Investigasi 5/5

Sebelumnya Selanjutnya
text

Tidak Usah Sok-sokan Uji Produk

Skandal pengadaan reagen di Satgas Penanganan Covid-19 menyeret nama Budiyanto, pengusaha pemilik PT Trimitra Wisesa Abadi. Semula perusahaan ini bergerak di bidang pengadaan mesin uap, turbin, pompa, kincir, generator, hingga konstruksi gedung dan griya tawang. Kepada Tempo, Budiyanto dengan terbuka menjelaskan asal muasal kedekatannya dengan Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Doni Monardo. 

 

i Budiyanto  A. Gani saat ditemui Tempo di kawasan Blok M, Jakarta, Rabu 10 Maret 2021. TEMPO
Budiyanto A. Gani saat ditemui di kawasan Blok M, Jakarta, Rabu 10 Maret 2021. Tempo
  • PT Trimitra Wisesa Abadi mendapat 20 paket pengadaan alat uji Covid-19 sejak 15 April 2020. .
  • Pemiliknya, Budiyanto, mengakui tidak memahami alat kesehatan saat pengadaan pertama tersebut.
  • Beberapa laboratorium mengembalikan barang yang ia impor ke BNPB. .

BEGITU pandemi Covid-19 menghembalang Indonesia pada awal Maret 2020, Budiyanto menambah jenis usaha PT Trimitra Wisesa Abadi. Semula perusahaan ini bergerak di bidang pengadaan mesin uap, turbin, pompa, kincir, generator, hingga konstruksi gedung dan griya tawang. Mulai 22 Maret 2020, Trimitra punya usaha baru: perdagangan alat laboratorium, farmasi, dan kesehatan.

Dengan status baru itu, pada 15 April 2020 perusahaan ini mendapat penunjukan langsung dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk mengimpor jutaan unit alat deteksi virus corona (reagen) dari Cina dan 18 paket pengadaan hingga November 2020. Nilai total pengadaan alat bermerek Beaver, Cellpro, Citoswab, Intron, Liferiver, Torax, dan Zybion itu sekitar Rp 427 miliar. “Saya cuma bantu BNPB karena (alat) PCR (polymerase chain reaction) dan reagen langka,” kata pengusaha 44 tahun ini pada Rabu, 10 Maret lalu, di restoran Sari Ratu, Blok M, Jakarta Selatan.

Restoran Sari Ratu adalah bisnis lain Budiyanto. Di restoran masakan Padang yang didirikan Auwines—paman Kepala BNPB Letnan Jenderal Tentara Nasional Indonesia Doni Monardo—ini, ia punya saham bersama Inna Rossaria. Inna-lah yang mengenalkan Budiyanto kepada Doni saat ia menjadi panglima Komando Pasukan Khusus (Kopassus) TNI Angkatan Darat pada 2014.



Meski baru, perusahaan Anda mendapat banyak paket pengadaan di BNPB….

Tidak juga. Itu pandangan orang yang iri saja. Mereka tidak melihat risiko gagal mendapatkan barang di tengah kelangkaan yang besar. Saat susah kemarin, orang-orang ini ke mana? 

161867799014

Bagaimana Anda terlibat pengadaan alat uji Covid-19?
Pada April terjadi kelangkaan reagen. Stok di dunia menipis. Saya membantu BNPB mencari ke perusahaan di Cina dan dapat 500 ribu. Saat itu, namanya saja darurat, siapa saja yang memiliki barang akan dibeli dengan harga berapa saja. 

Anda dekat dengan Doni Monardo?
Setiap orang pasti punya yang dia dekat, dia nyaman, dia percaya. Memang banyak orang datang, meminta tolong supaya saya membantu mendapatkan proyek di BNPB. Tapi saya bukan pejabatnya. Kalau saya bisa, ya saya bantu, tapi saya bukan pejabatnya. Pejabatnya itu beliau.

Kapan Anda mengenal Doni?
Sewaktu dia menjabat Komandan Jenderal Kopassus, sekitar 2014. Waktu itu dikenalkan oleh Inna Rossaria, adik sepupunya. 

Bagaimana Anda mengenal Inna Rossaria?
Berawal dari bisnis cleaning service bersama teman-teman. Di situ masuk Inna Rossaria. Saya juga berbisnis restoran ini akhirnya pada 2017.

Anda tidak punya pengalaman dalam pengadaan alat kesehatan, mengapa bisa mengikuti pengadaan langsung?
Ini naluri bisnis pengusaha. Bertahan atau mati. Sekarang 80 persen pengusaha main di alat kesehatan. Kenapa? Karena pemain alat kesehatan lama terbiasa dengan proteksi, dengan katalog, dengan apalah, enggak terbiasa dengan model BNPB. Obat dan alat kesehatan kita itu mahal, padahal ada yang generik. Coba bayangkan kalau peraturan tetap semua pemain alat kesehatan harus begini-begitu, berapa harga alat tes PCR kita beli di awal? Rp 750 ribu, bahkan Rp 1 juta! Di BNPB bisa Rp 300 ribu.

Mengapa tetap bisa masuk menjadi penyalur?
Di tahap pertama boleh. Di tahap kedua, perusahaan harus punya izin penyalur alat kesehatan dan izin edar alat kesehatan untuk produk impor. Karena syaratnya harus begitu, semua perusahaan membuat sehingga rapi. Tidak sulit mengurusnya, semua orang bisa. 

Beberapa laboratorium mengembalikan produk yang Anda impor karena tidak kompatibel dengan mesin mereka….
Alat PCR ini bukan alat gampang, tidak seperti antigen yang tinggal tempel jadi, dan bermacam-macam. Karena rumit, terkadang operator laboratoriumnya tidak mengerti sehingga dianggap tidak cocok dan dikembalikan. 

Apakah barang yang telah dikembalikan bisa diganti dengan yang lain?
Tidak. Barang ini diberikan ke laboratorium lain yang merasa bisa menggunakannya karena tidak ada waktu untuk mengembalikannya.

Menurut Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan, barang yang Anda pasok belum lulus uji produk….
Kita tidak usah sok-sokan mengurusi uji produk karena di awal pandemi situasinya darurat. Kalau produk dari Cina, yang penting ada di CFDA (China Food and Drug Administration). Menunggu uji produk dua bulan. Mau nungguin?


Reporter Tempo - profile - https://majalah.tempo.co/profile/tempo?tempo=161867799014


Covid-19 Doni Monardo BNPB

Investigasi 5/5

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.