Inovasi 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text
i

Logam Pintar untuk Patah Tulang

Pemasangan pelat logam untuk penyembuhan patah tulang adalah cara yang lazim. Sayangnya, tak jarang baja tahan karat yang dipakai mengendor dan bergeser tempat. Alhasil, susah sekali tulang kembali ke bentuk semula dengan sempurna. Bagi orang yang mengandalkan fisik dalam profesinya, kondisi ini sangat memprihatinkan.

Titik solusi rasanya mulai terlihat. Para ahli ortopedi dan rekayasa biomedis dari Ohio State University, Amerika Serikat, Mei lalu memperkenalkan logam baru bernama Nitinol. Logam campuran titanium dan nikel ini istimewa karena memiliki "memori" yang membuatnya mengingat bentuk aslinya. Cara pakainya sih biasa. Nitinol didinginkan, direntangkan, lalu direkatkan pada tulang seperti halnya bahan baja. Namun, karena memorinya, logam baru ini tidak mengendor dan tetap kukuh mencengkeram tulang.

Logam baru ini, sayangnya, belum dipasarkan. Sekarang proyek ini masih dalam tahap uji coba. Proyek ini juga belum memakai obyek berupa tulang penderita, melainkan tabung silinder yang dihubungkan dengan perangkat hidrolik. Ketika tabung dipanaskan—mengikuti pola suhu tubuh manusia—logam baru ini tetap tak tergeser dari tempatnya.

Cara Baru Membongkar Ranjau

Ranjau darat itu jahat. Dengan sekitar 100 ribu ranjau yang terkubur, paling tidak tiap tahun 26 ribu orang tewas karenanya. Belum lagi mereka yang harus cacat permanen. Sialnya, para korban kebanyakan adalah orang sipil. "Ranjau itu sangat sulit dideteksi," kata Dr. Waymond Scott dari Georgia Tech's School of Electrical and Computer Engineering, Amerika Serikat. Ia tak salah, apalagi bila ranjaunya terbuat dari plastik.

Untungnya, cara baru pendeteksian ranjau terus dikembangkan, salah satunya oleh Scott dan rekan-rekannya. Temuan baru ini mengombinasikan pemakaian gelombang dengan radar presisi. Untuk membuat gelombang suara, dipakai "tranduser" yang mengalirkan gelombang seismik melalui tanah. Gelombang ini dipastikan akan membuat ranjau bergerak. Tentu, pergerakan ini ringan saja, tak lebih dari satu mikrometer, sehingga tak membahayakan. Nah, pergerakan kecil inilah yang ditangkap radar lewat gelombang elektromagnetik.

Teknik ini bisa membedakan ranjau dengan obyek lain yang terkubur, sehingga tak muncul alarm palsu. Resonansi pada kulit ranjau adalah kuncinya. Saat uji coba pada lahan berpasir, tujuh jenis ranjau terdeteksi, mulai ranjau mini yang tertanam beberapa inci dari permukaan hingga ranjau antitank yang lebih dalam. Sukses yang sama diperoleh pada lahan bertanaman. Alat ini sekarang sedang dikembangkan dalam bentuk portabel, sebelum dipasarkan tahun depan.

161865769312

Membelah Sel, Menjulangkan Tanaman

Tanaman yang bermutu saja kini tak cukup lagi. Ia harus lebih singkat masa tanamnya dan makin sedikit mengonsumsi pupuk. Harap maklum, penduduk dunia semakin berlipat, sedangkan zat-zat kimia untuk tanaman kian disingkiri. Rekayasa genetis, tak pelak, adalah ujung tombak untuk tuntutan zaman ini. Satu teknik baru yang sudah bisa dikembangkan tim peneliti Universitas Cambridge, Inggris, adalah membuat sel pada tembakau membelah lebih cepat sehingga lebih cepat tumbuh.

Untuk uji coba ini, digunakan gen pertumbuhan dari arabidopsis, salah satu jenis rumput-rumputan, yang dicangkokkan pada tembakau. Hasilnya, protein dalam jumlah besar terproduksi, yang ujungnya membuat sel tembakau terbelah lebih cepat. Dalam sebulan, tembakau yang direkayasa dengan cara ini tumbuh dua kali lipat ketimbang tembakau biasa. Sel yang dihasilkan dengan teknik baru ini sama besarnya dengan yang dihasilkan secara alamiah. Ini terobosan, karena teknik lama memang bisa membelah sel dalam jumlah yang sama tetapi ukurannya jauh lebih kecil. Para peneliti yakin cara ini bisa digunakan untuk tanaman lain.

Untuk tanaman yang dipakai sebagai bahan obat, teknik ini kelak bisa membuat harga obat jauh lebih murah. Namun, masih perlu waktu lama untuk bisa menerapkan cara ini secara luas. "Paling tidak butuh lima belas tahun untuk mengetahui implikasi dari teknik ini," kata Jeffrey Burkhardt, ahli etis pada University of Florida's Institute of Food and Agricultural Sciences, Amerika Serikat.


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161865769312



Inovasi 1/1

Sebelumnya Selanjutnya