisal Biki, adik kandung almarhum Amir Biki, tokoh peristiwa Tanjungpriok. Bersama kelompok Forum Umat Islam Penegak Keadilan dan Konstitusi (Furkon) yang didirikan Komarudin Rahmat, Daud Poliraja, dan Furqon, mereka punya aset 120 ribu massa yang "siap berjihad untuk membela negara".

Pasukan yang dirangkul Furkon berasal dari berbagai daerah. Jakarta, misalnya, banyak disumbang pasukan dari wilayah Tanahabang, Tanjungpriok, dan Kwitang. Dari luar daerah, kebanyakan dari Serang, Rangkasbitung, dan Pandeglang. Ada pula yang datang dari Yogyakarta, seperti diakui Ketua Tarbiyah Islamiah Yogyakarta, Djalaludin Syukur. Ia mengaku memberangkatkan 300 pemuda untuk bergabung dengan Pam Swakarsa. "Ini order dari sebuah yayasan di Jakarta," katanya seperti dikutip Berita Buana.

Selama di Jakarta, sama seperti anggota Pam Swakarsa yang lain, mereka menginap di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, yang sekaligus menjadi sekretariatnya. Namun Faisal Biki menolak bila pasukan yang dielusnya itu dikerahkan untuk membela Habibie. "Tak ada dukung-dukungan, tapi kalau program Habibie menguntungkan umat Islam, kenapa tidak dibela?" katanya.

Urusan anggaran, Faisal lebih suka tutup mulut ketimbang membocorkan jumlah dana yang dikeluarkan untuk membiayai program ini. Yang pasti, tiap orang mendapat imbalan makan sampai kenyang dan rokok sebungkus, plus uang saku antara Rp 5.000 dan Rp 10.000 per hari. Faisal sendiri mengaku, dananya antara lain dikucurkan oleh Menhankam Pangab Jenderal Wiranto dan Wakil Ketua DPR/MPR Abdul Gafur. Toh sang Jenderal menolak mentah-mentah tudingan itu. "Semua kok dipolitisir ke saya," katanya.

2020-04-05 11:07:46


Investigasi 6/9

Sebelumnya Selanjutnya

Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
Anda akan mendapatkan 8 artikel gratis setelah Register.

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Anda memiliki 3 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

8 artikel gratis setelah Register.