Intermezzo 1/3

Sebelumnya Selanjutnya
text

Broederliefde: Surat-surat Vincent kepada Theo

Sekitar 820 pucuk surat ditulis Vincent buat adiknya. Orang yang paling dipercayainya.

i Broederliefde: Surat-surat Vincent kepada Theo
Broederliefde: Surat-surat Vincent kepada Theo

SEBENARNYA saya ini tidak punya teman, kecuali Anda. Dan kalau saya merasa begitu pedih, Andalah yang selalu muncul dalam ingatan."

Selarik kalimat dari surat Vincent van Gogh kepada adiknya, Theo van Gogh, itu dikirim dari Den Haag, Belanda, pada 1883. Surat tersebut bernada resmi. Vincent menyapa adiknya dengan "u", yang berarti "Anda" dan bukan "jij" alias "kamu" atau "kau".

Vincent van Gogh dikenal sebagai orang yang sangat suka menulis surat. Sampai sekarang, bisa dihimpun sekitar 820 pucuk surat, yang sebagian besar-sekitar 650 pucuk-ditulis kepada Theo, adik dan orang yang paling dipercayainya. Kepada sang adik, Vincent tidak hanya menulis surat, tapi juga mengirim kartu pos untuk menghemat biaya prangko.


Dalam surat-menyurat, mereka tidak selalu menggunakan bahasa Belanda, bahasa ibu kedua Van Gogh bersaudara. Tidak jarang Vincent menulis dalam bahasa Inggris dan tentu saja bahasa Prancis. Kakak-adik Van Gogh juga fasih kedua bahasa itu, baik lisan maupun tulisan.

161813466448

Dari ratusan suratnya, dunia bisa mengenal Vincent van Gogh sebagai seorang pria yang cerdas dan penuh gelora, dengan cinta yang begitu meluap untuk seni rupa dan seni sastra. Tapi pada surat-suratnya juga bisa dibaca pandangan Vincent tentang kehidupan dan kematian serta tentang cinta dan kemanusiaan.

Baik Vincent maupun Theo mulai mencari nafkah dengan bekerja di galeri seni Goupil & Cie. Vincent mulai bekerja pada 1869 di Den Haag, sedangkan Theo mulai bekerja di galeri seni yang sama pada 1873 untuk kantor di Brussels, Belgia.

"Aku senang kita berdua sekarang bekerja untuk galeri yang sama. Tapi Anda juga harus sering ke museum. Sebaiknya Anda juga berkenalan dengan karya-karya lama. Dan kalau ada waktu, sebaiknya juga Anda bacai buku-buku seni. Tapi jangan lupa pelbagai majalah seni," begitu terbaca pada surat Vincent kepada Theo yang dikirim dari Den Haag pada 19 November 1873.

Vincent bekerja untuk galeri seni Goupil & Cie selama tujuh tahun sampai keluar pada 1876. Semula dia bekerja di Den Haag, tapi kemudian juga di London, Inggris, dan Paris, Prancis. Setelah beberapa tahun di Brussels, Theo van Gogh pindah ke Paris. Mulai 1881, ia menjadi manajer pada cabang Boulevard Montmartre (salah satu bilangan di Paris).

"Mari kita saling mendukung satu sama lain, mari kita cari broederliefde, cinta kakak-adik," demikian surat Vincent kepada Theo pada April 1877.

