Hukum 3/3

Sebelumnya Selanjutnya
text

Diantara ban dan dashboard

Sertu (pol) doddy wijaya menembak mobil pelanggar aturan kpp yang hanya berpenumpang 2 orang. kaca mobil pecah peluru menancap di dashboard. kasusnya akan diproses dan dibawa ke Mahkamah Militer.

i
PELAKSANAAN KPP pantas dicatat dalam sejarah perlalulintasan. Sejak "jabang bayi" itu dalam kandungan, hingga lahir lewat SK Gubernur, tak pernah lepas dari sorotan. Apakah karena yang terkena pengaturan itu golongan menengah atas? Terlepas dari mengapa sampai menjadi heboh, pelaksanaan KPP terasa diistimewakan. Bayangkan, hanya untuk mengamankan sebuah SK lalu lintas, Polda Metro Jaya menerjunkan 800 personilnya. Jumlah itu diperkuat lagi oleh DLLAJR dan aparat Pemda DKI. Mereka bekerja ekstrakeras mulai pukul 06.00 hingga pukul 10.00. Setiap mobil berpenumpang kurang dari tiga, tak ada ampun. Mereka ditilang atau dihalau ke jalan alternatif. Cuma sayang, kerja keras di jalur istimewa itu ternoda pada Jumat 8 Mei silam. Seorang polisi melepaskan tembakan ke arah mobil pelanggar yang hanya berisi dua penumpang dan dikendarai Joko Suwarno. Kaca mobil itu, Peugeot 405, pecah berantakan. Peluru melesat dan menancap di dashboard. Untung tidak nyasar ke tubuh dua penumpang. Polisi yang melakukan penembakan kabur. Joko lantas melaporkannya ke Provoost. "Kenapa langsung ditembak tanpa ada peringatan. Memangnya kami penjahat?" kata Joko menggerutu. Sehari setelah itu, Sersan Satu (Pol.) Doddy Wijaya, 24 tahun, ditahan. Pria bujangan berpostur tinggi kekar itu adalah lulusan Sekolah Calon Bintara Lido, Sukabumi tahun 1988. Ditemui TEMPO pekan lalu di ruang tahanan Provoost Polda Metro Jaya, Doddy tak mau menjawab pertanyaan soal tindakannya menembak mobil Joko. Ia bungkam. Tapi pengakuan Doddy pada pemeriksa menyebutkan, sebelumnya ia menghentikan mobil itu. Ia mengejarnya karena tak mau berhenti. Lampu rotator pun dinyalakan, tapi Joko terus tancap gas. Di dekat Jembatan Semanggi, mobil itu malah menyerempet motor Doddy, hingga oleng. Karena jengkel, ia mengeluarkan revolver 6 mm lantas menembakkan ke arah ban. "Karena menembaknya sambil naik motor, tentu sulit dan pelurunya pun goyang hingga mengenai dashboard," ujar seorang petugas. Kendati begitu, menurut Kadispen Polda Metro Jaya Letkol. Latief Rabar, Doddy tetap dipersalahkan melakukan penyalahgunaan senjata api. "Tak ada instruksi main tembak. Doddy tetap diproses untuk dibawa ke Mahkamah Militer," kata Latief. ARM

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=162052227419



Hukum 3/3

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.