Ilmu dan Teknologi 1/1

Selanjutnya
text

Melecehkan patriot yang tak perkasa

Rudal Patriot dikenal banyak melumpuhkan Scud pada perang teluk. Ternyata masih perlu diuji dan tak efektif. Sistem radarnya kurang canggih. Sering menghajar serpihan Scud.

i
ORANG ORANG Pentagon gusar. Mereka menerima laporan intelijen yang menjengkelkan bahwa diamdiam Israel menjual teknologi rudal Patriot ke RRC. Padahal, ketika senjata sakti itu dipasok ke Israel, Pentagon telah wanti-wanti agar senjata nan sakti itu tak jatuh ke tangan "orang luar" tanpa persetujuan Amerika. Maka, seperti diberitakan Washington Times dua pekan lalu, Amerika akan mengirim tim penyidik ke Israel. Rudal Patriot memang merupakan salah satu senjata kebanggaan Amerika. Senjata canggih itu, dalam catatan Pentagon, telah merontokkan 45 dari 47 buah rudal Scud yang dilepaskan oleh pasukan Saddam Hussein selama Perang Teluk tahun lalu. Permintaan akan Patriot pun kontan melejit. Namun, di balik nama besarnya, kini Patriot mulai mengundang celaan. Prof. Theodor A. Postol, ahli sistem persenjataan dari MIT (Massachusetts Institute of Technology) mengejeknya, "Patriot hanya besar di nama." Kemampuannya, kata Postol, masih harus diuji lagi. "Patriot tak efektif untuk melumpuhkan Scud. Misinya di Perang Teluk nyaris gagal total," ujar bekas konsultan sistem persenjataan di Pentagon. Keraguan Postol itu terlontar dalam forum Jambore AAAS (American Association of Advancement Science) di Detroit, AS, yang dilaporkan majalah New Scientist pertengahan Februari lalu. Evaluasi Postol atas Patriot itu antara lain berdasarkan analisa visual atas gambargambar di layar TV yang diambil pelbagai media elektronik AS selama Perang Teluk. Dari pengamatan itu Postol menyimpulkan, Patriot sering gagal mencegat Scud di udara. Penyebabnya, menurut guru besar MIT itu, ada dua. Pertama, sistem radarnya gagal mengantar Patriot menjemput Scud. Kedua, Scud pecah di angkasa karena gesekan dengan udara, dan hulu ledaknya nyelonong ke bumi. Sedangkan Patriot justru menguber puing-puing roket lawan yang terbakar. "Patriot memang mudah terkecoh," kata Postol. Maka, Postol meragukan pengakuan Amerika, yang mengatakan hanya dua Scud yang bisa sampai ke sasaran, satu di daerah Arab Saudi dan satu lainnya di Israel. Kesimpulan Prof. Postol itu membuka peluang spekulasi ada sejumlah Scud lain yang sanggup menembus perisai Patriot dan jatuh di pelbagai tempat. Namun, hal ini tentu saja tak diakui, baik oleh Amerika maupun sekutunya dalam Perang Teluk. Kritik lain datang dari Matt Hansen, seorang analis dari Center for Defence Information di Washington, D.C. Patriot, pada pandangan Hansen, tak lebih dari rudal yang lahir dari teknologi 20 tahun lalu yang kurang canggih. Dia melihat kenyataan bahwa untuk menjatuhkan 47 buah Scud Irak itu, Amerika harus mengerahkan 158 buah Patriot. "Kalau memang andal, mengapa harus sebanyak itu," katanya. Patriot, menurut Postol, pada mulanya dibuat sebagai senjata antipesawat terbang. Namun, pada tahun 1987, Raytheon Corp., produsennya di Lexington, Massachusetts, AS, memodifikasinya. Program komputernya diubah agar dia sanggup mengamati dan mengantisipasi gerakan rudal lawan. Dalam pengoperasiannya, Patriot memang memerlukan jaringan radar untuk memantau posisi rudal lawan. Sebelum meluncur, komputer dalam perkakas peluncur Patriot menghimpun semua data radar. Dengan metode triangulasi, komputer itu membuat plot lintasan rudal musuh tersebut. Lantas dengan rumus yang telah tersedia, Patriot meluncur ke target. Selama dalam perjalanan memburu lawan, Patriot juga masih mendapat bimbingan dari darat. Setelah dekat dengan target, Patriot meledak. Serpihan dan tekanannya bisa meledakkan lawan di udara. Bagaimanapun canggihnya sistem kendali Patriot, Postol ragu-ragu. Sebab, kata Postol, perangkat komputer dan sensor-sensor radarya dipaksa menghadapi tugas baru: mengamati sasaran yang lebih kecil, lebih cepat, dan dengan sudut manuver yang terlalu besar. Dengan kata lain, "mata" Patriot yang biasanya mengawasi sudut sempit dipaksa menjaga ruang yang jauh lebih luas. Keadaan ini yang membuat Patriot sering gagal menjemput Scud. Di lain pihak, menurut Postol, Patriot harus menghadapi rudal Scud yang lintasannya sulit diduga. "Karena tubuhnya tak stabil," katanya. Ketika Scud memasuki lapisan atmosfer rendah yang lebih padat dengan kecepatan 1.500 meter per detik, rudal itu sering melakukan salto secara tidak sengaja. Gerakan tak terduga itu membuat tubuhnya patah, roketnya copot dan terbakar. Akibatnya, gerak luncur hulu ledaknya berubah arah. Dalam keadaan semacam ini, Patriot sering salah langkah. Menghajar roketnya, tapi membiarkan hulu ledaknya terus nyelonong ke bawah dan meledak. "Ini yang saya saksikan di layar video," tutur Postol. Tak mengherankan bila dalam Perang Teluk tahun lalu, Amerika dan sekutunya ratarata harus meluncurkan tiga Patriot untuk menjemput satu Scud. Gerak salto Scud itu, menurut Postol, merupakan efek sampingan dari modifikasi oleh ahli-ahli Irak atas rudal buatan Uni Soviet. Para ahli Irak memanjangkan roket Scud, mengurangi ruang untuk bahan peledak, dan menambahkan bahan bakar ekstra. Hasilnya, jangkauan Scud meningkat dari 280 km menjadi 600-900 km. Postol khawatir, fenomena Scud ini bisa dijadikan dasar untuk membuat rudal baru yang pintar mengecoh Patriot. Kritik-kritik Postol tak diladeni. Baik Raytheon Corp. maupun Pentagon tak mengajukan analisa tandingan. Hanya saja, menurut Washington Post, Postol diimbau agar tak berbicara lagi secara terbuka tentang rudal Patriot. Omongan guru besar MIT itu dinilai telah nyerempet-nyerempet rahasia militer. Putut Trihusodo (Jakarta), Bambang Harymurti (Washington), dan BP (Kopenhagen)

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=162052413012



Ilmu dan Teknologi 1/1

Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.