Selain mengirim surat kepada Theo, dia mulai menyertakan beberapa lukisan karyanya sendiri, antara lain lukisan Ramsgate, kota peranginan Inggris yang ramai pengunjung. Sekembali dari Inggris, Vincent bekerja di sebuah toko buku di Dordrecht. Sebelum surat tentang "cinta kakak-adik" tersebut, dari kota dekat Rotterdam ini, Vincent, pada Februari 1877, kepada adiknya menulis, "Theo yang kuhargai, saat-saat kita bersama dulu begitu cepat berlalu. Jalan kecil di belakang stasiun tempat kita melihat matahari terbenam ke balik lapangan akan saya lalui lagi dengan ingatan kepada Anda."

l l l

SETELAH tiga bulan bekerja sebagai pembantu di toko buku, Vincent berniat menjadi pendeta. Saat diterima untuk menjalani masa percobaan sebagai pendeta, Vincent berkabar kepada adiknya, "Di Belgia selatan, ada sebuah wilayah bernama Le Borinage. Sebagian besar penduduknya bekerja di beberapa tambang batu bara yang ada di sana. Dengan senang hati aku berangkat ke sana sebagai pendeta."

Vincent hidup bersama para buruh tambang yang kebanyakan miskin. Mereka menjuluki Vincent "Kristus pertambangan". Vincent menyumbangkan semua barang miliknya dan membacakan Injil tatkala mengunjungi buruh tambang atau keluarga mereka yang sakit. Walau begitu, gereja yang mempekerjakannya menganggap Vincent tidak cocok sebagai pendeta. Sesudah masa percobaan, kontraknya sebagai pendeta tidak diperpanjang lagi. Akibatnya, Vincent harus mencari pekerjaan lain.

Ia pun kembali kesulitan memperoleh pekerjaan. Sebaliknya, dengan karier yang terus menanjak dan gaji yang baik, Theo sementara itu mulai berperan sebagai adik yang memberi petuah kepada kakaknya. Menurut dia, Vincent harus mencari pekerjaan lain. Mungkinkah petuah ini yang menyebabkan hubungan kedua kakak-adik itu merenggang?

Pada musim panas 1880 (persisnya 20 Agustus 1880), Vincent kembali menulis surat kepada adiknya. "Karena bagimu lebih baik kalau aku berbuat sesuatu ketimbang tidak berbuat apa-apa, maka sekarang kutulis surat ini kepadamu. Mungkin ini kesempatan baik untuk memulihkan saling pengertian dan kehangatan kita, sehingga kita akan saling bermanfaat satu sama lain."

Awal 1881, Vincent kembali hidup bersama orang tuanya di Etten, Brabant utara di Belanda selatan. Sementara itu, di Paris, Theo sudah sampai pada posisi manajer di galeri seni Goupil & Cie. Gajinya besar, sehingga ia dapat mengirim uang kepada Vincent. "Dari Ayah, kudengar bahwa, tanpa kuketahui, telah kaukirim uang untukku. Itu akan membuatku mampu bertindak tegas dalam merencanakan masa depan. Harap kauterima ungkapan terima kasihku," demikian Vincent menulis surat kepada adiknya.

Vincent bergelut dengan tekadnya untuk menjadi orang bermakna bagi masyarakat-sesuatu yang selalu ditanamkan oleh orang tuanya sejak kecil. Mengikuti anjuran Theo, akhirnya Vincent memutuskan menjadi seniman perupa. Dalam surat kepada adiknya, ia menulis tentang proses belajarnya. Bahkan, seolah-olah menerima kenyataan bahwa adiknya lebih bijak, Vincent juga meminta nasihat. "Aku ingin sekali mempelajari lukisan sosok ini. Bagaimana menurutmu sketsaku ini? Ini baru gagasan, baguskah menurutmu?" Di sini terlihat bagaimana Vincent memperlakukan adiknya sebagai orang yang lebih tahu seni rupa. Walaupun tidak lagi menggunakan "u" (Anda), surat ini jelas menunjukkan betapa Vincent menghargai adiknya, bahkan menganggapnya lebih berpengetahuan di bidang seni rupa.

Pada akhir 1883, Vincent memutuskan pulang kampung dan kembali hidup bersama orang tuanya, kali ini di Nuenen, Belanda selatan. Ia mengarahkan perhatian untuk melukis petani dan membuat kerajinan. Theo berpendapat bahwa lukisan-lukisan yang dia terima dari kakaknya agak gelap-sangat berbeda dengan lukisan-lukisan modern Paris yang tiap hari digaulinya. Vincent menjawab:

"Tampaknya benar juga apa yang kaukatakan. Karya-karyaku harus lebih baik lagi, tapi begitu juga energimu untuk menjualnya, seharusnya juga lebih besar lagi. Walau begitu, Theo, tak perlulah kau berhemat sepanjang itu berkaitan dengan uang. Asalkan, sebagai teman dan adik, kau dapat bersimpati terhadap hasil kerjaku, pantas dijual atau tidak. Kalau benar ini yang terjadi, bahwa dalam hal ini aku boleh memperoleh simpatimu, yang lainnya tidak penting lagi bagiku." Surat ini ditulis Vincent pada musim panas 1883.

Namun, tidak sampai setahun kemudian, ia mengirim surat yang bernada pahit. "Belum pernah berhasil kaujual satu pun karyaku. Belum pernah kaujual dengan harga mahal atau dengan harga murah sekalipun. Sebenarnya juga belum pernah kaucoba. Lihat saja, aku tidaklah marah, tapi kita tidak perlu saling merendahkan," begitu isi surat Vincent kepada Theo pada Maret 1884.

l l l

PADA suatu hari, Theo mengirim surat yang berisi usul supaya kakaknya datang ke Paris. Dengan begitu, sang kakak bisa berkenalan dengan dunia seni rupa Prancis yang jauh lebih berwarna-warni. Hidup bersama Vincent, yang datang ke apartemennya pada Maret 1886, ternyata bukan sesuatu yang mudah bagi Theo. Menurut dia, kakaknya memiliki dua kepribadian. Kepribadian pertama adalah sangat berbakat, halus, dan lembut. Sedangkan kepribadian kedua, mencintai diri sendiri dan keras hati. Tapi akhirnya kakak-adik ini dapat juga saling menerima. Bersama-sama mereka mengumpulkan banyak gambar cetakan dari Jepang. Bagi Vincent, gambar cetakan Jepang merupakan sumber inspirasi penting bagi karya-karyanya.

Tidak sampai dua tahun di Paris, pada awal 1888 Vincent ditimpa rasa bosan hidup di kota besar. Ia menempuh perjalanan kereta api sejauh 750 kilometer ke Prancis selatan dan meninggalkan adiknya di Paris. Vincent merasakan dorongan yang makin besar untuk terus berkarya. Kepada Theo, dia menulis, "Kurasakan hasrat untuk bekerja yang mendera batin dan melelahkan badan. Aku percaya suatu hari karya-karyaku akan laris. Tapi terhadapmu aku jelas ketinggalan dan kubelanjakan uang yang sebenarnya bukan hasilku bekerja. Perasaan itu kadang-kadang membuatku sedih."

Impian Vincent van Gogh adalah mendirikan kampung seniman di Prancis selatan. Di rumah kuning di Arles, dia ingin hidup dan bekerja bersama sekelompok seniman lain. Akhirnya cuma satu seniman yang datang: Paul Gauguin (1848-1903). Kedatangannya dibiayai Theo van Gogh. Vincent menerima Paul Gauguin dengan tangan terbuka. Kerja sama dua seniman ini berawal dengan penuh harapan. Tapi, tak lama kemudian, muncullah ketegangan. Baru pada awal Desember 1888, Gauguin sudah berpikir-pikir untuk pindah. Kepada adiknya, Vincent menulis, "Gauguin dan aku berbicara tentang Delacroix, tentang Rembrandt, dan seterusnya. Diskusi-diskusi itu semakin membuat kami tegang. Kadang-kadang, setelah berakhir, kepala ini terasa kosong, seperti baterai yang tidak bisa dipakai lagi."

Pada malam hari 23 Desember 1888, Vincent van Gogh tertimpa krisis kejiwaan. Dia begitu kebingungan sampai-sampai telinga kirinya dipotong. Keesokan harinya, Gauguin mengirim telegram kepada Theo. Malam harinya Theo naik kereta api ke Arles.

