Invasi Korea, Sorry, Sorry - Gaya Hidup - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Gaya Hidup 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Invasi Korea, Sorry, Sorry

Konser Super Junior menjadi bukti keberhasilan invasi budaya pop Korea ke Indonesia. Mengapa anak-anak kita begitu tergila-gila pada band Korea?

i

HOTEL Twin Plaza, Jakarta, awal April lalu. Eka, 15 tahun, rela antre berjam-jam demi mendapatkan tiket konser idolanya, Super Junior. "Saya sampai bolos sekolah," kata siswi Madrasah Aliyah Negeri 4 Jakarta itu. Lebih dari 12 jam ia menunggu, tiket ternyata sudah ludes. Untunglah tiket dijual kembali di Pekan Raya Jakarta dua minggu kemudian. Eka dan teman satu sekolahnya, Maya, berhasil mendapatkan tiket seharga Rp 1,4 juta per lembar.

Untuk selembar tiket menonton boyband asal Korea Selatan itu, Eka rela menghabiskan tabungannya selama dua tahun. Ia menghadapi perlawanan dari orang tuanya karena dianggap membuang-buang uang saja.

Tapi Eka sudah kadung lengket dengan Super Junior alias Suju. Semula dia jatuh hati pada drama-drama Korea, yang sering ia tonton sekitar tiga tahun lalu. Kemudian seorang teman Eka memperkenalkannya kepada aliran musik dari Negeri Ginseng, Korean pop (K-pop). Suju langsung memikat hatinya. "Mereka itu paket yang lengkap," ujarnya. "Jago nari, dance, nyanyi, akting. Cakep-cakep lagi."


Jumat dua pekan lalu, akhirnya Eka menonton aksi sembilan penyanyi cowok itu di Mata Elang International Stadium, Ancol, Jakarta Utara. Ia dan Maya sudah berada di lokasi sejak siang, delapan jam sebelum para bintang naik pentas. Orang tua Eka mengantar keduanya, karena acara berlangsung di tempat yang jauh dari rumah mereka di Pondok Pinang, Jakarta Selatan.

Pukul empat hingga lima sore, promotor acara, ShowMaxx Entertainment, mulai meminta pengunjung berbaris. Eka dan Maya berada di antara 8.000-an penonton yang ingin masuk. Mereka berdesak-desakan, tapi keceriaan terus terpancar di wajah mereka. Segala atribut Suju telah mereka kenakan, mulai baju biru muda bertulisan nama boyband itu sampai bando dengan nama personelnya, yang bertengger di kepala mereka. "Bando ini kami bikin sendiri," kata Maya. Tapi sebagai ELF atau Ever Lasting Friend, nama kelompok penggemar Suju, benda wajib yang mereka bawa adalah lightstick atau tongkat lampu berwarna biru safir.

Novi, 25 tahun, penjual pernak-pernik di konser itu, mengaku kebanjiran order tongkat sepanjang 25 sentimeter tersebut bahkan seminggu sebelum konser Suju. Yang bentuknya lurus ia jual seharga Rp 100 ribu. Yang bentuknya melengkung seperti kipas harganya Rp 150 ribu. Tongkat ini, kata dia, memang ciri khas konser boy­band atau girlband Korea. "Biru langit itu warna Suju," katanya.

Meskipun dilarang, Novi bersama temannya, Natasya, nekat menjual barang-barang itu saat konser hari pertama dan ketiga. Mereka menjajakan semua pernak-pernik, dari kaus hingga mug, dengan menggunakan mobil Toyota Avanza hitam yang diparkir sekitar 100 meter dari pintu masuk. "Dalam hitungan menit, dua boks lightstick, isi sekitar 50 buah per boks, habis terjual," kata Novi.

Keuntungan langsung ia keruk. Padahal Novi baru sebulan membuka tokonya, Pop Korean Shop, di kawasan Blok M Square, Jakarta. Keuntungan sekitar Rp 10 juta itu ia manfaatkan untuk membeli tiket konser Suju pada hari pertama. "Hari itu soalnya ada promo beli satu gratis satu," kata Novi.

Tepat pukul delapan malam, Suju membuka konser dengan lagu hit teranyar mereka, Superman. Irama dance hip-hop yang cepat membuat para penonton langsung bergoyang sambil mengguncang-guncangkan tongkat lampu mereka. Seluruh ruangan konser langsung jadi lautan biru. Selama tiga setengah jam Suju memanjakan penonton. Sekitar 30 lagu, termasuk Mr. Simple dan Sorry Sorry, mereka lantunkan di atas panggung yang bisa bergerak maju-mundur dan naik-turun itu.

Suju mencatat rekor menggelar konser terlama di Tanah Air. Mereka menampilkan konser bertema "Supershow 4" di lokasi yang sama selama tiga hari berturut-turut, 27-29 April. Dalam satu hari, tiket yang terjual mencapai 8.000 buah, dengan harga mulai Rp 500 ribu hingga Rp 2 juta. "Kami sangat senang dan berterima kasih kepada penggemar kami di Indonesia," kata salah seorang personel Super Junior, Lee Teuk, dalam konferensi pers.

Para personel Suju tidak ada yang bisa berbahasa Inggris. Tapi Eka mengaku sudah bisa berbahasa Korea sedikit-sedikit. "Karena sering nonton drama dan dengerin lagunya," katanya. Jadi tidak mengherankan bila para ELF bisa dengan fasih menyanyi bersama Suju sepanjang konser.

Apalagi Suju sering membuat penonton histeris dengan aksi mereka yang konyol. Beberapa kali terlihat personelnya berpelukan dan bersentuhan pipi. Ada pula yang memakai gaun Marilyn Monroe serta pita berwarna pink dan oranye di kepala. Mereka juga sering mengangkat tangan ke atas kepala, membentuk gambar hati. Mungkin itu pula alasan mengapa sedikit sekali pria yang datang menonton Suju. "Tapi saya suka lagu-lagu dan gerakan tari mereka," kata Vikri, 23 tahun.

l l l

Suju adalah salah satu fenomena budaya pop Korea. Mereka muncul dari program pemerintah Korea Selatan yang ingin meningkatkan perekonomian melalui budaya dan pariwisata. Suju sesungguhnya bagian dari sebuah strategi kebudayaan Korea. Pemerintah Korea mulanya mendukung penyebaran serial drama Korea di kawasan Asia sejak satu dekade lalu. Drama-drama Korea, semacam Endless Love, Dae Jang Geum, Winter Sonata, dan Full House, sampai pernah menjadi "tontonan wajib" remaja putri di Indonesia ketika itu.

Wajah dan penampilan bintang-bintang film Korea, seperti Won Bin, Bae Yong-jun, dan Song Hye-kyo, memang nyaris sempurna. Sebagian besar wajah mereka hasil permak di meja operasi. Hye-kyo, misalnya. Sebelum berpenampilan cantik tanpa cela seperti sekarang, ia aslinya berpipi tembem dan berhidung pesek.

Setelah sukses menyebarkan virus drama Korea ke seluruh kawasan Asia, pemerintah Korea kemudian menyokong musik pop Korea. Ini fase berikutnya untuk lebih menanamkan kultur Korea. Dan strategi ini juga berhasil di Indonesia. Dede Syaadah, 39 tahun, karyawati sebuah perusahaan konsultan komunikasi, adalah salah seorang "korban". Ia awalnya suka menonton serial drama televisi Korea. Menurut Dede, film drama Korea sangat cerdas memasukkan unsur budaya dan pariwisata. "Di setiap serialnya ada empat hal yang wajib ditampilkan yang asli Korea, yaitu teknologi, makanan, budaya, dan bahasa," katanya. Dede suka menggunakan produk-produk Korea, seperti Samsung dan LG, gara-gara sering menonton drama Korea.

Kemudian ia penasaran terhadap musik pop Korea. Ketertarikan Dede makin menjadi ketika tahu musik pop Korea muncul dari hasil kerja keras. Misalnya Suju, yang mengawali karier pada 2005. Para anggotanya harus masuk asrama selama beberapa tahun untuk mendapat pelatihan akting, menari, menyanyi, dan bermain musik. Cerita-cerita di balik layar seperti ini yang membuat Dede semakin gandrung akan K-pop.

Dia merasa girang ketika salah seorang anggota Suju, Siwon, menyatakan dalam akun Twitter miliknya, @siwon407, "Can’t wait see you jakarta :) good night beautiful world!" Tweet ini pun ditambah dengan foto close-up penyanyi bertubuh atletis itu. "Mereka sangat niat kalau ingin mendekatkan diri dengan penggemarnya," kata Dede.

Dia juga tidak mau kalah niat. Pada Februari lalu, Dede terbang ke Singapura untuk menonton konser Suju. Ketika tahu banyak orang Indonesia datang menonton, sembilan anggota boyband itu langsung menyapa mereka dari atas panggung. "Kami langsung berteriak paling keras," ujar Dede. Sayangnya, saat Suju menggelar konser di Jakarta, ia harus merelakan tiketnya dipakai keponakannya dari Banjarmasin dan Cirebon.

Bersama tiga temannya, Dede seminggu sekali mengadakan pertemuan untuk menyantap makanan Korea. Mereka berusia hampir 40 tahun. Tapi keempatnya bisa membahas K-pop tanpa henti. "Daripada pusing mikirin kerjaan, mending ngobrol yang ringan," ujar Silvia Pasaribu, 37 tahun, salah seorang anggotanya.

Silvia, yang berprofesi sebagai account director di Ogilvi, mengaku setiap hari menonton acara stasiun televisi berbasis Korea, KBS. Ia sulit mendeskripsikan kesukaannya itu. "Sentuhan Asia mereka berbeda. Mereka seperti penyanyi Barat tapi tidak terlalu bule," katanya.

Sebagai pekerja di bidang periklanan, Silvia kagum pada detail klip video kelompok penyanyi pria ataupun wanita dari Korea, seperti Super Junior, 2AM, 2PM, Girls Generation, 2NE1, dan Wonder Girls. Grup-grup musik itu beranggotakan minimum empat cewek atau cowok. Mereka menari dan menyanyi dengan irama dance hip-hop dengan kostum menarik. "Tapi koordinasi warna, penyuntingan, dan tema dalam setiap klip video sangat bagus dan terperinci," katanya. "Dalam 3-4 menit selalu ada dramanya."

Bukan hanya itu, soal penampilan pun Silvia mengaku mulai terpengaruh oleh gaya berbusana K-pop. Ia sekarang gandrung akan pakaian berwarna-warni dan menampilkan kesan imut. Ketika ke Korea setahun lalu pun ia tidak melewatkan kesempatan untuk potong rambut di sana. Bahkan, saat berlibur di Roma, Silvia tetap saja menyempatkan diri makan di restoran Korea. Lidahnya tak kangen masakan Indonesia, tapi masakan Korea.

Sorta Tobing, Gustidha Budiartie


Kisah Anti-fans Suju

Illa, 21 tahun, langsung mematikan televisinya ketika beberapa infotainmen menampilkan konser Super Junior (Suju). Dia tidak mau tahu apa pun tentang Suju, apalagi tentang fans Suju, yang dikenal dengan nama ELF. "ELF itu nyolot-nyolot banget anaknya," ujar Illa.

Sementara teman-temannya sibuk membicarakan serunya konser Suju di Ancol, Illa memilih menghindar. Dia menganggap aksi panggung Suju sering berlebihan. "Di satu acara pernah sesama personel Suju berciuman. Saya geli," katanya.

Illa adalah salah satu contoh anti-fans Super Junior. Suju sendiri memiliki anti-fans bernama Stupid Junior. Mereka rajin mengkritik gaya panggung Suju. Stupid Junior juga mengkritik sikap para penggemar Suju. Ketidaksukaan mereka kepada Suju sama obsesifnya dengan para penggemar Suju.

Biasanya anti-fans memiliki kelompok idola tandingan yang dianggap bersaing dengan band yang mereka benci. Illa mengaku tidak suka Suju karena memiliki grup idola Dong Bang Sin Ki (DBSK), yang berada satu manajemen dengan Suju dan saat ini sudah dibubarkan. "Bagi saya, DBSK belum bubar. Kualitas bermusik Suju jauh sekali dengan DBSK," katanya.

Selain anti-fans Suju, ada pula anti-fans girlband asal Korea, Sonyeo Sidae (SNSD) atau Girls Generation. Kelompok anti-fans SNSD menamakan diri STAND (Strong Till All Nine Disappear). Anti-fans SNSD sering menganggap sembilan gadis cantik SNSD selalu bersikap palsu. "Dalam acara fans gathering, mereka sama sekali tidak ramah," ujar Rahma, salah seorang yang anti-SNSD.

SNSD juga dianggap terlalu memuja kecantikan dan keindahan tubuh tanpa memperhatikan talenta. Beberapa show mereka dianggap terlalu berlebihan mengeksplorasi image mereka sebagai gadis polos dan seksi. "Terlalu banyak klip video mereka dengan rok mini, sambil menjilat lollipop, sambil bilang ciumlah aku," ujar anti-fans dari Korea yang mengaku bernama Jaysmile di situs anti-fans SNSD, Stand-International.

Di Indonesia pertarungan antara fans dan anti-fans K-pop ini untungnya sebatas dunia maya. "Sampai saat ini sih tidak ada yang kalau ketemu langsung bentak-bentakan di tempat," ujar Rahma. Namun perang di dunia maya ini tidak bisa dianggap remeh. Menurut salah seorang pengamat K-pop asal Korea, Jang Min-ho, dalam opininya berjudul "Kekuatan Anti-fans dalam Industri Musik", ada tiga jenis anti-fans dalam industri K-pop.

Yang pertama adalah anti-fans biasa. Anti-fans ini hanya berkomentar untuk menyatakan ketidaksukaannya. "Tujuan mereka adalah untuk benar-benar menyakiti kelompok fans dan tidak menyakiti artis itu sendiri," ujar Jang, seperti yang dikutip dari Soompi.com

Jenis anti-fans yang kedua adalah anti-fans yang mengikuti artis hingga masuk kategori menguntit. Anti-fans ini di Korea dikenal dengan nama Sasaeng Anti-fans. Mereka sebenarnya tidak dianggap sebagai ancaman oleh kelompok fans. "Namun lebih berbahaya karena berani melewati batas privasi artis," ujar Jang.

Jenis yang ketiga adalah jenis anti-fans yang paling berbahaya. Sebab, selain menguntit, mereka melakukan penyerangan terhadap artis tertentu. Misalnya dengan menembakkan pistol air berisi kecap atau memasukkan lem ke dalam jus yang akan diminum. "Orang-orang ini begitu penuh amarah dan ingin menghancurkan kehidupan seorang idola," ujarnya.

Meski begitu, menurut Jang, anehnya, tidak banyak artis yang mengajukan tuntutan balik atas apa yang dilakukan anti-fans mereka. Mungkin karena anti-fans justru membuat mereka tambah populer.

Cheta Nilawaty

2020-07-09 05:09:26


Gaya Hidup 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
Anda akan mendapatkan 8 artikel gratis setelah Register.

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Anda memiliki 3 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

8 artikel gratis setelah Register.