Ekonomi dan Bisnis 3/3

Sebelumnya Selanjutnya
text

Kami Harus Fleksibel

Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Dwi Soetjipto menjelaskan bagaimana strateginya menggenjot produksi migas yang terus melorot dan tak pernah mencapai target. Apalagi ketika rencana investasi baru tak menentu. 

i Kepala SKK Migas, Dwi Soetjipto  di Kantor SKK Migas, Jakarta, Selasa, 30 Juli 2019. 
TEMPO / Hilman Fathurrahman W
Kepala SKK Migas, Dwi Soetjipto di Kantor SKK Migas, Jakarta, Selasa, 30 Juli 2019. TEMPO / Hilman Fathurrahman W

TUGAS berat dihadapi Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas). Di tengah produksi yang terus melorot, tak pernah mencapai target, pemerintah berambisi menargetkan lifting minyak kembali melampaui angka 1 juta barel per hari pada 2030. Begitu pula produksi gas, yang diproyeksikan mencapai 12 ribu juta kaki kubik per hari, atau melonjak dua kali lipat realisasi tahun lalu yang hanya 5.461 juta kaki kubik per hari.

Target-target tersebut makin terasa ambisius ketika nasib sejumlah rencana investasi di sektor hulu migas kian tak menentu. Pada Senin, 8 Februari lalu, Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto menjawab pertanyaan Retno Sulistyowati dari Tempo tentang rencana lembaganya merealisasi target tersebut dan mengatasi berbagai masalah dalam sejumlah proyek migas.


Apa yang dilakukan SKK Migas agar target 2030 tercapai?


Sekarang kami mengubah mindset. Dulu, misalnya ada potensi, ada cadangan, tapi kalau kontraktor bilang tidak ekonomis, enggak akan diambil, tidak dieksploitasi. Nah, sekarang kami akan balik bertanya, berdiskusi dengan mereka, agar ekonomis Anda butuh apa? Misalnya mereka sampai perlu tambahan bagian (split), akan kami cek, pemerintah bisa terima hingga batas berapa. Yang penting hitungannya wajar, fair, tidak merugikan negara.

161479745733

Mengapa perubahan pola pikir itu penting?

Kalau potensi cadangan ini enggak diambil, pemerintah enggak akan dapat apa-apa. Efek penggandanya juga enggak ada. Tapi, kalau diambil, split pemerintah mungkin turun sedikit, tapi efek penggandanya ada. Jadi fiscal term harus lebih fleksibel. Ini yang sekarang kami kedepankan. Tentu kajiannya kasus per kasus.

Artinya kudu meminta persetujuan Kementerian Keuangan?

Iya, harus berdiskusi. Kami juga meminta pendampingan penegak hukum, Jaksa Agung Muda Perdata dan Tata Usaha Negara. Supaya tidak salah.

Produksi lapangan besar, seperti Banyu Urip di Blok Cepu, akan memasuki masa penurunan. Bagaimana rencana pengembangannya?

Kemarin baru selesai dimintakan izin ke Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi untuk memompakan gas yang produksinya naik ke sumur. Ini enhanced oil recovery (EOR) juga, pakai injeksi gas supaya minyaknya terangkat. Selain itu, ada eksplorasi yang sedang disiapkan, seperti Lapangan Giyanti. Sekarang produksinya ditahan di kisaran 200 ribu barel per hari, disesuaikan dengan fasilitas dan analisis mengenai dampak lingkungan (amdal). Nanti, kalau terlalu di-push, cepat habis.

Bagaimana dengan rencana produksi Rokan setelah Chevron menyetop pengeboran?

Ya, itu sangat mengkhawatirkan terhadap upaya menjaga reservoir. Kalau decline, Pertamina akan sangat berat mengangkatnya lagi. Makanya kami mendorong Chevron berinvestasi di masa transisi. Waktunya tidak banyak. Karena itu, dipikirkan cara pengembalian investasinya. Kami percepat, dijadikan cost, sehingga Agustus nanti, saat Chevron keluar, (investasi) bisa dikembalikan.

Skema ini sudah disetujui Kementerian Keuangan?

Sudah, nanti manfaatnya masuk ke Pertamina. Ini buat negara juga. 

Berapa nilai investasinya?

US$ 150 juta, untuk mengebor 190-an sumur.

Bagaimana dengan masalah lain yang mencuat beberapa waktu lalu?

Soal Rokan ini sebenarnya ada sembilan isu. Ada masalah migrasi data, pengalihan teknologi informasi, kegiatan pengeboran selama transisi, chemical EOR, kelanjutan kontrak-kontrak lama, transfer ketenagakerjaan, sampai perizinan dan prosedur operasi. Amdal Duri sudah selesai. Sedangkan Lapangan Minas, Bekasap, dan Rokan 50 persen. Ini semua harus diselesaikan.

Formula kimia untuk kegiatan EOR milik Chevron sudah diserahkan?

Percobaan EOR ini kan mulainya 2001. Sekarang yang penting data tersebut diserahkan ke negara. Itu sudah jalan. Yang tertinggal adalah bahan kimia yang digunakan. Ini kan hasil percobaan, produsennya Chevron Oronite. So far, Chevron Pacific Indonesia sudah membantu supaya Pertamina bisa bertemu dengan Chevron Oronite. Nanti tinggal dilanjutkan.

Artinya business-to-business, Pertamina harus beli?

Ini yang sedang dibicarakan.

Bagaimana dengan megaproyek Indonesia Deepwater Development?

Sekarang dalam proses pengalihan dari Chevron kepada calon penggantinya, Eni. Janjinya triwulan I ini selesai. Jadi kami masih menunggu. Kami berharap triwulan ini ada kejelasan. Selanjutnya ada triwulan lagi yang tersisa untuk me-review proposal baru. Itu targetnya.

Selalu ada yang tersembunyi di balik peristiwa. Investigasi Tempo menembus batas untuk mengungkapkannya buat Anda.
Silakan register untuk mendapatkan akses 4 artikel gratis, atau langsung berlangganan dan nikmati sajian informasi berkualitas khusus untuk Anda.

Reporter Retno Sulistyawati - profile - https://majalah.tempo.co/profile/retno-sulistyawati?retno-sulistyawati=161479745733


Chevron Blok Rokan Blok Cepu Kontrak Migas Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi | SKK Migas

Ekonomi dan Bisnis 3/3

Sebelumnya Selanjutnya

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB