Libanon Rusuh karena Krisis Ekonomi, Aktivis Thailand Hilang di Kamboja - Internasional - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Internasional 5/5

Sebelumnya Selanjutnya
text

Berita Internasional dalam Sepekan

Dari gelombang unjuk rasa di Libanon hingga hilangnya aktivis pengkritik pemerintah Thailand di Kamboja.

i Demonstrasi berujung pembakaran akibat menurunnya mata uang pound Libanon, di Beiurt, Libanon, 11 JUni 2020. REUTERS/Issam Abdallah
Demonstrasi berujung pembakaran akibat menurunnya mata uang pound Libanon, di Beiurt, Libanon, 11 JUni 2020. REUTERS/Issam Abdallah
  • Libanon diguncang kerusuhan karena nilai mata uangnya anjlok.
  • Thailand membentuk panel untuk menyelidiki hilangnya Wanchalerm Satsaksit, aktivis pengkritik pemerintah.
  • Kongo harus berjuang menghadapi wabah baru ebola yang kembali berjangkit.

LIBANON

Terpuruk dalam Krisis Ekonomi

UNJUK rasa berlanjut di berbagai kota di Libanon belakangan ini karena nilai pound Libanon, mata uang negeri itu, terus merosot. Pada Jumat, 12 Juni lalu, ketua parlemen Nabih Berri menyatakan pemerintah sedang mengambil langkah-langkah untuk memperkuat mata uang dengan menaikkan nilainya menjadi 3.000-3.200 pound per dolar Amerika Serikat. Menurut Reuters, Berri menyampaikan hal itu setelah bertemu dengan Presiden Michel Aoun dan Perdana Menteri Hassan Diab, tapi tak merinci lebih jauh apa rencana pemerintah.

Pound Libanon telah kehilangan sekitar 70 persen nilainya, terendah sejak krisis ekonomi bermula pada Oktober tahun lalu. Selama ini, pemerintah mematok 1.507,5 pound per dolar Amerika. Pada Kamis, 11 Juni, nilainya sudah mencapai 5.000 pound per dolar. Bank sentral mencoba mengendalikannya melalui kesepakatan dengan biro penukaran uang untuk menetapkan harga pound harian perlahan dinaikkan hingga menjadi 3.200 pound per dolar.

Berri juga menyatakan pemerintah telah mencapai kesepakatan dengan Dana Moneter Internasional (IMF) untuk program reformasi ekonomi. Namun sebagian anggota parlemen menolak campur tangan lembaga tersebut.

 




THAILAND

Penyelidikan Hilangnya Pengkritik Junta

PEMERINTAH Thailand membentuk panel yang akan menyelidiki hilangnya Wanchalerm Satsaksit, aktivis pengkritik pemerintah. Lelaki 37 tahun itu kabur ke Kamboja ketika pemerintah mengeluarkan surat penangkapan. Sejak itu, ia bermukim di Phnom Penh. Pada Kamis, 4 Juni lalu, sekelompok orang bersenjata menciduknya dan membawanya dengan sebuah mobil hitam.

Pada Rabu, 10 Juni lalu, Menteri Kehakiman Somsak Thepsuthin menyatakan panel itu akan dipimpin oleh seorang penyelidik andal. Tapi, kata dia, karena kasus Wanchalerm terjadi di luar yurisdiksi Thailand, pemerintah, melalui Kementerian Luar Negeri, hanya bisa berkoordinasi dengan pemerintah Kamboja. Perdana Menteri Prayut Chan-o-cha menyatakan Kedutaan Besar Thailand di Phnom Penh sedang bekerja sama dengan pemerintah Kamboja menangani kasus ini.

Brad Adams, Direktur Eksekutif Divisi Asia Human Rights Watch, menyatakan keadaan ini menuntut respons cepat dari pemerintah Kamboja. “Pemerintah asing dan donor harus menekan pemerintah Kamboja untuk mengambil semua langkah yang diperlukan guna menemukan Wanchalerm atau berisiko dianggap terlibat dalam penculikan ini,” tuturnya kepada The Mainichi.

Menurut Human Rights Watch, sejak kudeta militer di Bangkok pada Mei 2014, pemerintah Thailand secara agresif mengejar para aktivis pro-demokrasi yang mengungsi ke Laos, Vietnam, dan Kamboja. Menurut lembaga itu, sedikitnya delapan orang telah menjadi korban penghilangan paksa.

 


 

Petugas kesehatan mengevakuasi jenazah bayi yang terkajit viurs ebola, di Beni, Kongo, Desember 2018. REUTERS/Goran Tomasevic


KONGO

Wabah Ebola Berjangkit Lagi

DI tengah pandemi Covid-19, Kongo harus berjuang menghadapi ebola yang kembali berjangkit. Negeri kaya mineral itu sebenarnya berencana mengumumkan wabah ebola berakhir pada 25 Juni, setelah 42 hari tak ada kasus baru. Namun kasus baru justru muncul lagi belakangan ini.

Ebola menyerang Kongo sejak Agustus 2018 dan menginfeksi sekitar 3.400 orang, sebanyak 2.280 di antaranya meninggal. Wabah ini dianggap sebagai yang terbesar di sana dan terbesar kedua di dunia setelah serangan ebola di Afrika Barat pada 2014-2016. Pada Senin, 8 Juni lalu, tercatat 12 kasus baru ditemukan dan 8 orang meninggal, termasuk gadis 15 tahun.

Ghislain Mukuna, manajer program kesehatan terintegrasi di Catholic Relief Services, menyatakan tim yang menangani ebola adalah tim yang juga menangani Covid-19. “Jumlah wabah dan darurat kesehatan yang dihadapi struktur ini adalah tantangan terbesar,” ucapnya kepada National Catholic Reporter.

2020-07-03 20:25:16

Kamboja Ebola Kongo Covid-19 Lebanon Thailand

Internasional 5/5

Sebelumnya Selanjutnya

Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
Anda akan mendapatkan 8 artikel gratis setelah Register.

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Anda memiliki 3 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

8 artikel gratis setelah Register.