Internasional 4/5

Sebelumnya Selanjutnya
text

Terjajah di Tanah Sendiri

Warga Palestina di Yerusalem Timur dan Tepi Barat terus tergusur dari tempat tinggal mereka. Permukiman Yahudi bertambah pesat di era Benjamin Netanyahu.

i Warga Palestina mengamati alat berat Israel menghancurkan permukiman Palestina di sekitar Hebron, Tepi Barat, 1 Mei 2019./ Reuters/Mussa Qawasma
Warga Palestina mengamati alat berat Israel menghancurkan permukiman Palestina di sekitar Hebron, Tepi Barat, 1 Mei 2019./ Reuters/Mussa Qawasma

 

Dua hari berturut-turut ten-tara Israel menggeruduk ka-wasan Silwan di Yerusalem Timur. Mereka mendatangi ling-kungan permukiman yang di--do-minasi penduduk Palestina di ping-giran Kota Tua Yerusalem itu, mem-bongkar rumah-rumah permanen, dan me-mukul mundur warga yang mencoba menghentikan mereka.

Mengenakan atribut lengkap, pasukan Israel yang jumlahnya tak sampai belasan orang itu mengiringi sebuah buldoser lapis baja dan menghampiri dua rumah, awal Mei lalu. Lengan baja buldoser kuning itu kemudian menghantam dan merobohkan tembok serta atap tempat tinggal kakak-adik Anas dan Qusay Burqan.


Anas dan Qusay sekeluarga mencoba sekuat tenaga menghalangi penghancuran rumah mereka. Para tetangga ikut turun ke jalan untuk memprotes dan mencegah pembongkaran. Namun upaya itu sia-sia. Pasukan Israel tidak hanya mengusir sang penghuni rumah, tapi juga menghalau te-tangganya dengan menembakkan peluru karet, gas air mata, dan semprotan merica.

161477512156

Tentara bahkan tak segan memukuli rakyat yang melawan. Bentrokan dengan tentara membuat tujuh pemuda Palestina terluka hari itu. “Pasukan Israel menerobos ma-suk ke rumah-rumah dan secara fisik me-nyerang keluarga Burqan, termasuk wanita dan anak-anak,” kata seorang warga di area Wadi Yassul itu seperti dilansir Palestine Chronicle.

Keluarga Burqan bukan satu-satunya ke-luarga Palestina di Yerusalem Timur yang tak berdaya meratapi kediaman mereka luluh-lantak dihancurkan buldoser. Di Wadi Yassul, yang dihuni 500 penduduk Pa--lestina, alat-alat berat yang menderu dan merobohkan rumah-rumah penduduk te-lah menjadi pemandangan umum se--bulan terakhir.

Beberapa hari setelah tempat tinggal Anas dan Qusay Burqan diambrukkan, giliran 60 rumah lain di kawasan berumput yang hanya berjarak 1 kilometer dari Masjid al-Aqsa itu menghadapi pembongkaran. Tin-dakan ini terjadi selepas Mahkamah Agung Israel menolak permohonan ban-ding warga Palestina terhadap perintah pem-bongkaran. Menurut Mahkamah, ru-mah-rumah di sana dibangun tanpa izin di area terbuka hijau yang telah ditunjuk pemerintah kota.

Masyarakat menilai zonasi taman itu sebagai upaya pemerintah memaksa war-ga Palestina keluar dari Yerusalem Timur, yang dianggap Israel sebagai bagian tak terpisahkan dari ibu kotanya. “Mereka tidak ingin memberi kami izin, itu intinya. Ini penggusuran,” kata Nasser Burqan, 42 tahun, yang rumah sepupunya juga di-bongkar pada bulan ini.

Sejak merebut Yerusalem Timur dan Tepi Barat dalam Perang Enam Hari pada 1967, Israel menempatkan sekitar 700 ribu warganya di sejumlah permukiman di dua wilayah tersebut. Komunitas internasional telah lama mengecam ulah Negeri Zionis itu, yang dianggap tengah menduduki tanah Palestina. Tindakan Israel dicap ile-gal dan disengaja untuk menghalangi berdirinya negara Palestina.

