Film 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Hidup cuma sebuah kompromi

Pekan film ceko-slovakia yang memutar film-film yang mewakili zamannya. ada yang memotret zaman yang pahit, ada soal keterbukaan.

i
STEPAN membayangkan hidup yang penuh pengabdian dan kepahlawanan, begitu lulus dari fakultas kedokteran. Beberapa hari bertugas di rumah sakit membuka matanya: banyak hal lain yang dianggap lebih penting daripada menyelamatkan nyawa manusia. Tenis, misalnya. Seorang profesor bijak memberi nasihat: "Pada akhirnya, hidup cuma sebuah kompromi." Dan Stepan, yang kritis terhadap sejawatnya serta menolak main tenis dengan atasannya, harus menanggung risiko. Kariernya dipersulit. Ia dipindahkan ke klinik kecil di dusun becek yang dihuni petani-petani bodoh. Itulah gambaran umum film-film yang diputar pada Pekan Film Ceko-Slovakia di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pekan lalu. Penuh dengan korban kompromi. Ada lagi, misalnya, Milan dan Dana dalam Time of the Servants, si tukang pos Zdenek di Landscape with Furniture, atau Jakub yang petinju dalam Fists in the Dark. Tokoh-tokoh tersebut bukan cuma cerminan manusia masa kini. Mereka juga menggambarkan kondisi yang begitu lama meracuni masyakarat Ceko-Slovakia. Sebab, bagi bangsa yang terus-menerus dijajah -- tiga abad oleh kerajaan Hapsburg, enam tahun oleh Nazi, dan 40 tahun di bawah komunis -- kompromi mungkin satusatunya cara untuk bertahan hidup. Dalam How Poets Savour Life, misalnya, para pejabat yang memeriksa klinik tak peduli dengan berbagai masalah kesehatan yang harus ditanggulangi Stepan. Mereka cuma ingin jaminan bahwa jumlah pasien dan jenis penyakit di desa tersebut tidak melenceng dari "angka resmi yang dikeluarkan partai". Kekonyolan macam ini mungkin cuma bisa terjadi dalam rezim totaliter. Tapi, bagi sutradara Dusan Klein, semua itu sumber humor: mulai dari pasien-pasien yang datang meminta stempel dokter -- agar bisa masuk tim tenis, mendapat keringanan bayar listrik, atau sekadar bolos kerja -- sampai para dokter yang menerima uang "jasa". Maka, bukan sekadar kebetulan bila naskah How Poets Savour Life ditulis seorang dokter, Ladislav Pechacek. Lagipula, membongkar kondisi sosial bekas negara-negara komunis sering tak jauh berbeda dengan membedah manusia yang kebanyakan gaji. Sebelum kita bisa mencapai lubuk hatinya, lapisan demi lapisan kepalsuan harus dibabat terlebih dahulu. Perlu pisau yang tajam dan ahli bedah yang tak gentar. Akibatnya, banyak yang pasrah. "Aku berhenti mencari sosok kemanusiaan dalam diri manusia," ujar tokoh Dana dalam Time of the Servants. Film yang disutradarai Irena Pavalskova itu menyorot batas yang semakin kabur antara manusia dan kekuasaan dalam rezim totaliter. Ketika kenyataan adalah konsensus umum (yang ditentukan penguasa) dan seorang individu tak lebih dari partikel pemerintahnya, lenyapnya kemerdekaan individual memusnahkan pula sang individu. Dana yang sok intelektual dan antipartai benci pada rekan-rekan suaminya yang penjilat. Tapi setiap upayanya menghancurkan hidup mereka -- melalui pengkhianatan, fitnah, dan pengintaian -- persis dengan cara-cara yang dipakai aparat partai. Kejahatan Dana adalah kejahatan partai. Kita pun bertanya: siapa yang lahir lebih dulu, manusia jahat atau sistem jahat? Seperti teka-teki ayam dan telur, pertanyaan tersebut sulit dijawab. Tak ada jalan pintas. Yang ada hanya solusi fantastis. Ini yang terjadi dalam film Ghosts in the Attics: berkat bantuan boneka ajaib, seorang bocah memberi pelajaran tentang arti persahabatan pada tetangganya yang tamak. Sutradara Radim Curcek memang berbeda dengan Klein atau Pavlaskova. Ia tak sudi pusingpusing memikirkan sebab-akibat. Bukan berarti tak ada pesan penting di situ. Sebab, dalam Pekan Film Ceko-Slovakia, yang tak tertulis mempunyai makna sama dengan yang tertuang dalam film . Ghosts in the Attics, misalnya, boleh jadi telah melabrak tabu yang berlaku di Ceko-Slovakia pada saat itu. Kendati ia cuma sebuah film anak-anak, karakter boneka ajaib yang bisa bicara dan mempunyai kekuatan magis sangat bertentangan dengan ateisme partai. Lain lagi dengan Time of the Servants. Film yang teramat kritis ini diproduksi tahun 1988, satu tahun sebelum revolusi beludru yang meruntuhkan rezim komunis di Ceko-Slovakia. Itu menjadi bukti bahwa film -- betapapun buruknya seperti Fists in the Dark -- merupakan pertanda zamannya. Pada akhir tahun 1960-an, Milos Forman menyutradarai adegan ranjang yang pertama di Ceko-Slovakia. Karya tersebut mencerminkan semangat keterbukaan yang menggebu-gebu menjelang eksperimen "sosialisme berwajah manusia". Sebaliknya, karya Ceko-Slovakia tahun 1980-an macam How Poets Savour Life, Landscape with Furniture, Dear Friends, Well, dan terlebih lagi Time of the Servants, seperti meramalkan zaman yang semakin pahit. Pada akhir cerita Time of the Servants, Dana yang mengkhianati sahabat, suami, dan dirinya sendiri malah hidup rukun. Ia dan suaminya tak jadi bercerai. Dana bahkan akrab dengan pejabat-pejabat partai. Tapi perubahan ini bukan disebabkan oleh kebahagian, melainkan karena sebuah kebutuhan untuk terus bisa hidup nyaman. Sebuah kompromi. Revolusi rakyat tiga tahun silam mungkin berhasil menghapus sistem yang korup. Tapi orang macam Dana, dan birokrat yang selalu cemburu pada keberhasilan individu, masih terus bernapas. Mereka ada di mana-mana bukan cuma di Ceko-Slovakia menyamar sebagai wartawan, pengusaha, buruh, atau seorang profesor yang bijak. Mereka tak butuh pahlawan. Dengarlah. Mereka selalu berbisik: "Hidup cuma sebuah kompromi." Yudhi Soerjoatmodjo

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=162052346462



Film 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.