Mengharap Garuda Terbang Tinggi - Ekonomi dan Bisnis - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Ekonomi dan Bisnis 3/7

Sebelumnya Selanjutnya
text

Mengharap Garuda Terbang Tinggi

Persaingan menyulitkan posisi Garuda Indonesia yang kegemukan. Perampingan menjelang pergantian direksi.

i

GARUDA Indonesia kini tak ubahnya raksasa tambun nan lamban. Perusahaan penerbangan terbesar di Indonesia itu makin sulit bersaing dengan pemain-pemain baru yang mungil dan lincah, seperti Lion Air atau "newcomer" Air Asia. Sebagai pemimpin pasar, posisi Garuda memang belum tergoyahkan. Tapi pasarnya terus digerogoti, dan pendapatannya makin tipis. Beban utang yang lumayan besar juga menyebabkan kepak sayap Garuda makin lemah.

Pemerintah mencoba mengatasi berbagai masalah di Garuda dengan mengganti direksi. Pekan-pekan ini, Kementerian Negara BUMN tengah melaksanakan uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) terhadap sejumlah calon Direksi Garuda. Diharapkan, pergantian direksi akan membuat Garuda bisa lebih siap bertarung.

Peta bisnis penerbangan memang jauh berbeda dibandingkan dengan sebelum krisis, yang kemudian diikuti deregulasi sektor tersebut. Ketika itu Garuda, sebagai penguasa bisnis angkutan udara, bisa mendikte pasar. Kini, setelah deregulasi, dengan kemudahan izin mendirikan perusahaan penerbangan, Garuda harus pintar-pintar melayang. Jika tidak, ancaman para pemain baru tak bisa dipandang sembarangan.


Tengok saja kinerja Garuda tahun lalu. Dari target pendapatan Rp 11,3 triliun, perusahaan milik pemerintah ini cuma mampu menangguk Rp 8,6 triliun?cuma 75 persen dari target. Susahnya, Garuda masih harus menyelesaikan utang triliunan rupiah. Salah satu kreditor terbesar Garuda adalah European Credit Agencies. Kepada perusahaan ini, Garuda berutang sekitar US$ 610 juta atau setara dengan Rp 5,25 triliun.

W251bGwsIjIwMjAtMTEtMjUgMTM6MDI6NTciXQ

Selain itu, Garuda masih berutang US$ 460 juta (Rp 4 triliun) kepada berbagai pihak. Seluruh utang ini memang sudah direstrukturisasi, tapi tak berarti Garuda sudah terbebas dari utang. Garuda harus mulai membayar utangnya pasca-restrukturisasi setelah tahun 2008. Pada 2009 dan 2010, misalnya, utang Garuda yang jatuh tempo hampir mencapai US$ 390 juta.

Semua itu belum termasuk utang kepada kreditor dalam negeri, seperti ke Bank Mandiri, sebesar US$ 106 juta atau sekitar Rp 900 miliar. Garuda juga masih berutang kepada perusahaan katering PT Angkasa Citra Sarana dan Garuda Maintenance Facilities. Seorang sumber TEMPO di PT Angkasa Pura II membisikkan, tunggakan Garuda di perusahaan pemerintah yang mengelola Bandar Udara Soekarno-Hatta Jakarta dan Polonia Medan itu masih sekitar Rp 250 miliar.

"Karena yang Rp 200 miliar sudah berumur lebih dari lima tahun, akhirnya dikonversi ke obligasi dan kami tetap dapat bunganya. Sedangkan Rp 50 miliar lagi merupakan utang baru," katanya. Belum lagi berbagai masalah itu selesai, sepucuk surat melayang dari Otoritas Bandar Udara India, 3 Maret lalu. Surat itu sendiri sebenarnya ditujukan kepada PT Lion Mentari Airlines, yang sedang mengajukan permohonan untuk menerbangi rute Medan-Chennai dan Medan-Delhi, India.

Surat tersebut menyatakan bahwa otoritas bandara itu minta agar, sebelum Lion Air diizinkan terbang ke India, tagihan yang masih ditinggalkan Garuda Indonesia diselesaikan dulu, kalau perlu oleh pemerintah Indonesia sebagai pemiliknya. Nilai tagihannya sendiri tak seberapa jika dibandingkan dengan keuntungan Garuda tahun lalu, yang Rp 238,6 miliar.

Dalam surat itu disebutkan, Garuda diminta membayar ongkos untuk 400 kali penggunaan jasa bandara seperti pendaratan, parkir pesawat, dan lain-lain, yang besarnya 100 ribu rupee untuk setiap pemakaian. Dengan nilai kurs sekitar Rp 189 per satu rupee India, total tunggakan kurang lebih "hanya" Rp 7,5 miliar. "Dampak diplomatiknya yang lebih besar, karena ini membuat malu pemerintah dan kami sebagai sesama perusahaan Indonesia," kata Direktur Utama Lion Air, Rusdi Kirana.

Banyaknya persoalan di tubuh Garuda diakui oleh Direktur Strategi dan Hubungan Perusahaan Garuda, Wiradharma B. Oka. Tapi ia menolak jika dikatakan pihaknya mengabaikan tagihan-tagihan yang datang dari berbagai penjuru, termasuk dari India itu. "Mungkin ada kelambatan, tapi itu konsekuensi usaha kami supaya lebih efisien," katanya.

Khusus tagihan dari India, Wiradharma, yang memberi penjelasan bersama manajer keuangannya, Albert Burhan, punya perhitungan berbeda. Sudah sejak beberapa tahun lalu Garuda tak lagi menerbangi rute ke India. Namun, setiap kali terbang ke beberapa tujuan lain, pesawat-pesawat Garuda memang melewati udara India dan dikenai kewajiban membayar "sewa langit" negeri itu.

Besarnya sekitar US$ 1,5 juta setiap tahun. Tapi, ada kalanya pesawat-pesawat Garuda libur terbang, atau bergeser dari jadwal regulernya. Misalnya pada saat musim haji, yang banyak membutuhkan pesawat tambahan. Ternyata, India tetap saja menagih biaya sewanya. "Jadi, ada perbedaan perhitungan antara kami dan pihak di India. Tapi jumlahnya tinggal US$ 80 ribu, atau kurang dari satu miliar rupiah," Albert menambahkan.

Wiradharma menegaskan, satu di antara prioritas utama manajemen Garuda adalah membereskan utang-utang warisan yang sebagian besar tidak produktif. Adapun utang-utang yang dianggap produktif sudah selesai direstrukturisasi pada 2001. Karena itulah Garuda Indonesia tak mau membuat utang baru, kendati berdasarkan kesepakatan restrukturisasi dengan para kreditornya pada 2001 lalu Garuda masih diizinkan membuat utang baru hingga US$ 25 juta. "Dalam kondisi sulit tiga tahun ini, masih bagus kami mampu bayar 45 persen utang masa lalu itu," kata Wiradharma.

Garuda Indonesia juga terus melakukan perampingan, meskipun memanen protes karyawannya. Misalnya dengan melepas Garuda Maintenance Facilities. Menurut Wiradharma, berbagai perampingan itu memang tak terelakkan karena Garuda dianggap terlalu gemuk. Garuda memang punya banyak anak perusahaan yang tidak punya kaitan langsung dengan bisnis inti Garuda Indonesia. Jika perampingan itu tidak dilakukan sekarang, Garuda bisa habis karena gagal bersaing dengan para pemain baru.

Suka atau tak suka, kata Wiradharma, semua perubahan itu harus dilakukan jika Garuda tetap ingin bertahan menghadapi persaingan terbuka yang makin tak terhindarkan. Apalagi pemerintah, sebagai pemilik tunggal Garuda, seperti diungkapkan Deputi Menteri Negara BUMN Bidang Usaha Logistik dan Pariwisata, Ferdinand Nainggolan, Rabu lalu, berencana melego maskapai ini tahun depan. Jika kondisi Garuda yang amat tambun dan digelayuti beban anak-anak perusahaannya tetap seperti sekarang, tak akan banyak investor yang mau menghargainya tinggi.

Direksi yang sekarang sebetulnya sudah habis masa jabatannya sejak Juli tahun lalu. Sejauh ini, sejumlah nama calon anggota Direksi Garuda sudah menjalani uji kelayakan dan kepatutan. Beberapa nama sudah disebut, di antaranya bekas Direktur Keuangan Garuda, Emirsyah Satar, Wakil Direktur Utama BNI, Arwin Rasyid, Direktur Utama Bursa Efek Jakarta, Erry Firmansyah, Direktur Utama Garuda sendiri Indra Setiawan, dan calon Direktur Utama Garuda yang dulu gagal, Samudera Sukardi. Di pundak merekalah nasib Garuda akan ditentukan: melesat tinggi atau sebaliknya, tak layak terbang.

Y. Tomi Aryanto, S.S. Kurniawan

Selalu ada yang tersembunyi di balik peristiwa. Investigasi Tempo menembus batas untuk mengungkapkannya buat Anda.
Silakan register untuk mendapatkan akses 4 artikel gratis, atau langsung berlangganan dan nikmati sajian informasi berkualitas khusus untuk Anda.

2020-11-25 13:02:58


Ekonomi dan Bisnis 3/7

Sebelumnya Selanjutnya

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB