Internasional 3/3

Sebelumnya Selanjutnya
text

Jerat untuk Tiga Pembisik Trump

Satu per satu orang dekat Donald Trump terseret kasus hukum. Terkait dengan dugaan campur tangan Rusia dalam pemilihan umum Amerika.

i

DALAM sekali gebuk, tiga incaran Robert Mueller terciduk. Mereka adalah Paul Manafort, Richard "Rick" Gates, dan George Papadopoulos. Senin pekan lalu, tiga bekas pembisik Presiden Amerika Serikat Donald Trump itu terkena jerat hukum. Mueller akhirnya bisa bernapas cukup lega setelah penyelidikan selama hampir satu setengah tahun.

Sejak didapuk sebagai penyelidik khusus Departemen Kehakiman, Mei tahun lalu, Mueller mengemban tugas yang tak mudah. Ia harus mengusut dugaan campur tangan Rusia dalam pemilihan umum Presiden Amerika Serikat pada 2016. Bekas Direktur Biro Penyelidik Federal (FBI) itu juga kudu membuktikan tudingan keterkaitan anggota tim kampanye Trump dengan Kremlin.

Upaya Mueller berbuah setelah ia bisa menyeret Manafort dan Gates. "Meski tidak secara langsung melibatkan Presiden, langkah Mueller membuka kemungkinan adanya kolusi antara pembantu kampanye Trump dan Kremlin," begitu dikutip Politico. Senin pekan lalu, Departemen Kehakiman menerbitkan surat dakwaan untuk Manafort dan Gates.


Nama Manafort muncul sebanyak 122 kali dalam surat dakwaan yang diteken Mueller pada 27 Oktober lalu. Dalam dokumen tersebut, Mueller merinci 12 dakwaan terhadap Manafort dan Gates: pencucian uang, memberi keterangan palsu, hingga konspirasi melawan Negeri Abang Sam. "Manafort dan Gates menghasilkan lebih dari US$ 75 juta (sekitar Rp 1 triliun) sebagai hasil kerja mereka di Ukraina," begitu sebagian isi dakwaan tersebut.

161827728030

Mueller, dalam dakwaan itu, menuduh Manafort dan Gates telah melanggar undang-undang lobi, pajak, dan perbankan. Tudingan itu beranjak dari pekerjaan Manafort dan Gates untuk sejumlah politikus dan partai pro-Rusia di Ukraina sepanjang 2006-2015. Di antara klien Manafort itu adalah mantan Presiden Ukraina, Viktor F. Yanukovych. Pada 2014, pergolakan politik di Ukraina membuat Yanukovych terguling. Dengan bantuan pasukan keamanan Presiden Rusia Vladimir Putin, Yanukovych kabur ke Negeri Beruang Merah.

Manafort dan rekan bisnisnya, Gates, serta Papadopoulos bukan nama asing di panggung politik Amerika. Manafort, 68 tahun, adalah bekas ketua tim kampanye Trump. Sementara itu, Papadopoulos pernah menjadi penasihat kebijakan luar negeri Trump selama kampanye. Penyelidik federal Amerika menduga dinas intelijen Rusia telah menggunakan perantara untuk menghubungi Papadopoulos guna meraup pengaruh dalam kampanye Trump.

"Mereka menawarkan ’rahasia kotor’ tentang Hillary Clinton pada April 2016 dalam bentuk ’ribuan surat elektronik’," kata seorang penyelidik, seperti diberitakan The New York Times. Hillary adalah kandidat Partai Demokrat yang menantang Trump dalam pemilihan presiden tahun lalu. Trump, yang mencalonkan diri dari Partai Republik, sukses menumbangkan Hillary.

Sejak FBI mengusut kasus ini pada Juli 2016, dugaan campur tangan Rusia terus bergulir. Hillary menuding Trump. Trump menuduh Hillary. Polah keduanya mewarnai hari demi hari kampanye. Saat itu FBI dipimpin James Comey, yang belakangan dipecat Trump. Setelah Trump masuk Gedung Putih, pengusutan meluas di Kongres. Dewan Perwakilan Rakyat dan Senat menggelar pula penyelidikan dugaan intervensi Kremlin dalam pemilihan umum Amerika.

Satu per satu orang dekat Trump disorot FBI dan badan intelijen. Selain membidik Manafort, FBI mengincar Carter Page dan Roger Stone, keduanya penasihat politik Trump selama kampanye, serta Michael Flynn, eks penasihat keamanan nasional. Belakangan, anak lelaki Trump, Donald Trump Jr., dan menantunya, Jared Kushner, juga masuk radar FBI.

Papadopoulos ditangkap di Bandar Udara Internasional Dulles, Virginia, Juli lalu. Saat itu, dia baru pulang dari luar negeri. Dua bulan kemudian, ia didakwa melakukan pencucian uang, penggelapan pajak, dan penipuan serta gagal mendaftar sebagai agen entitas asing. Papadopoulos orang pertama yang terkena jerat pidana dalam kasus dugaan keterkaitan tim kampanye Trump dengan orang-orang yang mengaku sebagai perantara Kremlin.

