Disapu Gelombang Kapal Yugo - Ekonomi dan Bisnis - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Ekonomi dan Bisnis 5/5

Sebelumnya Selanjutnya
text

Disapu Gelombang Kapal Yugo

Bis air dari Yugoslavia yang dioperasikan sebagai angkutan air di sungai kapuas besar, Kal-bar, dilempari batu oleh penduduk. Bis air eks Yugoslavia kurang cocok dengan kondisi perairan di Kalimantan. (eb)

i
EMPAT bis sungai buatan Yugoslavia sejak bulan lalu mulai menghubungkan urat-urat nadi ekonomi Riau Daratan -- sungai Siak, Indragiri, dan Rokan (lihat Daerah). Hadir pada peresmiannya, Menteri Perhubungan Rusmin Nuryadin, yang sebelumnya telah meresmikan operasi bis sungai serupa di Kalimantan Barat, Selatan, dan Tengah. Belum diketahui tanggapan masyarakat -- baik penumpang, maupun pengusaha angkutan sungai dan galangan kapal kayu -- di Riau. Namun di Kalimantan, ternyata tanggapan itu tak terlalu ramah. Di Kalimantan Barat, tempat proyek perintis sarana angkutan sungai yang baru itu, penghuni tepian sungai Kapuas Besar dilaporkan telah melempar batu dan memecahkan kaca kapal mewah tersebut. Ini diakui sendiri oleh Jevrem Sofronijevic, kepala perwakilan maskapai Yugo Rudnap yang menjadi rekanan bus sungai itu kepada TEMPO. "Mungkin karena pemilik kapal-kapal kecil takut kalah bersaing dengan bis sungai buatan kami." Kakilima Terapung Dari Kalimantan Tengah, datang tanggapan dari seorang perintis bis sungai buatan dalam negeri di Palangkaraya, W. Embang. Tulis pemilik bis sungai Semara Express itu dalam TEMPO minggu lalu "Bis air ex Yugoslavia ternyata kurang cocok bagi kondisi perairan di Kalimantan." Mengapa? "Gelombangnya sangat besar, sehingga dapat mengakibatkan karam atau terbaliknya gandengan perahu tiung ataupun perahu kecil (rombong), serta rusaknya jamban-jamban di kampung-kampung sepanjang sungai," alasan Embang. Pengusaha pribumi Kal-Teng itu juga berpendapat, dengan biaya sebuah bis sungai ex Yugo yang harganya Rp 200 juta dapat dibuat 10 bis sungai di Kalimantan. Lengkap dengan kabin penumpang ber-AC, seperti yang dimiliki bis sungai Yugo itu. Dan seandainya 10 bis sungai modern itu dibuat di Kalimantan, disainnya dapat disesuaikan dengan kondisi setempat, pengusaha galangan domestik dapat memetik manfaatnya, sambil menyerap banyak tenaga kerja setempat. Kritik tentang gelombang besar yang ditimbulkan oleh bis sungai Yugo berkecepatan 28 km/jam itu, sebelumnya juga telah diucapkan oleh anggota DPR-RI Sabam Sirait. Katanya sepulang menyaksikan inaugurasi bis sungai tersebut di sungai Kapuas Besar, Kal-Bar: "Gelombang-gelombang besar yang ditimbulkannya sangat mengganggu kehidupan dan ekonomi rakyat di tepi sungai." Kritik itu memang beralasan. Seoab rumah penduduk asli Kalimantan, khususnya suku Dayak, memang buntutnya menghadap ke sungai. Di pelataran di belakang rumah itulah para wanita mencuci pakaian, anak-anak berenang dan bersenda gurau, dan setiap orang dapat membuang hajatnya di jamban keluarga. Di kampung atau kota kecil yang merupakan simpul lalu-lintas sunai dan perdagangan, pinggiran sungai boleh dikata juga merupakan lokasi 'kakilima terapung'. Penjual es, warung makanan, sampai pada depot minyak tanah, bensin dan solar beroperasi dari perahu-perahu atau landasan-landasan terapung yang, tentu saja, belum dirancang untuk menghadapi serangan gelombang bis sungai Yugo yang menggebu-gebu. Sofronijevic mengakui adanya gelombang-gelombang itu yang menurut dia, disebabkan "perubahan disain di luar rencana semula." Jelasnya begini: Semula, bis sungai buatan galangan kapal di sungai Donau, Yugoslavia itu hanya dilengkapi dengan tanki bahan bakar utama yang sangat modern. "Tapi teknisi Indonesia ternyata belum mampu melayani tanki utama itu," katanya. Makanya lantas ditambahkan dua tanki pembantu di haluan kapal, yang memperantarai aliran bahan bakar (minyak solar) dari tanki utama ke mesin. Tanki pembantu yang disebutnya gravity tank itu rupanya juga berfungsi sebagai pemberat haluan kapal agar tak terlalu menukik pada kecepatan meluncurnya yang tinggi. Maklumlah, sarat air (draft) bis sungai Yugo itu hanya 0,75 meter. Sengaja dibuat begitu 'mengambang', "sebab di sungai-sungai di Kalimantan dan Sumatera banyak kayu gelondongan yang melayang di bawah permukaan air, dan dapat membahayakan navigasi," tutur Sofronijevic. Kondisi sungai-sungai Indonesia itu juga menyebabkan lunas kapal Yugo itu harus dibuat seringan mungkin dari baja tipis yang dipesan khusus. Selain ringan, ia harus lebih tahan karat lantaran kotornya perairan sungai di Kalimantan dan Sumatera itu. Adapun kabin kapal dan seluruh struktur atasnya terbuat dari fibreglass. Disain dan bahan baku khusus itulah yang membuat harga kapal itu menjadi mahal. Tapi bukan itu saja. Di Yugoslavia sendiri, bis sungai memang bukan merupakan alat angkutan penumpang yang lazim, sebab jalan darat lebih praktis. "Sungai di Yugoslavia, misalnya Donau dan Sava yang saling memotong di kota Beograd, hanya digunakan untuk para pelancong dan angkutan barang yang terpisah dari penumpang," begitu tutur Sofronijevic. Konsepsi Yugoslavia itulah yang rupanya mau diterapkan -- dengan sedikit adaptasi di sana-sini -- di Indonesia. Padahal pada berbagai sarana angkutan rakyat, angkutan penumpang dan barang tak terpisah secara ketat seperti di Yugo. Lihat saja kereta api di Jawa, dimana para bakul menyatu dengan barang cangkingannya di gerbong kelas ekonomi. Atau taksi air penghubung Banjarmasin dan Palangkaraya, di mana ruang palka dan atap kapal merupakan tempat barang, sementara para penumpang tua-muda, laki-perempuan berjubel di antaranya. Sementara penumpang yang tak membawa barang dagangan dan perlu berlayar lebih cepat dapat memilih perahu panjang (logboat), motor tempel (speed bot), atau bis sungai domestik yang dilengkapi kursi rotan, TV, dan konsumsi sepanjang pelayaran. Tarif bis sungai pribumi ini juga lebih murah daripada bis sungai Yugo (Banjarmasin-Palangkaraya Rp 2500/ orang, dibandingkan tarif bis sungai Yugo yang Rp 4000/orang). Namun sarana perhubungan sungai, yang dikelola oleh DLLASDF, juga membutuhkan 'modernisasi'. Makanya, ketika Dubes Rl di Belanda, Sumpono Bayuaji masih jadi Dirjen Hub-Dar, dipesanlah 23 bis sungai dan 20 truk sungai dari galangan kapal Brodo Tehnika di tepi sungai Donau, Yugoslavia. Tentang truk air yang akan mulai dilever awal tahun depan, orang Rudnap berusaha memberikan jaminan, bahwa "gelombangnya tak akan sehebat bis sungai, sebab bentuknya lebih besar, lebih pan jang, dan lebih stabil." Mudah-mudahan sajalah demikian. Sementara itu, galangan kapal domestik -- terutama galangan kapal kayu, yang biasa membuat kapal sungai atau kapal pantai -- boleh menggigit jari. Komentar seorang pimpinan mahasiswa Kal-Teng di Jakarta - "Mengapa STM Mandomai, yang sudah mampu membuat jembatan kayu dan kapal sungai, yang dimodernisir oleh ahli-ahli mereka dari Swiss, tak dipercayai membuat bis sungai?" Juga di Sumatera Timur, galangan kapal kayu yang sedang kendor usahanya lantaran penertiban trawlers kayu, hanya melongo melihat masuknya sejumlah kapal sungai mutakhir dari Yugoslavia. Sedang di Kalimantan Timur, di mana armada speedboat sedang lesu lantaran kendornya penebangan kayu, orang masih menanti-nanti apakah bis dan truk sungai Yugoslavia itu akan masuk ke sana pula. "Lalu, apa gunanya ada anjuran Presiden Soeharto supaya kapal dengan bobot mati di bawah 1000 ton dibuat di dalam negeri?" komentar seorang pengusaha.

Selalu ada yang tersembunyi di balik peristiwa. Investigasi Tempo menembus batas untuk mengungkapkannya buat Anda.
Silakan register untuk mendapatkan akses 4 artikel gratis, atau langsung berlangganan dan nikmati sajian informasi berkualitas khusus untuk Anda.

2020-09-30 06:12:24


Ekonomi dan Bisnis 5/5

Sebelumnya Selanjutnya

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB