Ekonomi dan Bisnis 11/12

Sebelumnya Selanjutnya
text

Telah datang, Andromeda

Andromeda bank didirikan prayogo pangestu, bambang trihatmodjo dan henry pribadi. modal dasar rp 10 milyar. sedang sofyan wanandi dan the new king mendirikan bank danahutama. modal dasar rp 60 milyar.

i
ADA kecenderungan baru di kalangan grup usaha swasta masa kini. Mereka umumnya merasa kurang lengkap bila tak memiliki bank sendiri. Belakangan, kalau sudah punya bank, mereka juga menerbitkan media -- majalah atau surat kabar -- yang diusahakan bisa beredar di kalangan luas. Pokoknya, grup-grup itu merintis akses ke masyarakat. Secara finansial, lewat bank, dan secara intelektual, lewat media massa. Satu sumber di Bank Indonesia menyatakan, hingga awal tahun ini, Pemerintah sudah memberikan izin pendirian bank umum baru kepada sekitar 35 investor. Tak jelas, apakah Menteri Penerangan Harmoko juga akan mengambil kebijaksanaan ekspansi yang sama, dengan mengeluarkan berbagai SIUPP (Surat Izin Usaha Penerbitan Pers). Yang pasti, mereka yang terjun ke bisnis keuangan itu bukanlah muka-muka baru. Contoh mutakhir adalah Andromeda Bank (AB) dan Bank Danahutama (BD) -- keduanya mulai beroperasi pertengahan bulan ini. Andromeda -- nama ini mengingatkan pada seorang dewi cantik dalam mitologi Yunani dan sebuah galaksi besar di ruang angkasa -- didirikan oleh tiga pentolan bisnis yang muncul dari tiga grup usaha besar. Mereka adalah Prayogo Pangestu dari Barito Pacific yang menguasai 50% saham, Bambang Trihatmodjo dari Bimantara (25%), dan Henry Pribadi dan Indocement Group (25%). Semua orang tahu, Barito adalah grup yang paling berjaya di dunia kayu lapis. Begitupun Bimantara, yang cepat mekar dengan lebih dari 100 anak perusahaan. Hanya nama Henry Pribadi jarang muncul di permukaan, kendati dia adalah seorang pemegang saham, dan juga seorang direktur di Indocement. Tapi perkongsian mereka di Andromeda sepenuhnya "secara pribadi-pribadi", seperti dikatakan Harry Kuntoro, salah seorang eksekutif Bimantara Group. Oleh karena itu, kendati grup masing-masing memerlukan kredit, mereka akan diperlakukan sama dengan nasabah-nasabah lainnya, tidak diprioritaskan. Untuk aset, mereka menetapkan target Rp 300 milyar tahun ini. Padahal, modal dasarnya hanya Rp 10 milyar. Ini tidak termasuk pembangunan gedung berlantai lima, serta pembelian perangkat komputer yang menelan investasi total Rp 5,2 milyar. Lalu, target aset tahun kedua melonjak ke Rp 700 milyar. Dan setelah lima tahun Andromeda berambisi masuk 10 besar di kalangan bank swasta. "Saya optimistis," kata Wim Iskandar, Managing Director Andromeda. Untuk mencapai itu, 65% kekuatan bank akan diarahkan pada corporate banking, yang menyediakan kredit jangka panjang. Alasannya, "Pasar retail sudah banyak yang memperebutkan," tutur Wim. Selain itu, Andromeda juga siap meluncurkan tiga produk sekaligus, yakni Andro Consult, Andro Cash, dan Andro Integral. Dua nama yang disebut terakhir tak beda dengan automated teller machine (ATM), dan rekening terpadu model Citione (lihat Bisnis Sepekan). Bedanya, untuk Andro Cash, bank itu belum memiliki mesin sendiri, hingga akan menumpang pada ATM milik Bank Bali. Andro Consult memberikan konsultasi gratis bagi nasabah. Ruang lingkupnya cukup lengkap. Mulai dari soal investasi, proses produksi, hingga pemasaran. "Ini penting, agar nasabah memiliki loyalitas tinggi," kata Wim. Lebih dari itu, Andromeda juga memiliki personel manajemen yang boleh dibanggakan. Lihat saja, tiga posisi kunci (direktur utama, direktur operasi, dan direktur pengembangan) dipegang oleh bankir-bankir bertangan dingin, jebolan Bank Dagang Negara. Tak heran bila Andromeda berani pasang target tinggi. Lain halnya Bank Danahutama (BD). Didirikan dengan modal dasar Rp 60 milyar, bank ini -- 60% dikuasai oleh Sofyan Wanandi (melalui Gemala Group), dan sisanya oleh "raja tekstil" The Nen King -- akan berkonsentrasi di consumer banking. "Tidak kami mungkiri bahwa untuk berorientasi pada corporate banking, masih jauh dari jangkuan," kata Hadipurnama Chandra, Dirut BD. Di samping itu, kiat promosi dan tabungan berhadiah yang banyak dilakukan bank lama dan baru tidak akan begitu saja diikuti oleh BD. "Semua itu memerlukan cost yang tidak sedikit," demikian Chandra.

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161836726753



Ekonomi dan Bisnis 11/12

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.