Kisah Debussy & Sari Oneng - Intermezzo - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Intermezzo 3/3

Sebelumnya Selanjutnya
text

Kisah Debussy & Sari Oneng

Claude Debussy dikenal sebagai komponis dunia yang terpukau oleh gamelan. Setelah dia mendengarkan gamelan, beberapa karya agungnya lebih mementingkan nuansa dan impresi. Itu bertolak belakang dengan musik romantik yang bergejolak dan meledak-ledak.

Tapi tak banyak yang tahu gamelan yang pernah dilihatnya dalam Exposition Universelle (pameran semesta) di Paris pada 1889 dan kemudian mempengaruhinya itu sesungguhnya adalah gamelan Sunda, bukan gamelan Jawa. Gamelan yang membikin terkesima Debussy itu kini bahkan masih ada di Sumedang.

Sepanjang tahun lalu, pemerintah Prancis memperingati 150 tahun Debussy dengan mengadakan konser Debussy di mana-mana. Tempo menulis "hubungan gelap" Debussy dengan gamelan tua Sunda yang mengantarkannya menjadi komponis "pemberontak".

i

Denting piano yang terdengar lamat-lamat itu membuka komposisi karya Claude Debussy bertajuk Pagodes (Pagoda). Irama piano itu bergerak lamban bagaikan aliran air sungai yang tenang. Musiknya mengalir pelan seperti tak diburu-buru waktu. Paduan nadanya terasa bebas mengambang dan berputar-putar seakan-akan tiada berujung.

Pagodes, nomor pertama dari kumpulan tiga komposisi piano Estampes, yang diciptakan Debussy pada 1903, merupakan pembaruan sangat penting di tengah musik aliran romantik yang memonopoli kuping Eropa saat itu. Komposisi yang ditawarkan Debussy lebih tenang dan lebih mementingkan nuansa. Itu sangat kontras dengan aliran musik romantik, yang begitu bergejolak dan meledak-ledak.

Pada setiap penggal nadanya, karya Debussy itu lebih menekankan improvisasi, bukan variasi melodi seperti musik Eropa, yang menggunakan tangga nada diatonik (tujuh nada).

Pagodes tak akan tercipta bila Debussy hari itu, di usianya yang ke-27 tahun, pada 1889 tak berdiri di depan stan Kampung Jawa di Exposition Universelle (pameran semesta) Paris, menyaksikan beberapa orang memainkan gamelan.

Pemerintah Prancis saat itu merayakan peresmian pendirian Menara Eiffel dan memperingati seabad Revolusi Prancis. Mereka mengadakan pameran akbar negara-negara dunia. Belanda, yang saat itu menjajah Indonesia, menampilkan stan Le Village Javanais (Kampung Jawa). Belanda memamerkan teh dari perkebunan Parakan Salak, Sukabumi, Jawa Barat. Sebagai hiburan, mereka mendatangkan orang-orang dari perkebunan itu memainkan seperangkat gamelan.

Dalam pameran yang berlangsung sepanjang enam bulan itu, sekitar 875 ribu orang mengunjungi stan Kampung Jawa. Debussy sangat terpukau oleh pertunjukan gamelan. Dia terkesan oleh keindahan melodi, resonansi, warna nada, dan ketukan dalam permainan gamelan itu.

Saking terpesonanya, Debussy berkali-kali mendatangi stan Kampung Jawa. Kabarnya, sekali datang ia menghabiskan waktu hingga berjam-jam menyaksikan pentas gamelan. Ia lantas menuliskan kesannya yang mendalam terhadap gamelan itu. "Struktur musik gamelan tidak membuka kesempatan ego individual menjadi musikus andal ala Barat. Bakat artistik dan teknik individu dalam musik gamelan menjadi elemen sekunder," ujarnya. "Keseluruhan harmoni musik gamelan menjadi inti dari musik itu, bukan permainan individual."

Sejak itulah gamelan menjadi sumber utama inspirasi estetik Debussy. Selain Pagodes, ada sejumlah karya sang komposer yang kental dengan warna nada pentatonik gamelan, seperti Fantaisie untuk piano dan orkestra, La fille aux cheveux de lin (Gadis Berambut Linen), Feuilles mortes­ (Daun-daun Kering), Nocturnes, dan La Mer (Laut).

1 1 1

Lahir di Saint Germain en Laye pada 22 Agustus 1862, Debussy memulai karier musiknya ketika berusia 12 tahun dengan menimba ilmu di Conservatoire National de Musique de Paris (Konservatorium Nasional Musik Paris). Semasa belajar di konservatorium itu, ia meraih penghargaan bergengsi Prix de Rome, berupa beasiswa mendalami musik di Roma, Italia, sekitar tiga tahun.

Namun, baru sekitar setahun berjalan, Debussy sudah tidak betah. Dia kembali ke Paris dan bertemu dengan penari Gabrielle Dupont, perempuan bermata hijau yang akrab disapa Gaby. Mereka berdua kemudian hidup bersama lebih dari lima tahun dan menjalani hidup ala bohemian.

Debussy boleh dibilang termasuk pria yang sulit berkomitmen. Dalam urusan asmara, ia juga dikenal sebagai tipe yang susah setia. Saat masih kumpul kebo dengan Gaby, ia malah memilih menikahi wanita lain, Rosalie "Lily" Texier, penjahit kostum. Sekitar empat tahun kemudian, Debussy jatuh hati pada Emma Bardac, penyanyi amatir dan istri seorang bankir.

Akhirnya, Debussy bercerai dengan Lily. Lalu Emma pun bercerai dengan suaminya demi Debussy. Bersama Emma, Debussy memiliki seorang putri bernama Claude-Emma—tapi Debussy memilih memanggil buah hatinya itu dengan Chouchou. Mereka kemudian tinggal di sebuah hotel particulier di Avenue Boulogne, yang kini menjadi Avenue Foch, Paris.

Pada November 1913, Debussy menggelar konser di Saint Petersburg, Rusia. Konsernya sukses besar. Dan di sana pula ia bertemu kembali dengan Sonia, kekasihnya semasa remaja. Sonia sempat berkata kepada Debussy bahwa mereka berdua telah banyak berubah. Tapi buru-buru Debussy menjawab bahwa hanya waktulah yang berubah, sedangkan mereka berdua tetaplah sama seperti dulu.

Begitulah. Terlepas dari romantika yang mewarnai lika-liku hidupnya, Debussy adalah seorang komposer yang sangat cemerlang. Sejak masih muda, dia selalu gelisah dan haus akan hal-hal baru. Pujangga Stéphane Mallarmé serta pelukis Manet dan Degas adalah sebagian orang yang kerap menjadi teman diskusinya. Ia juga sering menonton opera karya Richard Wagner, komposer besar musik romantik dari Jerman.

Di dalam hati kecilnya, Debussy tetap ingin menciptakan sesuatu yang berbeda dengan Wagner—yang karya-karyanya dianggap sebagai puncak musik romantik. Hingga akhirnya dia berjumpa dengan gamelan yang dipentaskan dalam pameran semesta itu.

Komposer Slamet Abdul Sjukur mengatakan gamelan merupakan jawaban dari pencarian Debussy akan musik yang merdeka dan bebas dari cengkeraman Wag­ner, yang saat itu sangat mendominasi Eropa. "Gamelan menjadi jawaban karena alat musik ini menentang pakem harmoni fungsional dan orkestrasi yang berat," kata Slamet, yang juga dosen musik.

Meski sangat mengagumi gamelan, Debussy tak lantas menirunya. Ia hanya menyerap intisari dan mengolahnya menjadi musik diri sendiri. Menurut Slamet, musik Debussy akan terlalu dangkal seandainya gamelan bisa dilacak dengan mudah pada setiap nada karya Debussy. "Gamelan mungkin hanya seutas sumbu dari ledakan pemberontakan Debussy terhadap Wag­ner," ujarnya.

