Mengapa Perintah Tinggal di Rumah Diprotes di Amerika dan Brasil - Internasional - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Internasional 3/3

Sebelumnya Selanjutnya
text

Mereka Menolak Pembatasan

Protes anti-pembatasan terjadi di sejumlah kota di Amerika Serikat. Sebagian digerakkan oleh kelompok pendukung Donald Trump.

i Warga New York menuntut pembatalan atau pembukaan lock down kotanya selama wabah Covid-19, di Albany, New York, Amerika Serikat, 22 April 2020./REUTERS/Bryan R Smith
Warga New York menuntut pembatalan atau pembukaan lock down kotanya selama wabah Covid-19, di Albany, New York, Amerika Serikat, 22 April 2020./REUTERS/Bryan R Smith
  • Protes atas kebijakan pembatasan gerak terjadi di sejumlah kota di Amerika Serikat. .
  • Donald Trump menyerukan agar pembatasan itu diperlonggar.
  • Presiden Bolsonaro ikut berdemonstrasi menentang kebijakan negara bagian yang memilih pembatasan gerak. .

RATUSAN orang turun ke jalan di Raleigh, Carolina Utara, Amerika Serikat, Selasa, 21 April lalu, untuk memprotes “perintah tetap tinggal di rumah” yang dikeluarkan Gubernur Roy Cooper. Para pengunjuk rasa yang digerakkan oleh ReOpenNC itu tampak mengusung poster “Biarkan kami bekerja” dan “Make America Great Again (MAGA)”, slogan kampanye Donald Trump, tapi sama sekali tidak mematuhi pedoman jaga jarak aman dan sebagian besar tidak memakai masker.

Demonstrasi yang berlangsung di tengah masa pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) itu merupakan rangkaian protes terhadap perintah tetap tinggal di rumah yang diberlakukan gubernur untuk mencegah penyebaran virus. Hingga 24 April lalu, Amerika mencatat 886.709 kasus dengan 50.243 orang di antaranya meninggal. Jumlah itu melebihi Cina, negara pertama yang terjangkit virus ini, yang punya 82.804 kasus dan 4.632 orang meninggal.

Unjuk rasa yang tercatat terjadi di sejumlah kota itu memiliki tuntutan yang sama: cabut atau longgarkan perintah tetap di rumah agar bisa bekerja lagi dan ekonomi kembali berjalan. Perintah pembatasan itu telah menyebabkan lebih dari 26 juta orang kehilangan pekerjaan.


Awalnya protes itu terjadi di Kota Lansing, ibu kota Negara Bagian Michigan. Dalam unjuk rasa pada 15 April lalu, ratusan orang naik mobil dan truk melewati rumah Gubernur Gretchen Whitmer. Mereka menyebutkan perintah pembatasan gerak itu melanggar kebebasan individual mereka. Perintah itu memang membuat toko-toko besar tutup dan membatasi perjalanan antar-negara bagian.

Protes ini digerakkan oleh Michigan Conservative Coalition dan Michigan Freedom Fund, kelompok konservatif yang punya hubungan dengan keluarga Menteri Pendidikan Elisabeth Dee DeVos. Para pengunjuk rasa terdengar meneriakkan “Buka Michigan!”. “Warga terus terang lelah diperlakukan seperti bayi. Sebagai orang dewasa, kami tahu apa yang harus dilakukan untuk tetap aman,” kata Marian Sheridan, salah satu pendiri Michigan Conservative Coalition.

Para demonstran marah dan frustrasi terhadap pembatasan yang membuat ekonomi macet, tapi Gubernur Whitmer dan para tenaga medis menilai langkah itu sangat penting untuk mengerem penyebaran virus. Selama Maret saja, corona telah menewaskan hampir 1.300 orang di sana. Jumlah itu lebih tinggi daripada korban tewas akibat kecelakaan mobil di negara bagian ini sepanjang tahun.

Juru bicara gubernur, Chelsea Lewis, menyatakan mereka menghargai hak setiap orang untuk memprotes, tapi hendaknya jangan sampai membahayakan keselamatan. Lewis juga mempertanyakan keterlibatan keluarga Menteri Pendidikan dalam protes ini. “Sangat tidak pantas bagi suatu kelompok, terutama yang didanai oleh anggota kabinet presiden, melancarkan serangan politik partisan selama krisis kesehatan masyarakat terburuk dalam satu abad ini,” ujarnya. “Kita semua harus berada dalam tim yang sama melawan musuh yang sama: Covid-19.”

Keesokan harinya, demonstrasi serupa terjadi di Minnesota. Para pengunjuk rasa, yang berkumpul di depan rumah dinas Gubernur Minnesota Tim Walz di Saint Paul, menuntut agar bisnis dibuka kembali meski di tengah pandemi. Massa melambaikan poster bertulisan “Tanah Kebebasan” dan “Kebebasan dari Rasa Takut” ketika melewati rumah gubernur di Summit Avenue itu.

Grup Facebook penyelenggara protes, Liberate Minnesota, mengatakan ribuan nyawa terancam oleh kebijakan tetap di rumah. Kelompok itu juga mengutip pernyataan Presiden Donald Trump yang mengatakan bahwa upaya untuk mengobati virus ini tidak boleh lebih buruk daripada penyakitnya.

Seperti halnya di Michigan, banyak pengunjuk rasa di Minnesota sebagian besar tidak mengenakan masker dan tak mempraktikkan pedoman jaga jarak aman. Hingga 24 April lalu, negara bagian ini mencatat 2.942 kasus warga terpapar corona dan 200 orang meninggal.

Pada hari yang sama terjadi demonstrasi di Virginia oleh kelompok ReOpen Virginia. Mereka mendatangi rumah kediaman Gubernur Ralph Northam di Richmond Square untuk meminta agar pembatasan gerak dicabut atau dilonggarkan. Seperti halnya di Michigan dan Minnesota, sebagian besar pengunjuk rasa tidak memakai masker dan tidak menerapkan jaga jarak aman.

Northam menutup sekolah, membatasi kegiatan restoran dan layanan pengiriman, serta memerintahkan penduduk tinggal di rumah kecuali untuk kebutuhan penting. Juru bicara gubernur, Alena Yarmosky, menyatakan pemerintah menghormati hak berpendapat warganya, tapi akan mengambil keputusan berdasarkan sains, data, dan kesehatan masyarakat. “Sebagai seorang dokter dan sebagai gubernur, prioritas utamanya adalah akan terus menjaga keamanan warga Virginia,” tuturnya. Hingga 24 April lalu, ada 10.998 kasus Covid-19 dan 372 orang yang meninggal di sana.

Demonstrasi di tiga negara bagian yang dipimpin para gubernur dari Partai Demokrat itu berlanjut. Ini terutama setelah ada reaksi yang bernada mendukung dari Donald Trump, yang selama ini dikenal meremehkan virus corona dan sangat gusar terhadap dampak ekonominya. Trump ingin pembatasan gerak segera dicabut, tapi menyadari bahwa kewenangan untuk itu berada di tangan gubernur.

Jumat pagi, 17 April lalu, Trump mencuit di akun Twitter miliknya yang berisi seruan “Bebaskan Michigan”, “Bebaskan Minnesota”, dan “Bebaskan Virginia”. Setelah itu, demonstrasi pecah di sejumlah kota. Esoknya, unjuk rasa terjadi di San Diego, California; Columbus, Ohio; Annapolis, Maryland; dan Austin, Texas. Demonstrasi kemudian juga terjadi di Denver, Colorado, dan Olympia, Washington, DC.

Jay Inslee, Gubernur Washington dari Partai Demokrat, menilai ucapan dan seruan Trump kepada orang-orang untuk “membebaskan” negara itu juga dapat mengarah pada kekerasan. Dalam wawancara dengan ABC News, ia menilai cuitan itu berbahaya karena beberapa orang mungkin menganggapnya sebagai dorongan untuk mengabaikan perintah tetap di rumah.

Presiden Brazil Jair Bolsonari memberikan pidato di depan pendukungnya yang menentang karantina wilayah, di Brasillia, Brazil, 19 April 2020./REUTERS/Ueslei Marcelino

Inslee tidak habis pikir melihat sikap Presiden Amerika Serikat yang pada dasarnya mendorong pembangkangan terhadap undang-undang yang dirancang untuk melindungi kesehatan masyarakat. “Itu berbahaya karena dapat mengilhami orang untuk mengabaikan hal-hal yang sebenarnya bisa menyelamatkan hidup mereka,” katanya.

Gubernur Maryland Larry Hogan mengatakan dia memahami rasa frustrasi orang-orang yang ingin segera membuka semuanya. “Tapi, lihat, kami melakukan semua yang kami bisa untuk membuka kembali dengan cara yang aman,” ujarnya kepada CNN. Hogan menilai sikap Trump itu sama sekali tidak membantu karena seperti “mendorong demonstrasi dan mendorong orang untuk menentang kebijakan presiden sendiri”.

