Ilmu dan Teknologi 2/2

Sebelumnya Selanjutnya
text

Mencetak Buku itu Gampang

Teknologi cetak offset digital memudahkan setiap orang untuk menerbitkan bukunya dengan biaya terjangkau. Mengapa di Indonesia belum populer?

i
STEVE Talacka nyaris tak mampu lagi mengeluarkan kata-kata. Pria berusia empat puluhan ini terlalu banyak berbicara hingga pita suaranya meradang. "Saya terlalu sibuk meladeni pertanyaan," katanya dengan suara serak. Rupanya pengalaman manajer di percetakan Offset Paperback Manufacturers Incorporated (OPMI) ini dianggap sebagai hal yang sangat menarik oleh ribuan petinggi urusan penerbitan dan percetakan di mancanegara yang menemuinya di kedai Xerox di pameran teknologi cetak dunia DRUPA 2000 di Dusseldorf, bulan lalu. Bagaimana tidak? Sudah dua setengah tahun ini OPMI menempatkan Steve Talacka sebagai manajer urusan pencetakan offset dalam jumlah sedikit (print-on-demand manager). "Sehari-hari saya menerima order mencetak buku dari hanya 12 buah hingga seribu lima ratus," kata lelaki berkebangsaan Amerika Serikat ini. "Kendati pesanannya kecil-kecil dan ongkosnya bersaing, tetap menguntungkan bagi perusahaan kami," ia menambahkan.

Kemampuan mencetak dengan kualitas offset, dalam jumlah sedikit, dengan harga bersaing, dan menghasilkan untung ini merupakan terobosan baru di bidang percetakan. Sebab, mesin cetak offset yang konvensional dikenal hanya mampu menghasilkan mutu cetak tinggi dengan harga murah pada volume tinggi saja. Soalnya, untuk melakukan pencetakan, perlu dibuat film dahulu, lalu film itu digunakan untuk membuat pelat cetak yang akan dilekatkan pada gilingan mesin cetak. Karena harga bahan dan pembuatan film serta pelat ini tidak murah, hanya pada volume tinggi saja biaya pencetakan offset dapat bersaing. Apalagi metode konvensional ini biasanya baru menghasilkan mutu yang baik bila mesin telah berputar cukup lama sehingga tinta yang dikucurkan melalui plate sudah terdistribusi merata dan stabil.

Kini, para produsen mesin cetak melakukan terobosan dengan menggunakan teknologi digital. Dengan cara baru ini, penggunaan film dan pelat tak lagi diperlukan dan tinta sudah terdistribusi merata pada cetakan halaman pertama. "Sebetulnya ini merupakan peningkatan dari teknologi yang digunakan pada mesin fotokopi," kata Steve Talacka.

Sebelum teknologi cetak offset digital hadir, memang terdapat perbedaan yang mendasar antara teknologi offset konvensional dan teknologi mesin fotokopi. Utamanya adalah karena mesin fotokopi menggunakan tinta kering—berupa bubuk—sedangkan offset memakai tinta cair, yang harganya lebih murah. Ini menyebabkan kualitas offset satu kelas lebih unggul di atas teknologi kopi, dengan biaya lebih rendah pada volume tinggi.

Terobosan yang dilakukan mesin cetak offset digital adalah penggunaan teknologi fotokopi (artinya tidak memakai film dan pelat) yang disempurnakan hingga dapat menggunakan tinta cair. Walhasil, yang didapat adalah mutu cetak sekelas offset dengan ongkos bersaing pada volume berapa pun.

"Makanya, ongkos cetak yang saya berikan kepada pelanggan yang mencetak satu buku dan 500 buku sama saja," kata Steve Talacka, yang bekerja di percetakan di Kota Dallas, negara bagian Pennsylvania, Amerika Serikat. Hanya, ongkos per bukunya mungkin berbeda karena selain biaya cetak juga dikenai ongkos pracetak, yang besarnya beragam dari gratis—bila pelanggan sudah mempunyai naskah berbentuk elektroniknya—hingga U$ 50, jika pelanggan sudah memiliki buku dalam bentuk kertas asli yang perlu dipindai (scanning) ke bentuk elektronik. Biaya cetak satu buku setebal hampir 300 halaman tak sampai U$ 3.

Harga bersaing dengan kualitas tinggi pada volume rendah ini menyebabkan OPMI menetapkan pencetakan buku di bawah 3.500 buah dilakukan di mesin offset digital. "Kalau di atas 3.500, lebih baik di mesin offset konvensional saja," kata Steve Talacka. Sebab, kelemahan teknologi digital saat ini dibandingkan dengan yang konvensional adalah kecepatan cetaknya. Mesin cetak offset digital tercepat saat ini, yang dibuat oleh Indigo, adalah sekitar 5.000 halaman per jam, sedangkan yang konvensional—dari berbagai merek—umumnya mampu hingga sepuluh kali lebih cepat.

Namun, kecepatan rendah ini tak menjadi faktor penting pada volume rendah. Mesin Xerox yang digunakan OPMI mampu mencetak buku satu buah setiap menit. Tak mengherankan jika sudah lebih dari 20 ribu unit mesin cetak offset digital terjual. Ada toko buku yang menggunakannya untuk mencetak buku-buku yang sudah tak beredar lagi hanya bila ada pemesannya (print on demand), ada pula yang menggunakannya untuk mencetak buku panduan (manual), atau menyelamatkan dokumen penting. Para pakar Xerox, misalnya, memperkirakan di Eropa saja terdapat lebih dari satu miliar dokumen penting yang terancam hancur karena dicetak di kertas dengan derajat keasaman tinggi yang perlu diselamatkan.

Bagaimana di Indonesia? Tampaknya belum ada pakar yang punya perkiraan meyakinkan. Yang pasti, menurut Ir. Mario Alisjahbana, teknologi cetak volume rendah ini "mungkin masih terlalu mahal untuk kebanyakan penerbit dan percetakan di Indonesia." Soalnya, menurut Presiden Direktur PT Dian Rakyat ini, "Kendati mampu melakukan pencetakan dalam volume kecil dengan harga bersaing, tetap saja memerlukan volume besar secara total untuk memetik keuntungan."

Penjelasan senada juga dinyatakan Steve Talacka. Untuk menjamin mesin yang terdiri atas empat bagian ini—pencetak warna halaman judul, pencetak hitam-putih halaman isi, penjilid, dan pemotong—menghasilkan untung, "Di tempat saya, satu mesin harus mencetak lebih dari 15 ribu buku sebulan."

Bukan jumlah kecil bagi kebanyakan penerbitan dan percetakan di republik ini.

Bambang Harymurti (Dusseldorf)


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161866182896



Ilmu dan Teknologi 2/2

Sebelumnya Selanjutnya