Permukiman yang didirikan Israel me-nampung komunitas Yahudi. Beberapa pemukim pindah ke sana karena alasan agama. Mereka ingin mengklaim wilayah Tepi Barat sebagai tanah Israel. Versi lain adalah perumahan di kawasan per-mu-kiman cenderung murah dan disubsidi. Se--jumlah permukiman adalah komunitas besar yang menampung puluhan ribu orang dan terlihat seperti pinggiran kota yang tengah dibangun. Tapi sebagian terlihat seperti kompleks gubuk semipermanen.

Wilayah yang Menyusut

Berdasarkan data B’Tselem, organisasi nonpemerintah Israel yang berjuang me-lawan pendudukan, lebih dari 200 per-mukiman Israel dibangun di Tepi Ba-rat dan Yerusalem Timur selama 1967-2017. Sejak 2006 sampai 30 April lalu, Israel menghancurkan setidaknya 1.421 unit rumah Palestina di Tepi Barat dan me-nyebabkan 6.264 orang, termasuk 3.152 anak-anak, kehilangan tempat tinggal.

Bangsa Palestina, yang mengklaim Tepi Barat dan Yerusalem Timur sebagai ba-gian dari negara masa depan mereka, meng-anggap pemukiman itu sebagai bentuk perampasan tanah dan penjajahan gaya baru. “Jika pendudukan terus terjadi, suatu saat Palestina akan hilang dan menjadi milik Israel,” tutur Duta Besar Palestina untuk Indonesia, Zuhair al-Shun, kepada Tempo, Jumat, 17 Mei lalu.

Masalahnya, kebijakan pendudukan Israel makin keras di era Perdana Menteri Ben-jamin Netanyahu. Di tangan pemimpin partai konservatif Likud yang kembali me-menangi pemilihan umum pada bulan lalu itu, solusi dua negara untuk mengakhiri konflik antara Israel dan Palestina tambah jauh panggang dari api. Apalagi Netanyahu dalam kampanyenya bersumpah akan memperluas kedaulatan negaranya dengan mencaplok semua area permukiman di Tepi Barat dan Yerusalem Timur.

“Saya tidak akan membedakan antara blok pendudukan dan permukiman ter-isolasi. Saya tidak bakal memindahkan kedaulatan kepada Palestina,” ujar Ne-tanyahu seperti dilaporkan The Associated Press. Ini tentunya bukan tugas yang mudah bagi Netanyahu, mengingat ada 2,8 juta penduduk Palestina yang mendiami kawasan Tepi Barat. Adapun pemukim Yahudi hanya sekitar 400 ribu orang.

Tapi Netanyahu mendapat momentum dengan berkuasanya Donald Trump di Amerika Serikat. Trump menjelma men-jadi sekutu terkuat Netanyahu setelah era Barack Obama. Keputusan Trump mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel dan memindahkan kantor kedutaan Amerika dari Tel Aviv adalah bentuk konkret dukungan itu. “Pemerintah Trump tak diragukan lagi adalah pemerintah Ame-rika paling ramah sepanjang masa,” ucap Oded Revivi, kepala utusan asing dewan pemukim Yesha.

Sebaliknya, tahun-tahun kepemimpinan Barack Obama menjadi masa yang sangat sulit bagi Israel. Saat itu, Obama pengkritik keras kebijakan perluasan permukiman oleh otoritas Israel. Hubungannya dengan Netanyahu juga terbilang dingin.

Kini penduduk Palestina di Yerusalem Timur dan Tepi Barat harus siap meratap ketika tiba gilirannya kehilangan tanah. Ini seperti yang dialami Ezz Burqan, salah satu warga Wadi Yassul yang rumahnya diratakan buldoser Israel bersama 59 rumah lain pada awal Mei lalu. “Hanya ru-mah orang-orang Palestina yang digusur,” kata pria paruh baya ini, pasrah.

MAHARDIKA SATRIA HADI (MIDDLE EAST MONITOR, ABC NEWS, AL JAZEERA)

Selalu ada yang tersembunyi di balik peristiwa. Investigasi Tempo menembus batas untuk mengungkapkannya buat Anda.
Silakan register untuk mendapatkan akses 4 artikel gratis, atau langsung berlangganan dan nikmati sajian informasi berkualitas khusus untuk Anda.

Reporter Mahardika Satria Hadi - profile - https://majalah.tempo.co/profile/mahardika-satria-hadi?mahardika-satria-hadi=161477512156



Internasional 4/5

Sebelumnya Selanjutnya

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB