Turah dari Kampung Tirang - Film - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Film 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Turah dari Kampung Tirang

Sebuah film debut karya sutradara muda tentang Tegal yang lebih dari bahan lelucon acara televisi.

i

Turah dibuka dengan sebuah kematian.

Pengumuman dari pengeras suara bergema di sudut-sudut kampung mengabarkan meninggalnya Slamet, bocah 9 tahun. Dari percakapan Turah (Ubaidillah) dan istrinya, Kanti (Narti Diono), kita tahu kematian bocah itu karena demam tinggi. Sebelum meninggal, keinginan Slamet adalah memiliki layang-layang, tapi tak dapat dipenuhi ayahnya. Tanpa basa-basi, film ini langsung menyajikan suramnya hidup yang tak menyisakan banyak pilihan bagi orang-orang di Kampung Tirang.

Kampung Tirang adalah sebuah kampung nyata di pesisir Tegal, Jawa Tengah, yang berjarak 2,5 kilometer dari jalur pantura. Kampung ini terletak di tanah timbul di tengah sungai yang menjadi lalu lintas nelayan. Orang harus menggunakan sampan atau rakit untuk mencapainya dan keterbatasan akses inilah yang membuat Kampung Tirang terisolasi tanpa listrik.


Turah adalah pekerja yang menggantungkan hidup dan patuh pada atasannya, Darso. Darso adalah juragan yang memiliki semua tambak dan ternak di kampung itu. Penonton diperkenalkan pada tokoh-tokoh lain di kampung, seperti Kandar (Bontot Sukandar), pengurus kambing yang manut; Sulis (Siti Khalimatus Sadiyah), gadis kecil yang tinggal hanya dengan neneknya yang sakit; hingga Jadag (Slamet Ambari), yang menjadi tokoh paling berapi-api di tengah lambannya kehidupan kampung.

Seperempat bagian awal film adalah babak perkenalan pada tokoh-tokoh itu. Awalnya terasa agak menjemukan karena terlalu banyak nama dan wajah yang harus dikenali. Tapi sutradara Wicaksono Wisnu Legowo tampak ingin memberikan gambaran utuh dari berbagai sisi tentang kondisi sosial di kampung yang terletak di Tegalsari, Tegal Barat, ini.

Ia juga membangun karakter tiap tokoh dengan kedalaman lapisan yang tak terduga. Turah yang legowo ternyata punya sisi oportunis di lain kesempatan. Jadag, yang gemar berjudi dan mabuk-mabukan, bisa bersedih karena tak bisa membawa anaknya piknik. Lapisan karakter ini membuat tiap tokoh terasa dekat dan nyata.

Gejolak muncul saat Jadag menyadari seharusnya ada pilihan lain bagi mereka untuk keluar dari kemiskinan. Dengan mata melotot, ia meneriakkan pertanyaan di tengah kampung, mengapa mereka yang setia bekerja belasan tahun pada si juragan masih tetap menderita, sementara seorang pemuda bisa mendapat upah lebih hanya karena gelar sarjana yang ditentengnya. Ekspresi Jadag kasar tapi begitu menyentuh karena menyuarakan keputusasaan atas kemiskinan absolut.

Jadag pula yang menjadi pemicu warga Kampung Tirang menengok lagi kondisi mereka dan menimbang kembali apa yang harus dilakukan: pasrah menerima kemiskinan atau berjuang keluar. Dan, dengan halus, kita dituntun untuk menyaksikan bahwa dua pilihan itu bukanlah pilihan antara benar dan salah. Di hadapan kemiskinan, bersikap pasrah tak selalu berakhir dengan kekalahan dan berjuang tak selalu akan menghasilkan kemenangan.

Menonton film ini mirip menyaksikan sebuah dokumenter yang memotret kenyataan sebuah kampung. Interaksi Turah dan tokoh lain seperti sebuah potret nyata keseharian warga kampung. Dari menghidupkan genset untuk menerangi satu kampung saat malam datang hingga bergantian menyediakan makanan untuk Sulis dan mbah-nya yang tak berdaya.

Satu hal penting lain yang sengaja dihadirkan sutradara adalah penggunaan bahasa dalam dialog antartokoh yang dipilih dengan saksama. Bahasa dalam film ini tak sekadar sebagai alat percakapan tapi juga menjadi etalase strata sosial. Sehari-hari, warga Kampung Tirang bercakap-cakap dalam bahasa Tegal yang ngapak. Namun, saat berhadapan dengan juragan seperti Darso, mereka menggunakan bahasa Jawa halus lengkap dengan bahasa tubuh membungkuk-bungkuk. Perbedaan kelas semakin terlihat saat pejabat pemerintah, polisi, atau wartawan datang ke kampung dan berkeras menggunakan bahasa Indonesia (padahal mereka dapat memahami bahasa Tegal).

Sebenarnya Wisnu membuat skenario dalam bahasa Indonesia. Namun ia memilih aktor-aktor teater Tegal dan meminta tiap aktor menerjemahkan skenario dalam bahasa dan gestur sehari-hari mereka. Selain agar dialog lebih natural, Wisnu yang lahir dan besar di Tegal ini punya alasan lain menggunakan bahasa lokal dalam filmnya. "Di televisi, bahasa Tegal selalu dihadirkan sebagai lelucon. Padahal ini adalah bahasa yang digunakan sehari-hari untuk menyampaikan berbagai ekspresi, termasuk persoalan serius," katanya.

Turah menjadi film panjang pertama alumnus Institut Kesenian Jakarta itu. Sebelumnya, Wisnu membuat film pendek berjudul Tobong (2006), yang diganjar penghargaan dari dewan juri di Festival Film Indonesia 2006. Wisnu punya banyak pengalaman sebagai asisten sutradara Ifa Isfansyah, antara lain dalam Sang Penari, Pendekar Tongkat Emas, dan Catatan Dodol Calon Dokter. Ifa pula yang memproduseri proyek panjang perdana Wisnu ini.

Film ini baru dihadirkan ke publik pada akhir tahun lalu dalam Silver Screen Awards Asian Feature Film Competitiondi27thSingapore International Film Festival 2016. Turah mendapat penghargaanAsian Feature Film Special Mention dalam festival tersebut. Setelah itu, Turah diputar di Jogja-Netpac Asian Film Festival 2016 dan meraihGeber AwarddanNetpac Award. Di Jakarta, film ini baru akan diputar pada 4 Maret mendatang dalam acara Film Musik Makan oleh Kolektif di Goethe Institut.

Moyang Kasih Dewimerdeka


TURAH

Sutradara: Wicaksono Wisnu Legowo
Skenario: Wicaksono Wisnu Legowo
Pemain: Ubaidillah, Slamet Ambari, Rudi Iteng, Yono Daryono
Produksi: Fourcolours Film

2020-08-05 14:47:37


Film 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
Anda akan mendapatkan 8 artikel gratis setelah Register.

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Anda memiliki 3 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

8 artikel gratis setelah Register.