Ekonomi dan Bisnis 4/8

Sebelumnya Selanjutnya
text

Bijih plastik dari cilegon

Salah satu proyek hilir Chandra Asri, yakni pabrik bijih plastik Tri Polyta, mulai beroperasi pekan ini.

i
BIJIH plastik, yang selama ini diimpor, kini mulai diproduksi PT Tri Polyta Indonesia secara besar-besaran. Pabriknya di Cilegon, yang berkapasitas 200.000 ton per tahun, diresmikan Presiden Soeharto Sabtu pekan lalu. PT Tri Polyta Indonesia merupakan satu dari sekian mata rantai megaproyek PT Chandra Asri. Pemegang sahamnya adalah nama yang tak asing lagi: Henry Pribadi dan rekan-rekannya (melalui Astenia Group, 24%), Bambang Trihatmodjo dan Peter Gontha (Bimantara Group, 44%), Prajogo Pangestu (Barito Pacific Group, 12%), dan Sudwikatmono. Menurut Wakil Direktur Utama Tri Polyta, Henry Pribadi, pabrik bijih plastik ini menelan investasi US$ 220 juta. Pendanaannya sebesar US$ 50 juta ditanggung pemegang saham, sedangkan yang US$ 170 juta lagi merupakan pinjaman berjangka tujuh tahun. Sebanyak 60% dana pinjaman ini diberikan oleh 14 bank Jepang yang dipimpin Industrial Bank of Japan, sedangkan 40% lagi dari bankbank pemerintah (BDN, BRI, dan BBD). Salah satu produk Chandra Asri, yakni propilene, kelak akan menjadi bahan baku Tri Polyta. Sementara ini propilene harganya US$ 350-600 per ton -- masih harus diimpor dari Jepang, Korea Selatan, AS, dan Timur Tengah. Kendati bijih plastik merupakan salah satu substitusi impor, menurut Henry, produk Tri Polyta akan diekspor juga. Bahkan, Senin lalu, Tri Polyta telah melakukan ekspor percobaan 400 ton ke Malaysia, India, dan Filipina. Hal ini mungkin karena pabrik Tri Polyta, yang menggunakan teknologi Union Carbide Corporation (UCC), mampu menghasilkan 60 grade bijih plastik. Harga penjualannya US$ 700-800 per ton, sesuai dengan grade. "Dengan harga ini, kami perkirakan investasi bisa kembali dalam sembilan tahun. Kalau harganya melonjak sampai 1.400 dolar AS seperti waktu krisis Teluk, investasi tentu akan kembali lebih cepat," ujar Henry. Tri Polyta tampaknya tidak akan menjadi pemain tunggal dalam industri bijih plastik ini. Majalah Far Eastern Economic Review (edisi 21 Mei 1992) memberitakan, pabrik serupa juga akan didirikan oleh Hasyim Djojohadikoesoemo bersama British Petroleum di Balongan. Pabrik petrokimia milik Pertamina di Palembang juga sudah menghasilkan produk sampingan bijih plastik kecil-kecilan sekitar 2.000 ton. MW

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=162052372329



Ekonomi dan Bisnis 4/8

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.