Ketika ditanyai tentang cuitan Presiden yang berisi kata “bebaskan” untuk tiga negara bagian itu, Wakil Presiden Mike Pence mengatakan, “Tidak ada yang ingin membuka kembali Amerika lebih dari Presiden Donald Trump.”

Protes di sejumlah kota itu tak sepenuhnya mencerminkan suara mayoritas orang Amerika. Dalam jajak pendapat yang dirilis pada pekan kedua April lalu oleh Politico, 81 persen responden mengatakan negara “harus terus menempuh jarak sosial selama diperlukan untuk mengerem penyebaran virus corona, bahkan jika itu berarti kerusakan berkelanjutan pada ekonomi”. Dalam jajak pendapat NBC, 60 persen responden menyatakan lebih peduli terhadap virus daripada ekonomi.

New York Times mencatat jumlah demonstran itu mungkin kecil, yaitu hanya sebagian kecil dari 331 juta penduduk Amerika. Alasan mereka untuk datang berdemonstrasi juga berbeda-beda. “Tapi setidaknya beberapa tampaknya mewakili sentimen nyata dan mendesak: tinggal di rumah tanpa pekerjaan atau penghasilan itu berat,” tulisnya.

Sikap Trump sebagai presiden yang kerap tak sejalan dengan kebijakan gubernur negara bagian mirip dengan Presiden Brasil Jair Bolsonaro. Hingga 24 April lalu, Brasil mencatat 50.036 kasus dengan 3.331 kematian. Ini merupakan kasus dan kematian terbanyak akibat corona yang dialami negara Amerika Latin.

Seperti halnya Trump, Bolsonaro meremehkan wabah ini dengan menyebutnya sebagai “berbeda sedikit dari flu dan pandemi sebagai fantasi yang dipromosikan media”. Dia juga menilai kebijakan pembatasan gerak untuk penyebaran virus yang diambil negara bagian sebagai tindakan “histeris”.

Pada Senin, 20 April lalu, Bolsonaro mengeluarkan perintah eksekutif yang menghapus kewenangan pembatasan gerak oleh negara bagian. Mahkamah Agung mencabut perintah itu. Enam hari kemudian, dia mengeluarkan dekrit yang mengecualikan gereja dan rumah lotre dari pembatasan. Keputusan ini lagi-lagi dibatalkan oleh pengadilan federal pada keesokan harinya.

Bolsonaro bahkan ikut bergabung dengan ratusan demonstran di luar markas tentara di Ibu Kota Brasilia yang memprotes perintah tetap tinggal di rumah oleh gubernur negara bagian. Sekitar 600 demonstran itu meminta tentara campur tangan menangani pandemi dan menuntut penutupan Kongres.

Bolsonaro, mantan kapten militer, terus-menerus mengkritik karantina parsial yang diterapkan para gubernur, termasuk di Sao Paulo dan Rio de Janeiro. Dia juga memecat Menteri Kesehatan Luiz Henrique Mandetta pada 16 April lalu karena perbedaan pandangan soal bagaimana menangani virus.

Selama pidatonya di depan massa demonstran, yang diselingi dengan batuk, Bolsonaro tidak menanggapi permintaan demonstran untuk adanya intervensi militer atau menutup Kongres. “Anda harus berjuang untuk negara Anda. Andalkan presiden Anda untuk melakukan apa yang diperlukan sehingga kami dapat menjamin demokrasi dan apa yang paling kita sayangi, kebebasan kita,” katanya.

Sikap Bolsonaro ini memicu kecaman. Anggota Kongres, Tabata Amaral, menuduhnya kerap berbohong dan menggunakan media sosial untuk menyebarkan berita palsu. “Dengan memberi tahu orang-orang untuk pergi ke luar, pergi sendiri menyambut orang banyak seperti yang dia lakukan akhir pekan lalu, itu membahayakan nyawa orang,” ujarnya.

ABDUL MANAN (NBC, KTSP, WASHINGTON POST, NEW YORK TIMES, VOX, AL JAZEERA)

Selalu ada yang tersembunyi di balik peristiwa. Investigasi Tempo menembus batas untuk mengungkapkannya buat Anda.
Silakan register untuk mendapatkan akses 4 artikel gratis, atau langsung berlangganan dan nikmati sajian informasi berkualitas khusus untuk Anda.

2020-09-29 01:47:02

Brasil Covid-19 Virus Corona Donald Trump Amerika Serikat

Internasional 3/3

Sebelumnya Selanjutnya

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB