Info Tempo 2/4

Sebelumnya Selanjutnya
text

Electrifying Agriculture Program Bantu Petani di 54 Lokasi

Program pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan produktifitas pertanian melalui pemanfaatan energi listrik.

i Salah satu contoh program Electrifiying Agriculture yang sudah dilaksanakan berada di Desa Betet, Ngronggot, Nganjuk, Jawa Timur.
Salah satu contoh program Electrifiying Agriculture yang sudah dilaksanakan berada di Desa Betet, Ngronggot, Nganjuk, Jawa Timur.

JAKARTA – PT PLN (Persero) melalui PLN Peduli mengalokasikan dana tanggung jawab sosial dan lingkungan sebesar Rp 4,84 miliar untuk mendukung sektor pertanian melalui program Electrifiying Agriculture di 54 lokasi di Indonesia. Electrifiying Agriculture merupakan program pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan produktifitas pertanian melalui pemanfaatan energi listrik.

“Diharapkan program-program Electrifiying Agriculuture ini mampu meningkatkan produktivitas dalam sektor pertanian sehingga mampu meningkatkan kesehjateraan masyarakat," ungkap Executive Vice President Komunikasi Korporat dan CSR PLN, Agung Murdifi.

Salah satu program Electrifiying Agriculture dilaksanakan di Desa Betet, Ngronggot, Nganjuk, Jawa Timur. Dikenal dengan Wisata Tani Listrik Terpadu Betet yang mengusung Wisata Tani Unggul di Tangan Pemuda Regul.


Tidak hanya menawarkan sisi wisata, Desa Betet juga digunakan sebagai tempat pertanian milenial yang mengkolaborasikan penerapan teknologi dan sektor pertanian. "Di mana dalam sektor pertanian green house menggunakan sinar ultraviolet untuk mempercepat masa tanam pada tanaman hidroponik seperti tanaman Sawi Pakcoy (bok choy), Kangkung, bayam, serta pengunaan springkle pada lahan bawang agar dapat terairi secara baik,” kata Agung.

162757287866

Wakil Bupati Nganjuk Marhen Djumadi mengatakan program PLN Peduli ini memiliki wujud dan dampak yang nyata bagi masyarakat. Program ini mendukung upaya Pemerintah Nganjuk untuk mewujudkan peningkatan perekonomian dan pemberdayaan masyarakat. “Terima kasih kepada PLN, BUMN Kebanggaan kami yang telah membantu Desa Betet," kata dia.

Ketua Kelompok Tani Achmad Syaikhu menjelaskan Wisata Tani Listrik Terpadu Betet tetap melakukan kegiatan selama masa pandemi mengikuti arahan dari pemerintah dan menetapkan protokol kesehatan. Menurut dia, dengan adanya listrik dalam lingkunan persawahan pertanian, para petani merasa terbantu dalam segi penghematan biaya operasional untuk pengunaan bahan bakar minyak. “Dan penggunaan springkle dalam pertanian mampu menghemat tenaga kerja, penggunaan air dan mengurangi hama pada tanaman bawang,” ujarnya.

Selain Desa Betet PLN juga membantu peningkatan poduktivitas petani buah naga di Banyuwangi melalui program “Listrik Untuk Sang Naga”. Program ini mendorong peningkatan perekonomian petani karena panen dapat dilakukan sepanjang tahun, dimana untuk 1 hektare lahan dengan penyinaran dapat menghasilkan buah naga sebanyak 77 ton tiap tahunnya atau naik hingga 4 kali lipat.

Dampak secara masif pun bukan hanya dirasakan oleh petani buah naga, namun juga masyarakat. Tercatat sampai dengan Juni 2020, sudah 6618 petani buah naga yang memanfaatkan listrik sebagai teknologi untuk menyinari ladang mereka.

Efek domino dari program ini membantu menciptakan banyak lapangan kerja yang tumbuh dari sektor pendukung pertanian buah naga. Diantaranya berbagai usaha pengolahan buah naga, munculnya kelompok sadar wisata yang menjadikan ladang buah naga sebagai destinasi agrowisata, seperti Agrowisata Petik Jeruk dan Buah Naga.


Reporter Tempo - profile - https://majalah.tempo.co/profile/tempo?tempo=162757287866


Inforial

Info Tempo 2/4

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.