Kolom: Mengapa Bursa Menghijau Meski Defisit Anggaran Melambung? - Ekonomi dan Bisnis - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Ekonomi dan Bisnis 4/4

Sebelumnya Selanjutnya
text

TINA, Jangan Lawan The Fed

Yopie Hidayat
Kontributor Tempo

i TINA, Jangan Lawan The Fed
TINA, Jangan Lawan The Fed

SEJAUH ini memang belum ada alternatif dolar Amerika Serikat sebagai mata uang global. There is no alternative (TINA). Dan, jangan melawan The Federal Reserve. Itulah dua doktrin utama yang menggerakkan pasar finansial hari-hari ini.

Maka, meski puluhan kota di Amerika sempat kacau terbakar, pasar tak peduli. Walaupun pertumbuhan bisa negatif tahun ini dan ribuan perusahaan bakal bangkrut, tetap saja tren harga saham menanjak di bursa New York. Indeks S&P 500, akhir pekan lalu waktu New York, sudah bertengger pada 3.204, kian mendekati level sebelum wabah meledak.

Pasar memang tak akan berani berspekulasi melawan The Fed, yang siap menjaga agar industri finansial tidak runtuh. Amunisinya tak terbatas. Bank sentral Amerika ini siap mencetak dolar seberapa pun banyaknya yang diperlukan. The Fed tengah melakukan perjudian besar. Taruhannya bukan hanya reputasi dolar dan perekonomian Amerika, tapi juga sistem finansial global.


Sampai akhir pekan lalu, perjudian suntikan likuiditas tanpa batas itu masih mampu mencegah kolapsnya pasar finansial. Per 3 Juni 2020, total nilai neraca The Fed sudah mencapai US$ 7,21 triliun, bandingkan dengan posisi pertengahan Maret sebelum wabah yang masih US$ 4,31 triliun.

Aliran dana begitu besar dalam tempo begitu singkat menimbulkan “banjir bandang” dolar yang juga mulai merembes ke mana-mana, termasuk Indonesia. Walhasil, sejak akhir bulan lalu pasar finansial di sini ikut menikmati sentimen positif, setelah begitu lama tertekan dampak buruk wabah Covid-19.

Hingga Jumat, 5 Juni lalu, indeks harga saham gabungan melonjak 4,9 persen hanya dalam sepekan. Pada kurun yang sama, dana asing senilai Rp 3,39 triliun masuk ke bursa. Di pasar obligasi, dana asing yang parkir di berbagai surat berharga negara per 4 Juni lalu melonjak menjadi Rp 938 triliun, bertambah Rp 21 triliun dalam dua pekan.

Banjir dolar juga mendorong rupiah. Akhir pekan lalu nilai tukar rupiah sudah kembali ke posisi sebelum wabah meletus, di kisaran 13.900 per dolar Amerika. Sentimen positif ini tentu menyegarkan investor bak angin surga.

Jangan terlena dulu. Pasar memang sedang terbuai banjir likuiditas The Fed. Namun, Jumat, 5 Juni lalu, di Amerika juga ada kejutan menyenangkan dari pasar tenaga kerja. Jumlah penganggur turun menjadi 13,3 persen, dari posisi bulan sebelumnya 14,7 persen. Tingkat pengangguran merupakan salah satu faktor fundamental yang amat penting untuk membaca tren ekonomi Amerika. Tambahan 2,5 juta orang yang kembali mendapat pekerjaan selama Mei bisa dibaca sebagai pertanda awal pulihnya ekonomi Amerika. Setidaknya, dampak Covid-19 tak separah perkiraan sebelumnya.

Sebaliknya, di Indonesia, dari sisi fundamental belum ada sinyal kuat yang menunjukkan perbaikan. Pemerintah memang sudah berangsur-angsur membuka kembali sebagian aktivitas masyarakat. Tentu ada harapan ekonomi segera menggeliat. Namun seberapa besar efeknya secara riil belum terlihat.

Di sisi fiskal malah muncul berita yang dapat membawa sentimen negatif. Pemerintah terpaksa merombak lagi anggaran yang baru sebulan sebelumnya direvisi melalui Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2020. Apa boleh buat, estimasi terakhir menunjukkan defisit anggaran melambung menjadi Rp 1.039 triliun, dari sebelumnya Rp 853 triliun. Penerimaan merosot, sementara belanja untuk penanggulangan dampak Covid-19 justru meningkat. Belum lagi ada kebutuhan untuk pemulihan ekonomi serta suntikan modal ataupun dana talangan bagi badan usaha milik negara yang tengah sempoyongan. Defisit yang begitu besar dapat mengancam kredibilitas anggaran pemerintah.

April lalu, lembaga pemeringkat S&P Global sudah menyampaikan pandangan. Melambungnya defisit anggaran dan beban utang dapat menimbulkan konsekuensi buruk bagi Indonesia. Peringkat layak investasi bisa hilang. Jika itu terjadi, banjir dolar bisa langsung berbalik pulang.

Bukan cuma itu, biaya bunga yang membebani pemerintah untuk utang baru akan melonjak. Defisit pun membesar. Pemerintah harus berutang lagi. Inilah lingkaran setan jebakan utang. Pemerintah harus berupaya sekuat tenaga jangan terjerumus ke dalamnya.

2020-07-09 05:22:26

Covid-19 Bursa Saham Defisit Anggaran (APBN)

Ekonomi dan Bisnis 4/4

Sebelumnya Selanjutnya

Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
Anda akan mendapatkan 8 artikel gratis setelah Register.

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Anda memiliki 3 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

8 artikel gratis setelah Register.