Masa Lalu yang Berulang - Financial Times - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Financial Times 2/3

Sebelumnya Selanjutnya
text

Masa Lalu yang Berulang

Tahun 1980 diketahui sebagai dekade yang hilang di Amerika Latin. Banyak yang khawatir krisis saat ini bisa mengulangi periode kelam itu.

i Sekelompok anak muda yang tergabung dalam Cochala menyalakan api untuk merayakan ditunjuknya senator Jeanine Anez sebagai Presiden Bolivia, Selasa lal
Sekelompok anak muda yang tergabung dalam Cochala menyalakan api untuk merayakan ditunjuknya senator Jeanine Anez sebagai Presiden Bolivia, Selasa lal

Gereja Katedral Veracruz di Ibu Kota Cile, Santiago, habis dilahap si jago merah saat kerusuhan di tengah mogok massa, pada Selasa 12 November 2019  lalu. Veracruz merupakan gereja Cile ke-enam yang dijarah dan dibakar dalam kerusuhan baru-baru ini. 

“Suasananya bagaikan perang dunia kedua,” kata Walikota Santiago, Felipe Alessandri, saat memantau puing sisa kebakaran gereja yang berumur 170 tahun itu. Santiago merupakan salah satu kota terkaya di Amerika Latin. 

Peristiwa tersebut merupakan pengingat bahwa meskipun pemerintah telah menjanjikan anggaran sosial ekstra, serta kabinet dan konstitusi baru, kerusuhan yang sudah mencengkram ekonomi terbesar Amerika Latin itu tetap berlanjut.


Sebagian kelompok sayap kiri Amerika Latin mendukung apa yang mereka sebut sebagai perlawanan masyarakat Cile terhadap kegagalan kebijakan ekonomi presiden Sebastian Pinera, seorang milyuner konservatif. Namun Bolivia menyebutnya sebagai hancurnya seorang politisi dari ujung spektrum politik yang lain.

Kepala negara asli Bolivia yang pertama, Evo Morales, terbang ke Meksiko 14 tahun setelah pemerintahannya runtuh di tengah amukan massa yang marah karena kecurangan pemilu. Hal tersebut juga memicu baku hantam antara pendukung dan penentangnya.

Tingkat kematangan politik dan kekayaan antara Cile dan Bolivia sangatlah timpang. Namun, gejolak yang melanda keduanya memang sesuai dengan pola yang lebih luas di Amerika Latin tahun ini.

Protes massa telah mengguncang pemerintahan Ekuador, Haiti, Honduras, dan Venezuela. Hal tersebut juga menyebabkan bubarnya parlemen Peru, terpilihnya presiden dari kelompok sayap kanan garis keras di Brasil, kandidat anti-establishment memenangkan kursi presiden di El Salvador, dan pencoblos mengusir pemerintahan petahana di Argentina.

“Amerika Latin sedang memanas, dari ujung selatan hingga Meksiko,” kata Albert Ramos, pakar ekonomi Amerika Latin di Goldman Sachs New York. “Dampaknya parah dan sudah berlangsung selama beberapa tahun.”

Ramos menuduh negara-negara ekonomi lemah di Amerika Latin sebagai penyebab utama; yaitu negara dengan pertumbuhan riil dengan GDP hanya sebesar 0,8 persen selama lebih dari 6 tahun terakhir. 

Tahun 1980 diketahui sebagai periode “lost decade” (dekade yang hilang) di Amerika Latin setelah krisis hutang membuat ekonomi di regional tersebut mengalami kemandekan. Banyak negara berpendapat bahwa risiko yang dihadapi sekarang merupakan pengulangan atas apa yang terjadi pada masa itu.

Pendukung mantan Presiden Bolivia, Evo Morales, bentrok dengan pendukung oposisi di Ibu Kota La Paz, Senin lalu.

Permasalahan diawali oleh berakhirnya kesuksesan komoditas global di tahun 2014.

Pemerintah Amerika Latin di periode sebelumnya, yang didominasi oleh sayap kiri, telah menghabiskan banyak untuk mengurangi kemiskinan dan pendistribusian ulang pendapatan tapi tidak banyak berinvestasi dalam infrastruktur atau pendidikan agar perekonomian mereka bisa berkompetisi di masa sulit. Pertumbuhan macet dan puluhan juta penduduk kelas menengah harus merasakan keuntungan mereka terkikis, serta meredupnya prospek masa depan. 

Ditambah lagi, IMF menetapkan Amerika Latin sebagai regional dengan pertumbuhan yang paling lambat tahun ini dan tahun depan dengan prediksi pertumbuhan hanya sebesar 0.2 persen di tahun 2019. Bahkan tahun ini, pertumbuhan negara-negara sub-Sahara Afrika saja diprediksi sekitar 3.2 persen.

Peristiwa yang paling dramatis adalah  Venezuela yang carut-marut di bawah pemerintahan sosialis Nicolas Maduro. Lebih dari 4,5 jt pengungsi meninggalkan negara pengekspor minyak tersebut setelah ditimpa keruntuhan ekonomi dengan beberapa kali masa tenang yang terjadi bersamaan. Tapi kinerja ekonomi negara-negara lain di regional tersebut juga suram.

Dahsyatnya kerusuhan Cile membuat khawatir para pengamat yang sejak kediktatoran Pinochet di tahun 1990 melihat negara tersebut sebagai negara contoh di benua yang sedang bergolak. Bahkan Pinera sendiri, dalam wawancaranya dengan FT bulan lalu, membuat perbandingan. “Lihatlah Amerika Latin,” kata Pinera. “Argentina dan Paraguay berada dalam resesi, Meksiko dan Brazil sedang mengalami kesendatan, Peru dan Ekuador menghadapi krisis politik dan dalam hal ini, Cile terlihat bagaikan oasis karena demokrasi kami stabil, ekonomi bertumbuh, kami menciptakan pekerjaan, menaikkan gaji, dan menjaga keseimbangan ekonomi makro.”

Presiden Chili, Sebastian Pinera. (AP Photo/Wong Maye-E)

 

Lalu, sepuluh hari kemudian, kerusuhan sudah mengepung ibu kota dan Pinera mengumumkan status emergensi dan menyiagakan pasukan. Badan amal di Cile, ‘Aid for the Church in Needs’, yang fokus pada komunitas Kristen yang dipersekusi di Irak dan Suriah, kini mengubah perhatiannya ke masalah-masalah yang lebih dekat di sekitarnya. 

Monica de Bolle dari Peterson Institute for International Economics di Washington mengatakan gejolak sosial di Amerika Latin bisa dijelaskan berdasarkan “ tunnel theory” (teori terowongan) yang dicetuskan pertama kali oleh seorang ekonom Harvard Albert Hirschman pada tahun 70an untuk menjelaskan perubahan toleransi terhadap ketimpangan ekonomi. Teori tersebut menggambarkan para pengemudi yang terjebak macet di dalam jalur terowongan.

“Tiba-tiba lajur di sebelahmu mulai bergerak sedangkan jalur mu tidak,” kata de Bolle, mengutip Hirschman. “Anda tidak mendapat keuntungan langsung tapi anda berharap bahwa situasi akan menjadi lebih baik. Apabila harapan tersebut tidak terpenuhi, maka akan menimbulkan rasa marah dan muak.”

Organisasi masyarakat yang berbasis di Cile, Latinobarómetro, yang menganalisis opini publik di sana menemukan bahwa saat ini kebanyakan masyarakat Amerika Latin melihat masa depan ekonomi mereka yang terkelam selama 23 tahun survei tersebut berjalan. Kelompok yang beranggapan bahwa negara mereka sedang mengalami kemajuan hanya sebesar 20 persen; nilai terendah sepanjang sejarah. Sedangkan 48 persen merasa ekonomi sedang stagnan, dan 28 persen percaya ekonomi negara sedang terjadi kemunduran.

Ironisnya, dua negara dengan sentimen positif terhadap kemajuan ekonomi adalah Bolivia dan Cile yang pertumbuhannya lebih kuat dari rata-rata regionalnya selama beberapa tahun terakhir.

Sekelompok anak muda yang tergabung dalam Cochala menyalakan api untuk merayakan ditunjuknya senator Jeanine Anez sebagai Presiden Bolivia, Selasa lal

 

Ketua Latinobarómetro, Marta Lagos, mengatakan penyebab keterpurukan Amerika Latin saat ini jauh lebih rumit dari sekadar isu ekonomi. “Ada persoalan ketidaksetaraan, serta kontrol politik dan korupsi, yang fatal bagi demokrasi.”

Gabungan permasalahan tersebut menyebabkan cepatnya penyebaran ketidakpuasan dan mudahnya  merancang aksi, bahkan tanpa biaya karena dilakukan melalui media sosial. Penduduk Amerika Latin merupakan salah satu pengguna aktif media sosial, di mana WhatsApp disebut sebagai pemeran utama dalam pemenangan tokoh anti-pembangunan seperti pemimpin sayap kanan Jair Bolsonaro di Brasil tahun lalu.

Namun, dukungan untuk demokrasi di Amerika Latin, yang dulunya lama dibayangi oleh kudeta militer, turun menjadi 48 persen tahun lalu. Angka tersebut merupakan level gabungan terendah.

Lagos mencatat bahwa hanya ada satu presiden negara besar di region tersebut, yaitu seorang populis sayap kiri Andres Manuel Lopez Obrador, yang menikmati level ketenaran lebih dari 50 persen, dan itu pun tidak mencapai satu tahun pemerintahan.

De Bolle menilai protes di Cile, yang dipicu oleh naiknya tarif metro, mirip dengan demonstrasi besar yang memporak-porandakan Brasil di tahun 2013. Demonstrasi tersebut juga dipicu oleh protes terhadap kenaikan tarif transportasi publik yang berubah dengan cepat menjadi gerakan kekerasan yang lebih luas; menentang kualitas pelayanan yang buruk. 

“Tidak ada yang memimpin, peristiwa itu merupakan gerakan spontan yang dilahirkan dari rasa frustasi. Hal tersebut menggambarkan bahwa ada yang salah dengan sistem namun tidak ada yang benar-benar tahu apa yang salah,” kata de Bolle. 

Ketua regional Amerika Latin di Perusahaan konsultasi Teneo, Nicholas Watson, yakin bahwa protes di Bolivia, Ekuador, dan Cile dipicu oleh isu-isu lokal tertentu dan faktor-faktor umum. “Yang paling penting adalah adanya akuifer yang lebih dalam dari rasa frustasi dan ketidakpuasan sebagai keuntungan yang terbentuk selama masa kepopuleran komoditas telah melemah atau mundur ke belakang,” kata Watson.

Prospek untuk tahun yang akan datang, apabila ada, akan lebih buruk. Meskipun kinerja ekonomi umumnya biasa-biasa saja, Amerika Latin dalam beberapa tahun terakhir setidaknya bisa mengandalkan fakta bahwa ekonomi global kuat, kebanyakan pasar juga stabil dan tersedianya modal investasi asing — faktor-faktor yang tidak bisa dijamin di masa depan.

“Di semua negara-negara Amerika Latin, situasi tersebut sangatlah membosankan karena kita harus melakukan banyak riset dan mencari tahu mengapa pertumbuhan di sana sangat biasa dan sangat rendah dibandingkan dengan regional pasar berkembang lainnya,” kata Ramos.

Menurutnya, Amerika Latin tidak banyak berinvestasi, menanamkan pendidikan, atau pun melakukan perdagangan. "Amerika Latin juga butuh lebih banyak infrastruktur yang lebih modern," tambahnya. 

Kondisi masyarakatnya juga sudah lebih beragam dibandingkan negara-negara lain. Hal ini menyebabkan polarisasi ekstrim politik di sebagian besar area menyulitkan Amerika Latin mencapai kohesi atau konsensus masyarakat dalam bentuk apapun.

Dua negara terbesar di Amerika Latin, Brasil dan Meksiko, dipimpin seimbang oleh kelompok populis sayap kanan dan sayap kiri. Sedangkan pendukung Maduro dan oposisi demokrat Hugo Chavez di Venezuela hampir tidak memiliki jurang. 

Sementara Morales memecah Bolivia berdasarkan etnis untuk menyemangati pendukungnya, para pengunjuk rasa di Cile menilai seluruh level politik sudah gagal karena tidak mampu mewujudkan masyarakat yang lebih adil.

De Bolle menganggap tren anti-pemerintah petahana berada di tengah arus yang terkadang saling bertentangan. “Pada saat pemilu, masyarakat tidak akan memilih seseorang yang gagal dalam memimpin, entah itu dari sayap kiri atau kanan,” katanya. “Dan mereka memilih seseorang yang berjanji akan melakukan sesuatu yang berbeda….Namun, itu tidak selalu menyelesaikan apapun.”

2020-06-01 10:33:35

Krisis Ekonomi Amerika Latin

Financial Times 2/3

Sebelumnya Selanjutnya

Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
Anda akan mendapatkan 8 artikel gratis setelah Register.

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Anda memiliki 3 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

8 artikel gratis setelah Register.