Kepada tunangannya, Jo Bonger, Theo menulis, "Kutemui Vincent di rumah sakit Arles. Ketegangan yang terlalu besar membuatnya tampak seperti orang yang terserang penyakit yang begitu gawat. Gangguan jiwa disertai demam yang begitu tinggi telah menyebabkannya melukai diri sendiri, sehingga dia harus dilarikan ke rumah sakit. Akankah dia gila terus?" Sementara itu, Vincent juga menulis surat kepada adiknya, "Aku masih akan dirawat di rumah sakit selama beberapa hari lagi. Walau begitu, aku berani beranggapan bahwa dengan pelan-pelan aku akan bisa pulang. Kepadamu sekarang kuminta satu hal: jangan lagi gelisah, karena itu akan terlalu banyak menyebabkan gelisah padaku."

Pada Januari 1889, Vincent meninggalkan rumah sakit Arles. Luka di telinganya sembuh, tapi jiwanya tetap goyah, belum juga pulih. Karena itu, kembali dia harus menjalani perawatan di rumah sakit. Khawatir terkena krisis baru, dia meminta dirawat di rumah sakit jiwa Saint-Rémy, dekat kota besar Avignon. Tentang ini, Theo bersurat kepada kakaknya, "Aku sedih karena kau belum juga sembuh. Walaupun jiwamu yang lemah itu tidak terbaca pada suratmu, tapi kenyataan bahwa kau sampai merasa perlu dirawat di rumah sakit jiwa, itu saja sudah cukup gawat."

Tatkala Theo menerima surat dari dokter Peyron yang merawat Vincent, langsung Theo bersurat, "Vincent yang kuhargai, dokter Peyron menulis bahwa kau kembali terkenal aanval penyakitmu. Kasihan sekali kau, kakakku. Duka laraku bertumpuk-tumpuk bahwa keadaanmu tidak membaik seperti seharusnya."

Pada musim semi 1890, Vincent van Gogh meninggalkan rumah sakit jiwa Saint-Rémy. Ia menuju Auvers-sur-Oise, sebuah kampung seniman di dekat Paris. Dalam perjalanan, dia sempat mampir menemui Theo serta istrinya, Jo, dan keponakan yang baru lahir, Vincent Willem. Semuanya tampak pulih seperti sediakala. Vincent begitu menikmati melukis alam di sekitar Auvers. Di kampung seniman Auvers-sur-Oise, Vincent van Gogh menginap di Auberge Ravoux. Itulah alamat terakhirnya. Dari penginapan ini, dia berkeliaran mencari obyek-obyek untuk dilukisnya.

Setiba di Auvers, Vincent menulis kepada adiknya, "Aku juga merasa terpukul, badai yang mengancam hidup kalian juga menekanku. Harus berbuat apa? Aku takut, tidak sangat takut, tapi sedikit takut. Takut bahwa aku akan menjadi ancaman bagi kalian karena kalian membiayai hidupku."

Ternyata masih ada bagian lain surat itu yang tidak dikirim Vincent kepada adiknya. Di situ antara lain tertera, "Sekali lagi ingin kukatakan kepadamu bahwa aku selalu berpendirian, kau itu lebih dari sekadar pedagang seni biasa di Corots. Melalui aku, kau sudah ambil bagian dalam terciptanya beberapa karyaku. Karya-karya itu akan tetap tenang di tengah keputusasaan menyeluruh. Karena memang begitulah kita berdua. Dan itu adalah semua, atau paling sedikit bagian terpenting yang akan kukatakan kepadamu pada saat krisis". Pada 27 Juli 1890, Vincent van Gogh menembak diri sendiri di dada.

Joss Wibisono, Pembantu Lepas Tempo Di Amsterdam


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161813466448



Intermezzo 1/3

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.