Kuitansi Kosong First Travel - Hukum - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Hukum 3/3

Sebelumnya Selanjutnya
text

Kuitansi Kosong First Travel

Calon jemaah umrah First Travel menolak aset perusahaan dirampas negara ataupun berganti kepemilikan. Mereka melawan dengan mengajukan permohonan praperadilan.

i Kantor First Travel di Cimanggis, Depok, Jawa Barat./Foto: googlemaps
Kantor First Travel di Cimanggis, Depok, Jawa Barat./Foto: googlemaps

Zuherial jauh-jauh datang dari Palembang ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan dengan maksud mengajukan permohonan praperadilan, Jumat pekan lalu. Pensiunan polisi berpangkat ajun komisaris besar itu hendak menggugat penyitaan aset-aset PT First Anugrah Karya Wisata atau First Travel.

Ia berkeberatan lantaran separuh harta biro perjalanan haji dan umrah itu telah berpindah kepemilikan, sisanya akan disita oleh negara, tanpa menyisakan bagian buat para korban calon jemaah umrah yang tertipu perusahaan. “Dokumen permohonan praperadilan sudah saya siapkan lengkap dengan bukti-buktinya,” kata Zuherial, yang juga korban penipuan First Travel.

Dalam dokumen permohonan itu, Zuherial berencana menggugat Kepala Kepolisian RI Jenderal Tito Karnavian dan Jaksa Agung Muhammad Prasetyo. Ia berdalih keduanya sebagai penanggung jawab terhadap penyidik Badan Reserse Kriminal Polri dan jaksa penuntut umum yang menangani perkara First Travel, yang dinilai tidak transparan menyampaikan aset-aset perusahaan yang disita sehingga sebagian berganti kepemilikan.


Zuherial juga menduga harta First Travel yang disita polisi tidak sama dengan fakta dalam berkas perkara. “Kami punya bukti-buktinya,” ujarnya. Sayangnya, Zuherial menunda pendaftaran permohonan praperadilan, Jumat pekan lalu, karena korban First Travel lain berhalangan datang ke pengadilan. “Karena kendala teknis, kami tunda pekan depan,” kata Rizky Rahmadiansyah, kuasa hukum jemaah First Travel.

Penipuan First Travel terungkap dua tahun lalu. Direktorat Tindak Pidana Umum Bareskrim, yang mengusut perkara ini, menetapkan tiga tersangka, yaitu direktur utama perusahaan, Andika Surachman; istri Andika, Anniesa Desvitasari Hasibuan; serta Direktur Keuangan First Travel Siti Nuraidah Hasibuan. Di Pengadilan Negeri Depok, Jawa Barat, Mei tahun lalu, Andika divonis 20 tahun penjara dan Anniesa 18 tahun penjara. Hukuman Siti Nuraidah lebih ringan, selama 15 tahun bui. Tiga bulan kemudian, Pengadilan Tinggi Jawa Barat menguatkan putusan pengadilan negeri.

Ketiganya dinyatakan terbukti menggelapkan dana perjalanan umrah sebanyak 63.310 calon anggota jemaah; mencuci uang mereka dengan membeli rumah, mobil, dan tanah; serta untuk pelesiran ke Eropa. Dalam putusan juga disebutkan nasib aset-aset First Travel yang sebelumnya disita penyidik. Ternyata di situ terungkap bahwa sebagian harta perusahaan sudah berganti kepemilikan.

Misalnya lima mobil mewah atas nama Andika dan Anniesa. Kelima mobil itu adalah Toyota Vellfire, Mitsubishi Pajero Sport, Volkswagen Caravelle, Toyota Fortuner, dan Hummer H2 62 SUV AT. Pengadilan menyatakan mobil itu diserahkan kepada Umar Abd. Azis, Direktur PT Kanomas Arci Wisata, biro perjalanan haji dan umrah yang menyediakan tiket dan visa buat jemaah First Travel.

Andika Surachman dan Anniesa Desvitasari Hasibuan di Pengadilan Negeri Depok, Jawa Barat, 2018./TEMPO/STR/M. Taufan Rengganis

Tiga bidang tanah milik First Travel juga dinyatakan diserahkan kepada Umar, yakni tanah dan rumah di Jalan Radar Auri Nomor 1 Kelurahan Cisalak, Cimanggis, Depok; tanah dan rumah di Jalan Venesia Selatan Nomor 99, Sentul City, Babakan Madang, Bogor; serta tanah dan bangunan di Jalan Kompleks Rumah Tahanan Militer Raya Nomor A3, Cimanggis, Depok. Satu lagi aset First Travel yang dinyatakan diserahkan kepada Umar adalah sebuah cincin mewah dengan berat 22,26 gram yang berhiaskan 195 butir berlian.

Zuherial dan calon jemaah First Travel lainnya menganggap putusan tersebut sangat janggal dan tidak berpihak kepada korban. Ia menduga ada permainan sehingga sebagian harta First Travel telah berganti pemilik saat penyidikan sedang berproses. “Jika barang sudah disita, seharusnya tidak bisa lagi diperjualbelikan atau diserahkan kepada orang lain,” kata Rizky Rahmadiansyah, kuasa hukum jemaah First Travel.

Andika Surachman membenarkan pergantian kepemilikan aset perusahaannya. Lewat pengacaranya, Andika membalas konfirmasi Tempo melalui surat. Dalam suratnya, ia mengatakan, ketika First Travel dan PT Kanomas bekerja sama dalam penyediaan tiket dan visa, First Travel menjaminkan beberapa asetnya.

Harta yang dijaminkan itu adalah tanah di Sentul City, Bogor, dan di Jalan Radar Auri, Depok. Namun kedua aset itu berganti nama pemilik dari Andika ke Halid Umra, anak Umar. Aset ini lantas diagunkan ke bank. “Tujuannya jika memakai nama mereka akan cepat cair dan 5.000 tiket tambahan segera keluar,” ucapnya, pekan lalu.

Lima mobil mewah, kata Andika, tetap atas nama dia dan istrinya. Ia juga menceritakan kronologi aset ini berada dalam penguasaan Umar. Satu bulan setelah ia ditahan di Rumah Tahanan Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya, atau sekitar September 2017, Umar menemuinya di dalam rutan. Umar lantas menyodorkan kuitansi kosong kepada Andika untuk ditandatangani. Kuitansi itu akan dijadikan sebagai bukti jual-beli mobil milik Andika kepada Umar. “Penandatanganan kuitansi kosong untuk mobil baru dilakukan di tahanan Polda,” ujar pria 31 tahun ini.

Penanggung jawab PT Kanomas, Mirfad Najib Shabibie, yang dimintai konfirmasi, menyarankan menghubungi Husni Farid Abdat, pengacara Kanomas. Husni baru bersedia menjawab konfirmasi Tempo pada Selasa pekan ini. “Kalau hari ini tidak memungkinkan. Saya sedang di luar kantor,” katanya.

Saat di pengadilan, Umar menjelaskan soal harta First Travel itu. Menurut Umar, dia dan Andika sudah menandatangani kuitansi jual-beli lima unit mobil First Travel. “Untuk kepemilikan kendaraan masih belum dibaliknamakan, tapi sudah ada kuitansi jual-beli antara Andika Surachman dan saksi,” ujarnya. Umar tidak menyebutkan kapan proses jual-beli itu berlangsung.

Ihwal rumah milik First Travel di Jalan Radar Auri dan di Sentul City, Umar menyatakan sudah atas nama anaknya. Ia juga menceritakan kronologi aset-aset itu berada dalam penguasaannya. PT Kanomas, kata dia, menyediakan tiket umrah bagi calon jemaah First Travel sejak November 2016 sampai Juni 2017.

Surat Pernyataan

Selama tujuh bulan, First Travel tiga kali memesan tiket kepada Kanomas dengan total 11.690 buah. Pemesanan pertama sebanyak 3.850 tiket dengan harga Rp 50 miliar, yang kedua sebanyak 5.300 tiket dengan harga Rp 69 miliar, dan pemesanan ketiga sebanyak 2.540 tiket seharga Rp 33 miliar.

Pada pemesanan pertama, First Travel membayar Rp 24 miliar. Sisanya dibayar bertahap dengan jaminan sertifikat tanah di Jalan Radar Auri dan di Sentul City. Lalu, pada pemesanan kedua, First Travel hanya membayar Rp 12,8 miliar, dan menyisakan utang Rp 56 miliar. Utang ini, kata Umar, juga dibayar bertahap dengan jaminan mobil First Travel serta satu bidang tanah di Jalan Rumah Tahanan Militer, Cimanggis, dan satu unit apartemen di The Aspen Peak Residence Fatmawati, Jakarta Selatan.

Lalu, pada pemesanan ketiga, First Travel hanya membayar Rp 29 miliar sehingga menyisakan utang Rp 3,8 miliar. Umar menghitung total utang First Travel ke Kanomas mencapai Rp 90 miliar. Sebagian utang itu lantas ditutup dengan aset First Travel, baik tanah maupun mobil senilai Rp 41 miliar. “Sisa yang belum dibayarkan kepada saksi sekitar Rp 49 miliar,” ucap Umar.

Masalah ini pernah disinggung Kepala Kejaksaan Negeri Depok Sufari pada Juli tahun lalu. Ia mengatakan kelima mobil itu sempat disita sebagai barang bukti. Tapi, saat pelimpahan berkas perkara dari polisi ke kejaksaan, Kanomas meminjam pakai mobil-mobil tersebut. “Kenapa dipinjam pakai? Karena barang itu disita dari pemohon,” kata Safari. Ia juga menyatakan kelima mobil itu beralih kepemilikan sebelum Andika Surachman ditetapkan sebagai tersangka.

Harta Biro Umrah

Satu lagi aset Andika yang beralih kepemilikan adalah restoran Nusa Dua di London. Sesuai dengan putusan pengadilan, hak kelola restoran yang dibeli Andika sekitar Rp 10 miliar itu ternyata sudah beralih kepada Dwi Irianto dan Heri Jerman. Dwi adalah ketua tim penyidik Bareskrim yang menangani perkara First Travel dan Heri adalah koordinator jaksa penuntut umum perkara yang sama.

Andika membeli restoran ini dari Usya Soemantri Soerharjono pada 2014. Lalu pengelolaannya diserahkan kepada Usya. Restoran ini baru dimintakan izin penyitaan ketika perkaranya telah masuk ke pengadilan. Andika membenarkan pergantian nama hak kelola restoran Nusa Dua ini. Ceritanya bermula saat pelimpahan berkas dan tersangka dari polisi ke jaksa pada Desember 2017, Heri menyodorkan dua pucuk surat kepada Andika.

Surat itu berisi pernyataan bahwa hak kelola restoran Nusa Dua, termasuk keuntungan dan laporan keuangan, dialihkan kepada Heri dan Dwi. “Jaksa Heri Jerman yang menyodorkan dua surat itu, yang harus saya tanda tangani,” ujar Andika. Heri tak bersedia mengomentari urusan ini. “Maaf, saya sudah pindah tugas. Silakan ke Kejari Depok,” katanya. Adapun Dwi sama sekali tidak merespons konfirmasi Tempo.

Bunyi dalam putusan yang mengakomodasi perpindahan pemilik aset-aset First Travel ini yang membuat korban gusar: tetap tak dapat beribadah umrah. Terlebih harta First Travel yang dinyatakan dirampas buat negara hanya yang bernilai rendah. “Nilai aset yang tersisa tidak cukup memberangkatkan semua korban,” ujar Zuherial.

Zuherial dan tujuh anggota keluarganya akan melawan perubahan aset-aset lewat praperadilan seraya berharap Mahkamah Agung mengubah bunyi putusan tersebut.

 

RUSMAN PARAQBUEQ, IRSYAN HASYIM

Selalu ada yang tersembunyi di balik peristiwa. Investigasi Tempo menembus batas untuk mengungkapkannya buat Anda.
Silakan register untuk mendapatkan akses 4 artikel gratis, atau langsung berlangganan dan nikmati sajian informasi berkualitas khusus untuk Anda.

2020-09-30 03:45:13


Hukum 3/3

Sebelumnya Selanjutnya

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB