Ekonomi dan Bisnis 11/17

Sebelumnya Selanjutnya
text
i
TVRI akan menjadi perseroan dan menerima iklan. Begitu pilihan utama yang akan diambil setelah TVRI tidak mendapat sumbangan dari stasiun tv swasta. Selama ini, TVRI mendapat 12,5 persen dari pendapatan iklan di TV-TV swasta. Namun, karena dinilai tidak efektif lagi, kesepakatan itu dibatalkan sejak 19 Oktober lalu. Padahal, televisi pemerintah itu sudah di ambang maut. "Untuk November ini, tidak ada duit untuk produksi," ujar Direktur Utama TVRI, Sumita Tobing. Sementara itu, TVRI juga masih punya utang ke Indosat, PLN, utang pajak, dan tempat lain sekitar Rp 100 miliar. Jadi, bagaimana TVRI akan mempertahankan nyawanya? Menurut Sumito Tobing, sesuai dengan Peraturan Pemerintah Tahun 2000 tentang pembentukan jawatan televisi, sumber pendapatan bagi TVRI bisa dari usaha-usaha lain yang sah dan bekerja sama dengan pihak lain. "Klausul itu bisa digunakan sepanjang per-aturan itu belum diganti," ujar Sumita. Tafsirnya, TVRI bisa menerima iklan. Saat ini TVRI membutuhkan dana hingga Rp 2 triliun untuk bisa bersaing dangan stasiun lainnya. Dari dana itu, untuk biaya operasional Rp 800 miliar per tahun. Selama ini, sumber dana TVRI dari APBN. "Ternyata itu hanya 10 persen dari total kebutuhan," tutur Sumita. TVRI seharusnya mendapat 12,5 persen dari penghasilan iklan TV swasta. Tetapi itu tidak jalan. Bahkan ANTV tidak bisa membayar sama sekali. Menurut hitungan TVRI, seharusnya ia bisa mendapat Rp 300 miliar dari jatah setor tv swasta. Namun, setelah dihitung bersama, paling banter TVRI hanya bisa mengantongi Rp 100 miliar.

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=162076608765



Ekonomi dan Bisnis 11/17

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.