Slamet mencontohkan Nocturnes, karya Debussy yang terdiri atas tiga bagian untuk orkes. Karya itu sama sekali tak berbunyi seperti gamelan, tapi justru di situlah terjadi persenyawaan Debussy dan gamelan. Slendro tersirat dalam bagian pertama dan ketiga, Nuages (Arak-arakan Awan) dan Sirénes (Paduan-Suara Putri-putri Duyung). "Keduanya bergerak lamban bagaikan tari bedaya yang bebas dari desakan waktu."

1 1 1

Memang, Debussy bukan satu-satunya komposer dunia yang karya-karyanya dipengaruhi musik tradisional, seperti gamelan. Sejumlah komposer lain dipengaruhi musik tradisional dari Asia. Contohnya Benjamin Britten, komposer dari Inggris. Salah satu karyanya, Prince of the Pagodas, komposisi untuk balet, terpengaruh oleh musik tradisional Bali.

Dalam adegan pertemuan putri dengan seorang pangeran dari negeri Pagoda, Britten menampilkan musik Bali dengan sangat polos, melalui instrumen-instrumen biola yang diperlakukan seperti rebab. Vibraphone memegang peran gender, ditambah dengan flute dan sebuah gong.

Tapi Debussy boleh dibilang berbeda. Dengan pengaruh gamelan, ia berhasil mendobrak pembaruan pada musik klasik Barat. "Debussy merupakan seorang komposer terkemuka. Dia adalah Beethoven-nya Prancis," kata Patrick Zygmanowski, pianis berbakat yang mengajar di Ecole Normale de Musique de Paris, yang diwawancarai Tempo.

Untuk para guru, tutur Zygmanowski, Debussy bagaikan sebuah sekolah, sumber tak terbatas bagi kemajuan para pianis. "Karya-karya Debussy membangkitkan rasa aneh, unik, dan mempesona," ujar pianis lulusan konservatorium Paris yang meraih beberapa penghargaan internasional ini.

Selain itu, Debussy seorang pengembara. Tidak ada yang tak terlewati di zamannya. "Ia menyerasikan setiap unsur baru yang dilihat atau didengarnya, seperti penemuannya akan musik gamelan Indonesia ketika dia mendatangi Exposition Universelle," ucap Zygmanowski, yang pernah menggelar konser di beberapa kota di Indonesia.

Sang komposer wafat pada 25 Maret 1918. Untuk menghormati sang pengembara bunyi itu, pemerintah Prancis menetapkan sepanjang 2012 sebagai perayaan 150 tahun lahirnya Debussy.

Banyak yang menduga, selama ini, Debussy saat berdiri di depan stan Kampung Jawa di Paris itu menyaksikan permainan gamelan Jawa. Namun, dari peringatan 150 tahun ini, yang juga dilakukan di Jakarta, kita menjadi tahu: di Paris, pada usianya yang ke-27 tahun itu, ternyata sekelompok penabuh gamelan yang dilihat dan didengar Debussy menyajikan gamelan Sunda, bukan gamelan Jawa.

Nada-nada gamelan Sundalah yang saat itu mempesonanya. Gamelan itu bernama gamelan Sari Oneng. Dan di Exposition Universelle Paris, bukan maestro-maestro atau empu-empu keraton yang memainkannya, melainkan petani-petani perkebunan Sukabumi. Mereka mengiringi empat penari asal Surakarta. Walaupun hanya dimainkan buruh-buruh, ternyata itu sudah memberikan efek luar biasa pada diri Debussy dan menjadi titik tolak pemberontakannya melawan romantisisme yang sangat mempengaruhi Eropa saat itu.

Nurdin Kalim, Nunuy Nurhayati, Dini Kusmana Massabuau (Paris)

2020-08-11 04:33:29


Intermezzo 3/3

Sebelumnya Selanjutnya

Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
Anda akan mendapatkan 8 artikel gratis setelah Register.

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Anda memiliki 3 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

8 artikel gratis setelah Register.