Terbelit karena Main Audit - Hukum - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Hukum 5/5

Sebelumnya Selanjutnya
text

Terbelit karena Main Audit

Anggota Badan Pemeriksa Keuangan, Rizal Djalil, menjadi tersangka korupsi proyek air minum di Kementerian Pekerjaan Umum. Modusnya diduga merekayasa audit dan mempermainkan proyek.

i Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Saut Situmorang bersama juru bicara Febri Diansyah (kiri) memberikan keterangan pers tentang dua tersangka.
Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Saut Situmorang bersama juru bicara Febri Diansyah (kiri) memberikan keterangan pers tentang dua tersangka.

 

Wakil Ketua Komisi Pem-berantasan Korupsi Saut Situmorang bergerak cepat. Selepas pemeriksaan anggota Badan Pemeriksa Keuangan, Rizal Djalil, Senin, 23 September lalu, ia meminta -segera diadakan rapat gelar perkara. Seolah-olah tak ingin menyia-nyiakan waktu, hari itu juga undangan disebar. Semua pemimpin, tim Deputi Penyidikan, dan tim Deputi Penyelidikan KPK diminta hadir keesokan harinya untuk menentukan nasib berkas pemeriksaan Rizal.

Forum rapat hari itu terasa gayeng. Nya-ris tak ada perdebatan keras di antara peser-ta rapat. Penilaian kelima komisioner kala itu bulat. Semuanya setuju berkas penyidik-an Rizal dinaikkan ke tahap penyidik-an. “Dalam pengembangan perkara ini, ditemukan dugaan aliran dana 100 ribu dolar Singapura ke salah satu anggota BPK,” ujar Saut.


Rizal tak sendiri menjadi tersangka. Penetapan status tersangka juga diberikan kepada Komisaris Utama PT Minarta Duta-hutama, Leonardo Jusminarta Prasetyo. Minarta adalah perusahaan rekanan yang digandeng Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat untuk menggarap proyek-proyek Jaringan Distribusi Utama Hungaria dengan pagu anggaran sebesar Rp 79 miliar. “Diduga ada permintaan uang sejumlah Rp 2,3 miliar,” kata Saut.

W251bGwsIjIwMjAtMTItMDIgMDY6MjQ6MzEiXQ

Kasus yang menyeret mantan politikus Partai Amanat Nasional tersebut berawal ketika BPK melakukan pemeriksaan terhadap pengelolaan infrastruktur air minum dan sanitasi limbah di Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat serta kementerian terkait di wilayah DKI Jakarta, Jawa Timur, Jawa Tengah, Kalimantan Barat, dan Jambi pada 2014-2016. Perintah pemeriksaan dilakukan berdasarkan surat yang ia teken.

Gelagat tak beres tampak ketika tim bentukan Rizal mengaudit pengelolaan infrastruktur air minum pada Direktorat Sistem Penyediaan Air Minum atau SPAM Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Saat itu, menurut Saut, tim bentuk-an Rizal menemukan kesalahan pencatat-an laporan keuangan sebesar Rp 18 miliar. Nilai kesalahan pencatatan belakangan me--nyusut jadi Rp 4,2 miliar setelah adanya kesepakatan untuk menyerahkan “imbal jasa” kepada Rizal.

Rizal Djalil/ TEMPO/Dhemas Reviyanto Atmodjo

Menurut Saut, modus praktik suap Rizal juga dengan menunggangi aktivitas bisnis perusahaan milik kenalannya. Untuk menampung uang tersebut, Rizal mengutus orang kepercayaannya menemui Direktur SPAM Kementerian Pekerjaan Umum. Tujuannya adalah meminta pihak -kementeri-an mengatur proses tender proyek -Jaring-an Distribusi Utama Hungaria agar bisa dimenangi oleh PT Minarta Dutahutama. Pa-gu ang--garan proyek tersebut bernilai Rp 79 miliar.

Juru bicara KPK, Febri Diansyah, mengatakan uang imbalan tak diserahkan langsung kepada Rizal. Untuk mengelabui radar penegak hukum, ia mengutus anak kandungnya menemui wakil PT Minarta Dutahutama. Penyerahan uang mereka sepakati di sebuah pusat belanja, Pejaten Village, Jakarta Selatan. “Uang yang sudah diterima saat itu baru sebagiannya. Dari Rp 2,3 miliar yang diminta, yang diterima saat itu sekitar Rp 1,3 miliar,” ujarnya.

Febri mengatakan penyidikan terhadap Rizal Djalil dan Leonardo Jusminarta Prasetyo tergolong cepat karena pembuktian perkaranya sudah diuji pengadilan lewat proses hukum para terdakwa sebelumnya. Sebelum Rizal, ada tersangka yang sudah divonis bersalah pengadilan.

Aroma tak sedap kasus itu juga terkonfirmasi tak lama setelah kasus tersebut terungkap lewat operasi tangkap tangan yang menyeret pejabat pembuat komitmen, Ang-giat Partunggul Nahot Simaremare. Puluh-an pejabat eselon II dan III Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan -Rakyat mendatangi KPK untuk mengembalikan uang gratifikasi dari PT Minarta Dutahutama ataupun perusahaan rekanan kementerian lain. Direktur Gratifikasi KPK Syarief Hidayat membenarkan informasi tersebut.

Syarief menjelaskan, uang yang mereka kembalikan berkisar Rp 300-500 juta. Inisiatif penyerahan uang tersebut membuat sebagian pejabat terhindar dari jerat suap sejauh memenuhi syarat, seperti batas waktu pengembalian. Namun, bagi mereka yang terindikasi memiliki keterkaitan de-ngan kasus yang ditangani KPK, penangan-annya dikerjakan bersama Direktorat Penyelidikan. “Kami kerja bareng dengan teman-teman di kedeputian lain,” katanya.

Febri tak menampik kabar bahwa komisioner KPK tengah mempercepat pemberkasan banyak tunggakan perkara di akhir masa periode kepemimpinan mereka. Dalam kasus Rizal Djalil, misalnya, surat perintah penyidikan diteken pimpinan pada 20 September lalu atau dua hari sebelum pemeriksaan terakhir Rizal dalam statusnya sebagai saksi. Surat tersebut langsung dikirimkan kepada Rizal hari itu juga agar undangan pemeriksaan bisa diladeni sesuai dengan jadwal.

Rizal tak ditahan meski berstatus tersangka. Ia membenarkan pernah menanda-tangani surat tugas pemeriksaan proyek SPAM, tapi membantah tudingan KPK. Menurut dia, perubahan temuan Rp 18 miliar menjadi Rp 4,2 miliar bisa terjadi jika ada temuan penyetoran sisa uang ke kas negara atau pekerjaan telah diselesaikan dalam periode penyelesaian laporan hasil pemeriksaan. “Jika terjadi fraud, saya persilakan KPK memproses secara hukum,” ujarnya.

Rizal menduga polemik ini menjadi keruh karena tekanan dua orang di luar tim auditor yang diperkenalkan kepada kepala satuan kerja SPAM. Sebab, kata dia, saat proses auditing, keduanya pernah meminta melakukan perubahan terkait dengan te-muan pemeriksaan SPAM. Rizal tak menyebut nama siapa orang yang dia maksud. “Saya siap bekerja sama dengan KPK mengusut orang tersebut,” ucapnya. “Biar dispute perubahan angka bisa jelas.”

Soal aliran duit, Rizal membantahnya. “Saya tegaskan saya tidak pernah meneri-ma uang atau sesuatu dari Saudara Leo. Sa-ya siap dikonfrontasi untuk itu,” ujarnya.

RIKY FERDIANTO, AJI NUGROHO

 

Pembuka Jalan

Selalu ada yang tersembunyi di balik peristiwa. Investigasi Tempo menembus batas untuk mengungkapkannya buat Anda.
Silakan register untuk mendapatkan akses 4 artikel gratis, atau langsung berlangganan dan nikmati sajian informasi berkualitas khusus untuk Anda.

2020-12-02 06:24:31


Hukum 5/5

Sebelumnya Selanjutnya

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB