Ilmu dan Teknologi 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Pantau Jantung dengan Jejaring

Inovasi untuk mengantisipasi dan memberi pertolongan cepat penderita sakit jantung. Dilengkapi aplikasi jaringan sosial kesehatan pertama di dunia.

i

Harland Firman Agus melekatkan alat berbentuk tetikus hitam itu di dadanya. Lalu pengikat yang terbentang di kedua sisi ia ikatkan ke tubuh. Disembunyikan di balik baju, alat pemantau jantung bernama ­Zephyr HxM itu tak akan menarik perhatian orang lain.

Untuk mengaktifkannya tak perlu prosedur yang rumit. Pertama, Harland membuka aplikasi Aorta Life yang terpasang di telepon seluler pintarnya. Aplikasi ini terhubung melalui transmisi Bluetooth ke ­Zephyr HxM dengan daya jangkau 10 meter. Telunjuk kanannya lalu menyentuh pilihan start. Saat itulah sang alat mulai bekerja. Maka di layar muncul indikator digital berupa deretan garis kuning, lalu hijau. Setelah itu, Harland melakukan push-up dan senam ringan.

Pemuda 22 tahun itu bisa memantau kondisi jantungnya karena Zephyr memberikan umpan balik seketika. Di layar, pada bagian bawah indikator digital, akan muncul tampilan grafik garis, juga fasilitas perekaman data. Jika jantung dalam kondisi baik, muncul kata good di antara garis indikator digital. Sebaliknya, kata bad muncul jika jantung bermasalah.


Secara terperinci, kondisi jantung akan terlihat pada pojok kanan atas layar telepon. Di sana ada kolom kecil berisi angka yang menunjukkan detak jantung pemakai. Ketika Harland memakai alat itu, angkanya tertera 101. Setelah dia melakukan push-up dan senam beberapa detik, garis indikator digital dan warnanya berubah-ubah cepat. Angkanya pun sempat naik menjadi 141. Pada orang dewasa yang sehat, detak jantung normal adalah 60-100 denyut per menit.

161833478911

Harland, lulusan teknik informatika 2012 dari Institut Teknologi Telkom, Bandung, berhasil melakukan inovasi teknologi ini bersama teman-temannya, yakni Evan David Kristian dan Emille Junior. Perangkat lunak dan sistem peringatan dini tentang kondisi jantung seseorang itu diganjar penghargaan bidang teknologi oleh pemerintah Jawa Barat, dan menjadi juara ketiga dalam perhelatan #Ngandroid Funkey di Bandung Digital Valley, September lalu. "Gagasan aplikasi itu muncul dari berita mengenai sejumlah pemain sepak bola yang meninggal secara mendadak di lapangan, diduga karena serangan jantung," kata Harland kepada Tempo di kampus Institut Teknologi Telkom, akhir Oktober lalu.

Inovasi yang mereka tawarkan bukan pada teknologi alat yang diimpor Harland Rp 2 juta per paketnya itu, melainkan pada Aorta Life. Secara keseluruhan alat ini bisa dibandingkan dengan elektrofisiologi jantung buatan (EKG). Bedanya, sementara alat bantu pemeriksaan dokter hanya berada di ruang praktek, Aorta Life bisa masuk ke saku baju pengguna.

Keunggulan tambahan adalah data detak jantung pemakai bisa dipantau orang lain. Bukan sembarang orang tentunya, melainkan orang terdekat atau yang dipercaya si pemakai, misalnya dokter pribadi, keluarga, dan sahabat. Harland mencontohkan, saat ini banyak orang lanjut usia pengidap sakit jantung yang ditinggal kerja oleh keluarganya. Dengan memakai alat ini, kondisi si sakit bisa dipantau dari kantor. "Jadi, kalau terjadi sesuatu pada jantungnya, orang lain bisa memberikan pertolongan (cepat)," katanya.

Daya jangkau pemantau tidak hanya dalam radius kilometer, tapi bisa antarnegara. Caranya, pemakai alat tinggal membuka situs aortalife.net. Setelah log in, detak jantung pengguna bisa dimonitor orang lain yang telah terjaring dalam lingkar pertolongan.

