Ilmu dan Teknologi 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Siang-Malam Sama Rata

Fenomena equinox rutin terjadi dua kali dalam setahun. Tak akan memicu peningkatan suhu udara secara drastis.

BAYANGKAN ketika matahari berada tepat di atas kepala dan sinarnya jatuh tegak lurus terhadap tanah. Dalam momen ini, bayangan dari obyek yang disinari matahari akan terlihat lebih kecil. Penghuni bumi yang mendiami kawasan ekuator akan mengalami hal unik yang dikenal sebagai equinox ini. Peristiwa alam ini terjadi dua kali dalam setahun.

i

Equinox adalah fenomena astronomi rutin. Biasanya kejadian ini berlangsung pada 19-21 Maret dan 22-23 September setiap tahun. Saat fenomena ini berlangsung, belahan bumi utara dan selatan akan mendapat jatah sinar matahari merata sehingga durasi siang dan malam sama. Tahun ini, equinox pertama terjadi pada 20 Maret.

Sempat beredar kabar di media sosial bahwa suhu di negara ekuator, termasuk Indonesia, akan meningkat drastis hingga 40 derajat Celsius. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan hal itu tak akan terjadi. "Tidak ada peningkatan suhu drastis saat equinox berlangsung," kata Kepala Bagian Hubungan Masyarakat BMKG Hary Tirto Djatmiko, Kamis pekan lalu.

Equinox tidak sama dengan fenomena gelombang udara panas yang memicu peningkatan suhu lebih tinggi dan lama di kawasan Afrika dan Timur Tengah. Temperatur harian Indonesia masih dalam kondisi normal dan belum pernah mencapai level 40 derajat Celsius. Suhu harian maksimal yang dipantau BMKG berkisar 32-36 derajat Celsius. "Saat equinox terjadi, cuaca Indonesia masih dalam kondisi basah dan lembap. Malah ada potensi hujan," ujar Hary.


Istilah equinox berasal dari bahasa Latin aequus (setara) dan nox (malam) yang dikenal sejak abad ke-14. Saat fenomena ini berlangsung, jalur lintasan matahari akan berpotongan tegak lurus dengan garis ekuator yang membuat durasi siang dan malam relatif setara. Namun durasi siang dan malam yang sama-dikenal sebagai equilux-bisa muncul sebelum atau sesudah equinox.

161835297834

Dari sudut pandang manusia di bumi, menurut ahli astronomi Tri L. Astraatmadja, ada kesan semu mataharilah yang mengitari planet ini. Padahal sebenarnya bumilah yang bergerak mengelilingi matahari. "Gerak semu ini ditandai dengan perubahan posisi matahari setiap hari," tulis Tri di situs komunitas astronomi langitselatan.com.

Perputaran bumi pada porosnya pun membuat penampakan benda langit selalu berubah, terlihat terbit di timur dan tenggelam di barat. Adapun penampakan posisi bintang-bintang yang letaknya sangat jauh tak banyak berubah seiring dengan pergerakan bumi mengitari matahari.

Letak bintang-bintang tersebut bisa dijadikan patokan terhadap posisi matahari yang terlihat berubah-ubah. "Bulan ini matahari bisa berada di rasi A, bulan depan di rasi B. Namun gerakan ini selalu teratur," kata Tri, yang bekerja di Department of Terrestrial Magnetism Carnegie Institution for Science, Washington, DC.

Pergerakan matahari di langit sepanjang tahun mengikuti garis ekliptika, jalur imajiner yang dilaluinya jika dilihat dari bumi. Garis ekliptika berpotongan dengan ekuator langit yang "membagi" bumi menjadi belahan utara dan selatan. "Perpotongan garis ekliptika dan ekuator langit ini disebut titik equinox," ujar Tri.

Fenomena equinox juga dipengaruhi poros bumi yang sebenarnya tidak tegak lurus. Sumbu bumi menyimpang 23,5 derajat berbanding lintasan orbitnya terhadap matahari. Akibatnya, ketika bumi mengelilingi matahari, ada bagian utara dan selatan yang berbeda durasi mendapat sinar matahari. Namun, saat terjadi equinox, durasi siang dan malam menjadi sama, masing-masing 12 jam.

Kemiringan poros bumi ini juga mempengaruhi luas bidang bumi yang mendapat sinar matahari. Seiring dengan perjalanan bumi mengorbit matahari, salah satu kutub bumi akan miring menghadap matahari dan separuh bumi lebih banyak terpapar energi sinarnya dan memicu pergantian musim panas dan dingin. Titik tertinggi dan terendah energi matahari yang diterima bumi dikenal sebagai solstice.

Pada masa equinox, matahari mulai terbit pukul enam pagi dan terbenam pada pukul enam sore. Kondisi ini terjadi di hampir seluruh bumi, kecuali di kawasan kutub. Namun periode durasi waktu ini bisa jadi tidak dialami serentak di seluruh bumi. Ukuran matahari yang jauh lebih besar daripada bumi, penerapan zona waktu, dan kecepatan orbit ikut mempengaruhi durasi equinox.

Titik yang dilewati matahari pada bulan Maret dikenal sebagai vernal equinox. Masa ini sekaligus menjadi penanda dimulainya musim semi di belahan bumi utara dan musim gugur di belahan bumi selatan. Pada September akan berlangsung autumnal equinox, yang menjadi penanda dimulainya musim semi di belahan bumi selatan.

Berada di kawasan khatulistiwa, Indonesia lebih banyak terpapar sinar matahari dan hanya mengenal dua musim. Hary Tirto Djatmiko mengatakan beberapa wilayah Indonesia saat ini tengah memasuki periode transisi alias pancaroba. "Jadi masih ada kemungkinan hujan, sementara sejumlah daerah sudah mulai mengalami masa kering," katanya.

Kondisi cuaca tahun ini relatif lebih normal dibanding 2016, yang digolongkan periode basah karena banyak penguapan. Musim kemarau tahun ini akan dimulai pada awal Mei- Juni. "Puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Juli-September," ujar Deputi Bidang Klimatologi Mulyono Rahadi Prabowo, seperti ditulis situs BMKG.

Gabriel Wahyu Titiyoga


Equinox di Ekuator
Matahari ”melintas” tegak lurus dengan garis ekuator (lintang nol derajat), hampir tak ada bayangan obyek yang muncul pada puncak siang hari.


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161835297834



Ilmu dan Teknologi 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.