Drama Vanessa di Hotel Vasa - Hukum - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Hukum 1/2

Sebelumnya Selanjutnya
text

Drama Vanessa di Hotel Vasa

Polisi kembali membongkar jaringan prostitusi online yang melibatkan artis dan model. Proses penangkapannya dipersoalkan.

i Vanessa Angel (kiri) setelah menjalani pemeriksaan di Gedung Subdirektorat V Siber Direktorat Kriminal Khusus Kepolisian Daerah Jawa Timur, Surabaya.
Vanessa Angel (kiri) setelah menjalani pemeriksaan di Gedung Subdirektorat V Siber Direktorat Kriminal Khusus Kepolisian Daerah Jawa Timur, Surabaya.

Melalui Instagram, polisi mengamati gerak-gerik Vanessa Angelia -Adzan pada Sabtu dua pekan lalu. Video perempuan 27 tahun ini di aplikasi media sosial itu menjadi petunjuk polisi mengetahui pergerakan posisinya. Hari itu, di akun Instagram miliknya, @vanessaangelofficial, Vanessa mengunggah video keberadaannya di Surabaya. “Menjemput rezeki di awal 2019. See you at Town Square Surabaya,” ujar Vanessa dalam video tersebut.

Video itu menunjukkan Vanessa tengah berada di pesawat saat hendak terbang dari Jakarta ke Surabaya. Tim Siber Kepolisian Daerah Jawa Timur pun bergerak ke Bandar Udara Juanda, Surabaya, untuk memantau Vanessa. “Kami pantau gerak-geriknya lewat IG (Instagram) dia,” ucap Kepala Subdirektorat V Siber Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Jawa Timur Ajun Komisaris Besar Harrisandi, Rabu pekan lalu. “Kami memantaunya sejak datang di bandara sekitar pukul 11.05.”

Setelah tiba di Kota Pahlawan, pemain sinetron itu kembali mengunggah video. Kali ini saat ia tengah jalan-jalan di Surabaya Town Square. Dari bandara, Vanessa langsung menuju pusat belanja tersebut. Pergerakan Vanessa itu terus dipantau oleh tim kepolisian hingga akhirnya ia bertemu dengan Endang Suhartini alias Siska. Dari Surabaya Town Square, mereka lantas menuju Hotel Vasa, yang jaraknya sekitar 7 kilometer dari mal tersebut.


Avriellia Shaqqila / ANTARA FOTO/Didik Suhartono/wsj

Menurut Ajun Komisaris Besar Harrisandi, polisi mengawasi Vanessa karena menerima laporan ia datang ke Surabaya untuk melakukan praktik prostitusi online lantaran pemesanan dan transaksinya dilakukan secara daring. Polisi, kata dia, sudah cukup lama memantau kegiatan prostitusi on-line yang diduga dilakukan Vanessa. “Instagram Vanessa sudah beberapa bulan kami pantau karena ada laporan dia diduga terkait dengan prostitusi online,” ujarnya.

Polisi Surabaya memantau Vanessa tak lama setelah Direktorat Cyber Crime Kepolisian RI membongkar jaringan prostitusi di kalangan artis dengan muncikari Robby Abbas, Mei 2015. Penata rias para model yang menjadi muncikari artis dan model sejak 2012 itu menaungi sekitar 200 artis dan model. Robby divonis 16 bulan penjara karena kasus ini.

Dari situlah Direktorat Cyber Crime Polri mengawasi semua artis dan model yang ditengarai bagian dari prostitusi online. Salah satu nama yang dilaporkan ke polisi Surabaya adalah Vanessa Angel. Selain Vanessa, nama yang diterima Tim Siber Polda Jawa Timur adalah Maria Dalingga Siahaan alias Avriellia Shaqqila, 24 tahun. Har-risandi mengatakan, menurut informasi yang sampai ke Polda, model majalah dewasa itu datang ke Surabaya pada hari yang sama dengan Vanessa untuk menemui calon pelanggannya.

Vanessa datang ke Surabaya bersama asisten pribadinya, Ana Hasanah. Endang Suhartini alias Siska inilah yang mengundang Vanessa ke Surabaya dan menanggung semua akomodasinya di sana. Keduanya sudah kenal cukup lama. Saat tiba di Hotel Vasa sebelum masuk kamar masing-masing, Endang memberi tahu Vanessa akan ada yang menemuinya di kamar. “Vanessa, nanti ada bos yang mau datang ke kamar lu,” ujar Endang kepada Vanessa seperti ditirukan Aga Khan. Aga tak lain pengacara Vanessa.