Lingkar pertolongan ini dibuat pemakai alat lewat situs khusus itu dengan cara mengundang dan menambah para pemantau. Jumlahnya tak terbatas. Cara menambahkan pemantau seperti mengundang orang lain di situs jejaring sosial. Harland membuat tampilannya mirip Facebook supaya memudahkan pengguna. Agar si pemakai dapat selalu dipantau, Internet harus terus menyala. Perlu dipastikan juga isi baterai ponsel agar pemantauan tidak terputus mendadak.

Menurut Harland, perangkat deteksi jantung itu tidak perlu dipakai sepanjang waktu, tapi cukup pada saat khusus. "Misalnya ketika pasien merasakan jantungnya tak enak," katanya. Selain menghemat baterai ponsel, cara itu menghemat pemakaian Internet. Setelah aplikasi dipasang dan datanya disebarkan ke situs, para pemantau bisa mengingatkan jika kondisi jantung pasien bermasalah. Pemantau pun bisa bersiap-siap untuk menghadapi keadaan jika kondisi si pemakai memburuk.

Sampai saat ini Aorta Life versi 1 itu baru memungkinkan pemantau beraksi dengan cara menelepon atau mengirim pesan pendek. "Misalnya tanya sedang makan apa, kok denyut jantungnya cepat," ujarnya. Dokter yang memantau pun dapat segera menyampaikan analisis dan memberikan peringatan. Pemantau dapat bergerak ke lokasi pasien untuk memberikan pertolongan jika terjadi situasi darurat. Kalau perlu sambil membawa ambulans.

Data detak jantung yang dikirim dari alat itu berjalan real time dengan jeda detik tipis. Namun versi awal itu diakui Harland masih sederhana. Karena itu, mereka belum melepasnya ke khalayak walau sudah pasang harga US$ 2 untuk mengunduh aplikasi Aorta Life berbasis Android. Sedangkan alat pendeteksi impor, seharga Rp 2-7 juta, diserahkan pembeliannya ke para pengguna. "Sekarang kami masih mengembangkan versi dua untuk sistem operasi Windows Mobile agar bisa ikut lomba Microsoft Imagine Cup 2013."

Aplikasi tersebut, kata Harland, sejauh ini sudah diuji coba ke beberapa rekan, juri lomba, dokter, dan teknisi. "Tidak ada keluhan," katanya. Harland dan kawan-kawan juga percaya, hasil data jantung itu tidak meleset karena alat deteksi impor tersebut telah berstandar internasional. Untuk membuat alat deteksi jantung sendiri yang lebih murah, dia mengaku kesulitan, walau basis data bisa dicomot dari buku kedokteran.

Mereka memilih mengulik perangkat lunaknya. Pada versi aplikasi terbaru, tim yang kini bernama Newbee.Corp tersebut akan memakai alat deteksi impor lebih canggih dan lengkap seharga Rp 7 juta. Nantinya pengguna tak hanya mengetahui kondisi jantungnya, tapi juga kecepatan dan tekanan darah serta posisinya agar diketahui pemantau. "Kalau kondisi gawat, aplikasi akan mencarikan orang yang terdekat dan menghubungkan ke kerabatnya untuk pertolongan," katanya.

Dosen pembimbing mereka yang juga dokter dari Universitas Islam Bandung, Tauhid Nur Azhar, mengatakan Aorta Life aman karena ada otentifikasi sistem. Fitur lingkar pertolongan juga disebutnya sebagai aplikasi jaringan sosial kesehatan pertama di dunia. "Sangat inovatif dan penting bagi dokter dan pasien," ujarnya. Perekaman data kondisi pasien secara digital juga memudahkan penelusuran dan diagnosis sakit berdasarkan riwayat kesehatan pasien. Tentu saja, dengan segala keunggulannya, alat ini diharapkan dapat menekan kematian akibat sakit jantung.

Erwin Zachri, Anwar Siswadi


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161833478911



Ilmu dan Teknologi 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.