Dalam persidangan, Senin pekan lalu, Papadopoulos mengaku bersalah karena telah memberikan pernyataan palsu kepada agen FBI. Peristiwa itu terjadi saat dia menjalani pemeriksaan pada 5 Oktober lalu. "Papadopoulos salah menggambarkan interaksinya dengan ’orang asing’ yang membahas ’rahasia kotor’ tentang kandidat presiden dari Partai Demokrat, Hillary Clinton," ujar seorang agen FBI yang menjadi saksi dalam persidangan.

SEKITAR pukul 14.45, Senin pekan lalu, Paul Manafort dan Richard Gates hadir dalam sebuah persidangan di pengadilan distrik Washington, DC. Ruang sidang IV itu dijejali juru warta dan puluhan penonton. Didampingi seorang agen federal, Manafort memasuki ruang sidang dengan kedua tangan terlipat di belakang punggungnya. Langkah kakinya mantap.

Kepada hakim Deborah Robinson, Manafort menyatakan keberatan terhadap dakwaan yang dilayangkan Departemen Kehakiman. "Kami tidak bersalah atas semua tuduhan," kata pengacara Manafort, Kevin Downing. Manafort terlihat menyimak sambil terdiam. Giliran pengacara Gates yang mengajukan pembelaan serupa. Seperti Manafort, Gates tidak bersuara. Ia hanya duduk sambil menggenggam tangan di atas meja.

Sejurus kemudian, hakim Robinson menetapkan Manafort dan Gates sebagai tahanan rumah. Keduanya diperintahkan untuk menyerahkan paspor. Hakim juga menyetujui permintaan Departemen Kehakiman dan menetapkan jaminan sebesar US$ 10 juta (sekitar Rp 135 miliar) untuk Manafort dan US$ 5 juta (setara dengan Rp 67 miliar) untuk Gates. Kepada Manafort dan Gates, hakim bertanya apakah mereka setuju dengan penetapan tahanan rumah dan jaminan. "Saya bersedia," ujar Manafort, seperti dikutip The Guardian. Gates juga.

Selepas sidang, Manafort meninggalkan gedung pengadilan dengan kedua tangan terlipat di belakang punggung. Jika semua dakwaan terbukti, dia terancam hukuman 80 tahun penjara. Adapun Gates diancam hukum 70 tahun bui. Namun pengacara Manafort punya argumen. "Presiden Donald Trump benar," kata Downing. "Tidak ada bukti bahwa kampanye Trump berkolusi dengan pemerintah Rusia."

Downing berdalih bahwa aktivitas Manafort selama di Ukraina bertujuan mendorong demokrasi dan membantu negeri bekas pecahan Uni Soviet itu mendekat ke Amerika dan Uni Eropa. "Kegiatan itu berakhir pada 2014, dua tahun sebelum Manafort bekerja dalam tim kampanye Trump," ujarnya. Dia juga membantah kabar bahwa kliennya menyembunyikan duit dengan menempatkan uang di sejumlah rekening di Siprus, salah satu surga pajak.

Trump, yang kerap menyangkal adanya campur tangan Rusia, tak mau ketinggalan berkomentar. Selepas surat dakwaan Manafort dan Gates terungkap, pria 71 tahun itu mencuit di Twitter. "Maaf, tapi ini telah terjadi bertahun-tahun lalu, sebelum Paul Manafort menjadi bagian dari tim kampanye Trump. Namun mengapa perhatian tidak mengarah ke Hillary dan Demokrat?" tulisnya. "Juga tak ada kolusi."

Namun Robert Mueller, dalam surat dakwaan Manafort dan Gates, menyuguhkan bukti berbeda. Dokumen itu memang tak menyebut "Trump" atau "Pemilu 2016". Tapi di dalamnya tercantum rinci kegiatan bisnis Manafort dan Gates, termasuk daftar 32 nama perusahaan cangkang yang dimiliki dan dikendalikan mereka. Ada 17 entitas yang tercatat di beberapa negara bagian di Amerika, 12 di Siprus, dan 3 di negara lain.

Cuitan Trump tak sepenuhnya keliru. Di Amerika, kolusi bukan sebuah kejahatan, kecuali tindakan itu "naik kelas" menjadi spionase atau pengkhianatan. Namun Mueller dan timnya telanjur tancap gas. "Kasus Papadopoulos ’bagian kecil’ dari investigasi berkelanjutan skala besar," kata Aaron Zelinsky, jaksa yang mewakili kantor Mueller, Oktober lalu. Bukan mustahil dakwaan Manafort dan Gates hanyalah puncak gunung es.

Mahardika Satria Hadi (mother Jones, Cnn, Politico, The New York Times)


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161827728030



Internasional 3/3

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.