Endang Suhartini alias Siska di Subdirektorat V Siber Direktorat Kriminal Khusus Kepolisian Daerah Jawa Timur, 10 Januari lalu. /ANTARA/M Risyal H.

Kepada pengacaranya, Vanessa mengatakan datang ke Surabaya untuk memenuhi undangan menjadi pemandu acara atau master of ceremony (MC) dalam acara perusahaan R di Surabaya Town -Square. Tapi, sebelum ia mengisi acara tersebut, sang pengusaha yang mengundang Vanessa melalui Endang lebih dulu menemui tamu spesialnya itu di kamar hotel.

Setelah itu, ketiganya menuju kamar masing-masing. Vanessa menempati kamar 2721, sedangkan Endang dan Ana di kamar 2720. Kedua kamar itu bersebelahan dan tersambung pintu penghubung.

Tidak berselang lama setelah ketiganya masuk kamar, pengusaha dengan inisial nama R yang dimaksudkan Endang datang menemui Vanessa di kamarnya. Menurut Aga, kliennya menceritakan pria itu membawa kunci kamar hotel sendiri, berbeda dengan kunci yang dipakai Vanessa membuka kamar. “Vanessa tidak membukakan pintu kamar, tapi pria itu sendiri yang membukanya,” ucap Aga.

Menurut Aga, kliennya mengatakan di dalam kamar hanya mengobrol dan tidak ada kegiatan prostitusi seperti yang dituduhkan polisi. Baru mengobrol beberapa menit, kata dia, polisi datang dan mendobrak pintu untuk menangkap keduanya.

Tak lama setelah penangkapan, melalui pengacaranya, Muhammad Zakir Rasyidin, Vanessa mengatakan versi berbeda saat digerebek di dalam kamar. Ia mengatakan sedang sendiri ketika polisi mendatangi kamarnya. Belakangan, Muhammad Zakir mengundurkan diri karena menganggap Vanessa tidak jujur. Posisinya kemudian diisi Aga Khan.

Menurut Ajun Komisaris Besar Harrisandi, Vanessa ditemukan bersama seorang laki-laki ketika polisi mendatangi kamarnya. “Sesuai dengan pengakuan R, ia baru sekali mengencani artis, tapi gagal karena polisi menggerebeknya,” kata Harrisandi.

Seseorang yang mengetahui kejadian ini menceritakan, Vanessa dan R sedang berada di atas ranjang saat polisi masuk kamar. Tapi Vanessa masih mengenakan celana panjang dan buste houder atau kutang, sedangkan R menggunakan baju dan celana. “Keduanya mungkin masih pemanasan,” ujarnya.

Ia mengatakan salah satu bukti kuat polisi menggerebek keduanya adalah adanya informasi uang transfer dari Endang kepada Vanessa yang nilainya belasan juta rupiah. Uang itu masuk ke rekening Vanessa pada pukul 11.38 atau satu setengah jam sebelum polisi bertindak. Uang itu jatah Vanessa dari uang muka yang diterima Endang dari pengusaha R melalui penghubung. “Transfer uang itu sudah memenuhi unsur menjerat muncikari,” ucap sumber itu.

Adapun soal uang di rekening Vanessa, Aga berdalih itu adalah honor kliennya sebagai MC. Ia juga mengatakan Vanessa tidak mengetahui uang yang masuk ke rekeningnya sampai penyidik bertanya setelah penangkapan. Keduanya lantas dibawa ke Markas Polda Jawa Timur. Pada saat yang sama, tim lain menangkap Endang Suhartini alias Siska. Polisi menyebut Siska sebagai muncikari. Asisten Vanessa juga ikut dibawa.

Satu jam setelah menggerebek kamar Vanessa, Tim Siber Polda menangkap Avriellia Shaqqila di pintu keluar jalan tol Waru, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Saat ditangkap, Avriellia sedang dalam perjalanan dari Bandara Juanda ke sebuah hotel di Surabaya. Di tempat terpisah, Tim Cyber Crime Badan Reserse Kriminal Polri bergerak menangkap Tentri Novanta di Apartemen Bassura City, Cipinang, Jakarta Timur, menjelang magrib. Tentri diduga sebagai muncikari yang mengatur kedatangan -Avriellia ke Surabaya.

