Delta Mekong: Gambaran Nyata Hancurnya Wilayah Pesisir Sungai - Financial Times - majalah.tempo.co

Financial Times 1/1

Sebelumnya
text

Bahaya Mengintai di Pesisir Mekong


Meningginya air laut yang didorong oleh perubahan iklim diyakini menjadi alasan Delta Mekong - salah satu lahan basah terbesar Asia - mulai tenggelam ke laut. 

Edisi : 22 Februari 2020
i Penambangan pasir ilegal di Sungai Mekong, Vietnam, April 2017. (foto: mekongeye.com)
Penambangan pasir ilegal di Sungai Mekong, Vietnam, April 2017. (foto: mekongeye.com)
  • Penambangan pasir ilegal menyebabkan dasar sungai Mekong tergerus dan pesisirnya mengalami erosi
  • Pemerintah Vietnam berencana membangun 11 bendungan di sepanjang Sungai Mekong dan memperparah kerusakan lingkungan
  • Warga di sepanjang delta Mekong diminta bersiap mengungsi setiap saat, pesisir sungai mulai runtuh dan beberapa rumah ambles ke sungai

Banyak cara bencana ekologi menghampiri kita; ada kalanya efek kerusakannya baru terasa dalam jangka waktu lama. Adakalanya datang secepat percikan air, seperti yang dialami penduduk Binh My di Vietnam bulan Agustus 2019 lalu. 

Mendengar suara dentuman dahsyat dari dari arah sungai, penduduk pemukiman di sepanjang Delta sungai Mekong beramai-ramai keluar rumah dan menjadi saksi kejadian yang nyaris tidak dapat dipercayai. Satu bongkahan dari jalan raya sepanjang 30-meter di depan pemukiman mereka patah dan tenggelam ke dalam sungai. 

Meningginya air laut yang didorong oleh perubahan iklim diyakini menjadi alasan salah satu lahan basah terbesar Asia ini mulai menyusut ke laut. 


Penyebab ambruknya jalan raya tersebut masih ditelisik, namun petani setempat bernama Bo menunjukkan sebuah mesin derek terapung yang tidak jauh dari lokasi kejadian. Derek tersebut digunakan untuk menambang pasir. 

“Aktivitas mereka memperdalam dasar sungai,” katanya.

Kelompok peneliti yang telah memantau perkembangan sungai Mekong meyakini krisis yang berulang-ulang mendera sungai ini sudah sampai titik darurat pada beberapa bulan terakhir. Mereka menyalahkan dampak kerusakan pada dua fenomena; penambangan pasir dari dasar sungai Mekong dan pembangunan bendungan - bendungan di hulu sungai, tepatnya di Laos dan Cina yang secara signifikan mengubah aliran sungai, konten sedimen, dan bahkan telah mengubah warna sungai. 

***

Nelayan menangkap ikan dengan jaring di danau Tonle Sap di Siem Riep, Kamboja, 26 Juni 2015. Danau yang terhubung dengan sungai Mekong tersebut dijadikan sebagai wadah mata pencaharian warga setempat sebagai nelayan. Brent Lewin/Bloomberg via Getty Images


Lumrahnya kapal - kapal penambang pasir yang beroperasi di delta Mekong didorong oleh kebutuhan pembangunan gedung - gedung pencakar langit di Ho Chi Minh City dan reklamasi pulau di sepanjang lautan Singapura. Kesemuanya seakan menutupi maslahat di balik penambangan pasir yang hingga kini masih menjadi salah satu industri global yang abu-abu dan minim regulasi. 

Hal ini sangat beresiko terhadap wilayah ekonomi vital padat penduduk yang oleh orang Vietnam sendiri dianggap sebagai penyedia “mangkuk nasi” mereka. Sebagai perbandingan, luas dan populasi delta Mekong melebihi luasnya dan padatnya seluruh negeri Belanda. Tempat ini lebih tepatnya dapat dianggap sebagai area pertanian untuk kota Ho Chi Minh dan industri perikanan non-laut dan buah-buahan terbesar untuk Vietnam. 

Peneliti juga mengatakan bahwa beroperasinya beberapa bendungan dari sebelas yang direncanakan di jalur utama Mekong akan membawa perubahan permanen. Ratusan kilometer di hulu bagian Laos, dua dari bendungan tersebut mulai beroperasi tahun lalu, dan menyebabkan terhambatnya aliran sedimen yang seharusnya secara alami mengisi kembali pasir yang diambil oleh kapal-kapal penambang. 

“Hal ini sama seperti saat pondasi rumahmu sendiri mulai terkikis. Pada akhirnya rumahmu itu akan runtuh,” kata ketua salah satu kelompok pemantau perkembangan Mekong dari Wetland University Network, Duong Van Ni. 

Di tengah kekhawatiran global akan hilangnya eksistensi penduduk pesisir, wilayah ini menjadi gambaran apa yang akan terjadi di masa depan. Penduduk kampung Binh My mengatakan pada Financial Times bahwa mereka sudah diwanti-wanti untuk memindahkan perabotan mereka dan bersiap untuk evakuasi mendadak kapan saja. 

Masyarakat pesisir Thailand hingga ke wilayah utara mengatakan ketinggian air sungai sudah berkurang secara drastis dan mengalami perubahan drastis. Ini tampak pada warna air yang berubah dari coklat alami menuju warna biru yang sekarang mereka lihat. Terutama selepas dibukanya bendungan Xayaburi di Laos pada bulan Oktober 2019. Fenomena perubahan tersebut disebut ahli ekologi sebagai “perairan lapar” karena arus derasnya bergerak lebih cepat dan menimbulkan dampak erosi lebih besar. 

Seperti yang dialami Tiongkok dua dekade silam, pertumbuhan ekonomi Vietnam yang pesat cenderung dibarengi kerusakan lingkungan. Bulan lalu saja Vietnam menekan kebijakan impor listrik dari bendungan di Laos guna mempertahankan pertumbuhan ekonomi di atas rata-rata Asia, 7 persen. Akan tetapi negara ini menghadapi konsekuensi naiknya polusi, eksploitasi lingkungan, dan pengembangan yang tidak dikelola dengan seksama. 

“Kebanyakan korporasi berpikir mereka tidak mengandalkan sungai, tapi kalau kita kehilangan perikanan maka harga pangan akan naik, begitu pula dengan upah,” sebut  Marc Goichot dari WWF Greater Mekong di Ho Chi Minh. “Risiko  akan muncul apabila penduduk dihadapkan dengan ancaman seperti ini, dan ada risiko regulasi apabila anda tidak memperhitungkan kelangkaan air dan pasir.”

***

Seorang wanita mendayung perahunya melalui genangan air banjir untuk menuju sebuah gereja di tepi sungai Mekong di desa Koh Phos, Kamboja (29/9). (AP Photo/Heng Sinith)



Penduduk Vietnam menyebut delta sungai Mekong dengan sebutan “Cuu Long” atau “sembilan naga” karena sedari dataran tinggi Tibet dan setelah melintasi enam negara, delta tersebut terpecah menjadi beberapa cabang menuju Laut Cina Selatan. 

Berumur 6,000 tahun, secara geologis delta ini masih terbilang muda semenjak terbentuk dari sedimen yang hanyut ke laut dan membentuk bendungan pasir alami yang pada akhirnya menjadi sebuah dataran. Lalu mangrove tumbuh dibarengi dengan populasi harimau kumbang, buaya, dan binatang-binatang liar lainnya yang sempat menjadikan tempat ini sebagai rumah mereka sebelum manusia datang dan mendominasi habitat ini.

Sekitar 20 persen dari 96 juta penduduk Vietnam tinggal di area delta Mekong, termasuk para pekerja di bidang tekstil, furnitur, dan perangkat-perangkat elektronik di jantung penggerak ekonomi kota Ho Chi Minh. Lebih dari satu abad di bawah kolonial Prancis hingga ke era Republik Vietnam Selatan - yang disokong oleh Amerika Serikat - penduduk-penduduk dipancing dan dipinggirkan ke wilayah delta ini sampai di era pemerintahan komunis saat ini.

Direktur Stimson Center Asia Tenggara dan penulis buku Last Days of the Mighty Mekong, Brian Eyler, mengatakan kawasan delta kini menjadi salah satu area paling terekayasa di planet bumi.”Pemanfaatan wilayah delta sudah melebihi kemampuannya untuk mengelola dirinya sendiri.”

Dataran delta ini masih mengalami pertumbuhan dua dekade yang lalu, namun para peneliti mengatakan saat ini beberapa area delta Mekong mulai kehilangan hingga 12-meter wilayah pesisir. Tingginya air dan merosotnya dataran membuat air asin dari laut menyerap ke dalam dan mengganggu keseimbangan antara air laut, air tawar, dan air payau yang sangat diandalkan oleh peternak udang dan petani-petani padi dan buah. 

Climate Central baru-baru ini mengeluarkan hasil studi yang memprediksi tenggelamnya sebagian besar wilayah delta Mekong pada tahun 2050. Akan tetapi, banyak yang mempertanyakannya karena dasar penelitian tersebut adalah perkembangan ketinggian air laut saat ini yang bertambah 3mm setiap tahun.

FT

Ancaman terdekat yang paling menghantui para peneliti dan penduduk setempat adalah munculnya erosi. “Perubahan iklim sifatnya bertahap dan manusia mampu beradaptasi,” kata konsultan dan aktivis lingkungan  Nguyen Huu Thien. “Kesalahan-kesalahan pembangunan dapat dikoreksi dengan perubahan peraturan, dan nyatanya kebijakan di Vietnam mulai berubah. Akan tetapi efeknya akan berpengaruh serius, permanen, dan tidak dapat diperbaiki lagi sesaat setelah bendungan di Mekong selesai dibangun.”

Efeknya sudah terjadi di pulau Minh yang terletak di salah satu anak sungai Mekong. Warga setempat yang tadinya bergantung pada memancing baru-baru ini mulai menanam rambutan, jeruk, longan (lengkeng) guna memanfaatkan pasar buah. 

Komunitas itu merasa hidup di bawah waktu yang telah disewa. “Mereka mulai kehilangan rumah, tanah, dan kebun,” sebut Bui Hong Nam, reporter TV lokal dan radio yang mereportase erosi yang terjadi di area ini.

Seorang pejabat lokal pulau An Binh, Ho Van Chien, mengatakan bahwa sudah ada dua rumah yang runtuh ke dalam sungai pada bulan Oktober dan 10 kepala keluarga yang terpaksa dievakuasi ke “dataran utama.” Ia berkata bahwa warga setempat ingin pemerintah membangun tanggul, “Karena kalau hal itu tidak dilakukan, maka tanahnya akan ambruk.”

Seperti penduduk lainnya di delta ini, pejabat tersebut menyalahkan erosi dan penambangan pasir. “Semua kapal beralih ke Saigon.”

Banjir di pusat kota Hanoi, Vietnam karena hujan lebat, Jum'at (31/10). Sebanyak 12 orang tewas akibat banjir tersebut. AFP Photo/Hoang Nam Dinh

 

Nasib delta ke depannya juga akan dirasakan oleh penduduk kota terbesar di wilayah itu, Can Tho. Dengan jembatan baru yang dibangun oleh Korea Selatan yang memiliki panjang 3-kilometer melewati salah satu anak sungai di “ekor naga” Mekong, sungai Hau. Kota ini juga memiliki hotel pesisir Vinpearl dan Vincom Plaza mall yang dibangun oleh salah satu konglomerat Vietnam, Vingroup. Namun, pemandangan sedikit terusik oleh wilayah tepi sungai yang sudah ambruk.

Kantor berita Vietnam melaporkan pada September 2019 bahwa enam dari 12 provinsi di delta ini membutuhkan “penanganan darurat” pada wilayah yang terdampak erosi. Penanganan itu muncul dalam bentuk Resolusi 120 yang menggarisbawahi tindakan yang menuntut “ketahanan” di delta. Resolusi ini pada umumnya difokuskan untuk mencari alternatif penghidupan dan lokasi untuk hidup bagi penduduk-penduduk yang terdampak.

***

Sebagian besar pembangunan di dunia mengambil pasir-pasir dari sungai. Upaya ini boleh dikatakan adalah sebuah komoditas yang tidak memungut korporasi biaya apapun, terlepas dari regulasi hukum dan lisensi, dan sudah menjadi praktek lumrah di Vietnam, Kamboja, dan Laos selama lebih dari 20-tahun. Produksi tumbuh signifikan karena meningkatnya proyek-proyek konstruksi dan infrastruktur di Vietnam dan reklamasi pulau di Singapura. 

Kementerian lingkungan Hanoi berusaha mengendalikan eksploitasi yang merajalela ini dengan merilis peraturan yang membatasi wilayah penambangan dan mengancam akan mempersekusi mereka yang melawan. Namun, para peneliti mengatakan bahwa peraturan tersebut masih memiliki banyak celah yang mudah diakali korporasi.

Reporter lokal Pak Nam menunjuk jarinya ke arah sebuah kapal penambang yang beroperasi di pagi hari kerja pada bagian Mekong bernama Co Chien. Ia memperlihatkan peta dari kementerian lingkungan dan menegaskan bahwa kapal tersebut beroperasi di area ilegal. 

Kapal penambang pasir sering menghindari penegak hukum bagian provinsi dengan sengaja mengambang di tengah-tengah sungai yang berada tepat di perbatasan antar provinsi dan selalu bersiap pindah area untuk menghindari denda. 

Kapal penambang ini juga sering memanfaatkan luasnya sungai. “Lima hingga enam kapal beroperasi setelah larut malam karena kapal-kapal milik pemerintah hanya cukup untuk menangkap satu,” ujar Pak Nam. Kalaupun tertangkap, denda buat kapal-kapal juga tak seberapa. 

Menurut para peneliti dan penduduk, orang-orang lokal yang waswas dengan ancaman erosi seringkali bersitegang dengan awak kapal penambang liar ini, seringkali warga menyerang mereka dengan ketapel dan tongkat. 
 

Foto berjudul Waterlily ini menduduki posisi kedua kategori People. Foto yang indah ini menggambarkan seorang petani memanen bunga teratai di Sungai Mekong, Vietnam. boredpanda.com

 

Reaksi kuat ini seiring dengan kesadaran akan kerusakan yang ditimbulkan oleh penambangan, apalagi saat semua bendungan mulai beroperasi. “Dari info yang kita ketahui sekarang, tidak akan ada lagi pasir saat 11 bendungan tersebut beroperasi,” disebut aktivis lingkungan Thien. “Kita hanya mempunyai pasir yang ada saat ini.”

Pihak berwajib Vietnam mulai fokus pada isu perubahan lingkungan dalam menyusun regulasi. Permasalahan lingkungan seperti kasus tumpahan beracun pabrik baja Taiwan menimbulkan gejolak pada negara yang membanggakan diri akan stabilitas ini. Resolusi 120 pemerintah mencoba untuk mengatasi permasalahan lokal dengan mengedepankan pembangunan berkelanjutan dan tahan iklim. 

“Bencana erosi diperparah oleh aktivitas penambangan pasir,” kata Mai Trong Nhuan, wakil ketua Panel Perubahan Iklim Vietnam. Dia memprediksi setidaknya setengah sedimen di sungai sudah hilang semenjak pembangunan bendungan Mekong dimulai satu dekade yang lalu. 

Dia mengungkap bahwa pemerintah sudah berupaya untuk mengatasi permasalahan ini dengan mendesain tembok-tembok beton sepanjang bibir sungai, akan tetapi mulai menolak solusi ini atas dasar “efisiensi pengeluaran.”

Pemerintah juga terfokus pada kampanye-kampanye guna meningkatkan kesadaran orang akan dampak lingkungan serius ini. “Agar publik menyadari betapa dekatnya ancaman kehancuran.” Nhuan tahu penduduk setempat takut kehilangan mata pencaharian; “Mereka punya skill berbasis dari sungai.”

Pemerintah Vietnam juga gencar mendorong perusahaan-perusahaan tambang untuk mencari alternatif lain sebagai sumber pasir mereka dan mencontohkan dari hasil gilingan batu pasir untuk konstruksi atau pasir laut yang cocok untuk bahan pengisi pulau buatan. 

Negara ini juga sudah melarang ekspor pasir dari tahun 2017 meskipun aktivis lingkungan yakin para penambang sedang mencari celah di pelarangan tersebut. 

Media milik pemerintah yang menjadi acuan baik untuk hiburan dan debat, sudah mulai mereportase apa yang sedang terjadi di delta Mekong. 

Sebuah liputan terbaru tentang provinsi yang amat terpapar lautan, Ca Mau, memperlihatkan evakuasi ribuan rumah tangga dan pembangunan bangunan-bangunan baru untuk 5,000 orang. Beberapa artikel bahkan secara eksplisit memperlihatkan runtuhnya jalanan umum dan rumah-rumah. 

“Pemerintah Vietnam sedang mencari solusi perubahan 180 derajat,” kata Eyler. “Memulai dengan menerima kesalahan-kesalahannya. Hal ini sangat membantu.”

Artikel ini pertama kali diterbitkan Financial Times pada 05 January 2020.

Penerjemah: Ricky Mohammad Nugraha

2020-04-08 19:34:56

Delta Mekong Perubahan Iklim

Financial Times 1/1

Sebelumnya

Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
Anda akan mendapatkan 8 artikel gratis setelah Register.

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Anda memiliki 3 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

8 artikel gratis setelah Register.