Setelah diperiksa 24 jam, Vanessa dan Avriellia dilepaskan polisi. Mereka hanya diwajibkan melapor ke Polda satu kali dalam sepekan. Sedangkan Endang dan Tentri ditetapkan sebagai tersangka prostitusi online. Keduanya diduga melanggar Pasal 27 ayat 1 jo Pasal 45 ayat 1 Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik. Ketentuan ini mengatur ancaman hukuman satu tahun penjara bagi orang yang sengaja memudahkan perbuatan cabul terhadap orang lain.

Seusai pemeriksaan, Vanessa dan Avriellia meminta maaf. “Saya menyadari kesalahan dan kekhilafan yang telah saya lakukan merugikan banyak orang,” kata Vanessa. Ia mengaku ke Surabaya untuk memenuhi undangan kegiatan sang pengusaha lewat Endang.

Kepala Polda Jawa Timur Inspektur Jenderal Luki Hermawan mengatakan Endang dan Tenri diduga mengendalikan jaringan prostitusi artis dan model dengan anggota mencapai 145 orang. “Mereka mematok tarif bervariasi, dari Rp 20 sampai Rp 100 juta. Penggunanya dari dalam dan luar negeri,” ujar Luki.

Kendati menjadi tersangka, Endang dan Tenri tidak dimunculkan ke publik oleh polisi. Polisi baru memperlihatkan mereka pada Kamis pekan lalu dengan wajah tertutup. Ini berbeda dengan kedua artis dan model yang diduga terlibat itu. Keduanya dipampang di depan media dan menyampaikan permintaan maaf kepada publik.

Dua hari setelah keduanya meminta maaf, polisi tak juga menampilkan wajah pengusaha R dan kedua tersangka. Perlakuan ini membuat pengacara Vanessa Angel sebelumnya, Muhammad Zakir Rasyidin, menuding polisi berlaku tidak adil terhadap kliennya. “Klien kami sebagai korban, tapi kenapa wajahnya ditampilkan ke publik?” katanya. “Seharusnya Vanessa dan Avriellia itu dilindungi sebagai korban.”

Muhammad Zakir ragu akan keberadaan pengusaha ini karena polisi tidak pernah memperlihatkan pria berinisial R tersebut. “Kalau orangnya ada, seharusnya juga diperlihatkan mukanya,” ujarnya. Aga Khan, yang menggantikan Zakir, mengiyakan dugaan itu.

Ajun Komisaris Besar Harrisandi mengatakan R adalah pengusaha tambang pasir di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Dia tinggal di Jakarta Selatan. Harrisandi membantah jika R disebut sebagai tokoh fiktif atau polisi yang menyamar sebagai pelanggan Vanessa. “R bukan tokoh fiktif ciptaan polisi,” katanya. “Wong saya yang memeriksa, kok rekan-rekan tidak percaya?”

Komisi Nasional Perempuan menilai ada kesan eksploitasi dan perlakuan diskriminatif atas publikasi kasus ini. Reaksi Komnas muncul setelah menerima laporan masyarakat atas dugaan diskriminasi dalam penanganan perkara tersebut, di antaranya dari pengacara Vanessa. “Kami menentang kriminalisasi yang menyasar pada perempuan yang dilacurkan,” ujar Komisioner Komnas Perempuan Mariana Amiruddin.

Dalam kasus ini, polisi menyita lima jenis barang bukti milik Vanessa Angel, yaitu satu unit telepon seluler iPhone X, seprai warna putih, kacamata, celana dalam warna ungu, dan alat kontrasepsi. Penjelasan polisi ini berbeda dengan Surat Tanda Penerimaan Nomor STP/03/I/RES.2.5/2019/Ditreskrimsus tertanggal 6 Januari yang diteken Vanessa. Dalam surat ini hanya tertera empat barang Vanessa yang disita, minus alat kontrasepsi.

Kepada wartawan, Endang Suhartini dan Tentri Novanta mengakui sebagai muncikari para artis dan model. “Saya enggak ngajak, tapi mereka menawarkan diri,” kata Endang.

 


 

Sahabat dan Urusan Syahwat

Tentri Novanta, 37 tahun, dan Maria Dalingga Siahaan alias -Avriellia Shaqqila, 24 tahun, mulai saling mengenal dalam sebuah kegiatan para model pada pertengahan tahun lalu. Puluhan model top Tanah Air hadir dalam kegiatan itu, termasuk Avriellia.

Tentri, yang berprofesi sebagai usher atau penjaga stan dalam setiap pameran, berada di lingkungan modeling tersebut karena kenal beberapa orang di antara mereka. “Keduanya berkenalan seperti biasa saja,” kata Heru Prayitno, pengacara Tentri, Kamis pekan lalu.

Dari perkenalan itu, keduanya jadi sering berkomunikasi dalam urusan pekerjaan. Komunikasi antara Tentri dan Avriellia berlanjut hingga tim Subdirektorat V Siber Direktorat Reserse Kriminal Khusus Kepolisian Daerah Jawa Timur mencokok mereka pada Sabtu dua pekan lalu. Polisi menangkap mereka karena keduanya diduga terlibat pelacuran secara online. Tentri ditengarai berperan sebagai muncikari, sedangkan Avriellia diduga sebagai penyedia jasa tersebut.

Heru menceritakan, sebelum penangkapan itu, seorang penghubung dari R, pengusaha tambang pasir di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, menelepon Tentri, Desember lalu. Penghubung itu mengatakan bosnya membutuhkan seorang model dan artis untuk kegiatan hiburan. Lalu Tentri mengirimkan foto-foto Avriellia. “Ia menyodorkan Avriellia,” ujar Heru.

Setuju dengan model majalah dewasa itu, penghubung tadi lantas meminta seorang artis sebagai entertainer. Perempuan yang menjadi perantara itu sempat menyebutkan nama artis yang diinginkannya, yaitu Vanessa Angelia Adzan, pemain sinetron.

Karena tidak mengenal Vanessa, Tentri lantas mengenalkan perantara tadi dengan sahabatnya. “Dari temannya itulah penghubung tadi kenal Endang,” katanya. Endang yang dimaksud adalah Endang Suhartini alias Siska, muncikari lain. Namun, menurut Heru, Endang dan Tentri tidak saling mengenal.

Akhirnya perantara tadi menghubungi Endang pada awal Januari lalu. Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Jawa Timur Komisaris Besar Akhmad Yusep mengatakan seorang perantara menghubungi Endang pada 1-5 Januari. Sang perantara menanyakan artis yang bisa digunakan jasanya. “User menghubungi Siska, tanya apa punya ‘barang’. Oleh Siska dikirimi foto Vanessa,” ucap Komisaris Besar Akhmad. Dari pembicaraan itu, kata Akhmad, keduanya bersepakat Vanessa akan menjadi pemuas nafsu pengusaha R.

Endang sesungguhnya menaungi 45 artis, termasuk Vanessa Angel. Vanessa dan Endang saling mengenal sejak 2017. Pengacara Vanessa, Aga Khan, mengatakan kliennya mengenal Endang lewat sahabatnya yang lain. Perkenalan mereka berlanjut hingga saat ini. “Ia diperkenalkan sama temannya,” ujarnya, Kamis pekan lalu.

Menurut hasil penyidikan sementara polisi, Endang dan Tentri menaungi 145 artis dan model. Foto-foto artis dan model itu mereka simpan baik-baik. Jika ada pelanggan yang membutuhkan pemuas nafsu, mereka memberikan foto-foto artis dan model yang mereka miliki. Dari ratusan artis dan model itu, enam orang sudah diketahui identitasnya oleh polisi. “Data digital dan percakapan mereka sudah kami teliti di laboratorium forensik,” kata Akhmad Yusep.

Tentri dan Endang mengaku sebagai muncikari, tapi membantah sebagai pihak yang proaktif menawarkan jasa kepada para artis dan model tersebut. Mereka mengklaim cuma sebagai perantara antara artis ataupun model dan calon pelanggan. “Mereka memang kebanyakan mau dan aku hanya penghubung,” ucap Tentri di Markas Polda Jawa Timur saat dimintai konfirmasi para pewarta, Kamis pekan lalu.

RUSMAN PARABUEQ, KUKUH S. WIBOWO (SURABAYA)

Selalu ada yang tersembunyi di balik peristiwa. Investigasi Tempo menembus batas untuk mengungkapkannya buat Anda.
Silakan register untuk mendapatkan akses 4 artikel gratis, atau langsung berlangganan dan nikmati sajian informasi berkualitas khusus untuk Anda.

2020-09-30 02:17:40


Hukum 1/2

Sebelumnya Selanjutnya

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB