Ekonomi dan Bisnis 3/3

Sebelumnya Selanjutnya
text

Ancaman Bunga di Belakang Euforia

EUFORIA sedang melanda pasar saham. Indeks harga saham gabungan terus menanjak menancapkan rekor demi rekor. Ada baiknya investor tak larut dalam kegirangan, tapi selalu berhitung ulang dan kembali meletakkan horizon investasi pada jangka waktu sedikit lebih panjang.

Pertama, harga saham di Jakarta berlompatan bukan sepenuhnya karena ada perbaikan faktor fundamental secara signifikan. Pertumbuhan ekonomi masih berkisar 5 persen, tidak spektakuler untuk ukuran negara berkembang. Kinerja banyak perusahaan juga tak cukup dahsyat untuk mendorong penciptaan rekor. Pada saat yang sama, pemerintah justru agresif mencari tambahan penerimaan pajak, yang tentu saja berpengaruh negatif pada keuangan korporasi. Naiknya harga saham di bursa Indonesia lebih karena terdorong arus yang juga sedang mengerek harga saham di pasar negara-negara berkembang Asia.

i

EUFORIA sedang melanda pasar saham. Indeks harga saham gabungan terus menanjak menancapkan rekor demi rekor. Ada baiknya investor tak larut dalam kegirangan, tapi selalu berhitung ulang dan kembali meletakkan horizon investasi pada jangka waktu sedikit lebih panjang.

Pertama, harga saham di Jakarta berlompatan bukan sepenuhnya karena ada perbaikan faktor fundamental secara signifikan. Pertumbuhan ekonomi masih berkisar 5 persen, tidak spektakuler untuk ukuran negara berkembang. Kinerja banyak perusahaan juga tak cukup dahsyat untuk mendorong penciptaan rekor. Pada saat yang sama, pemerintah justru agresif mencari tambahan penerimaan pajak, yang tentu saja berpengaruh negatif pada keuangan korporasi. Naiknya harga saham di bursa Indonesia lebih karena terdorong arus yang juga sedang mengerek harga saham di pasar negara-negara berkembang Asia.

Pergerakan harga yang relatif seragam ini juga tak lepas dari semakin dominannya strategi berinvestasi secara pasif. Porsi dana pemain global yang masuk keexchange traded fund(ETF) semakin besar. Umumnya, ETF membeli portofolionya secara proporsional dengan mengikuti saja komposisi indeks yang menjadi patokannya. Hasilnya, pergerakan harga di suatu pasar bisa saja sekadar terdorong mengikuti naik-turunnya harga saham di pasar lain dari kelompok yang sama.


Alasan kedua, dan ini sebetulnya jauh lebih penting, bank-bank sentral utama dunia saat ini sedang berada di simpang jalan untuk mengakhiri era uang murah. Pekan lalu, Bank Sentral Inggris menaikkan suku bunga rujukannya menjadi 0,5 persen, setelah lebih dari sepuluh tahun terakhir menahannya pada angka 0,25 persen. Kini ongkos modal semakin mahal.

161820896310

Di Amerika Serikat, ada pula faktor pergantian pucuk pimpinan The Federal Reserve. Presiden Donald Trump memastikan tak memperpanjang masa jabatan Janet Yellen, yang akan berakhir pada Februari 2018. Trump menominasikan Jay Powell, yang menjabat anggota Dewan Gubernur The Fed sejak 2012.

Apakah Powell akan mengikuti garis kebijakan Yellen? Inti perdebatan adalah tentang pengurangan aset The Fed yang kini sudah mencapai US$ 4,5 triliun. Aset yang mahabesar inilah yang sebetulnya menggerakkan ekonomi dunia. Ini terjadi karena persistensi bank sentral mencetak uang semenjak krisis 2008. Sejak berakhirnya standar emas pada 1971, dolar Amerika Serikat dan berbagai mata uang utama lain sejatinya hanyalah kertas cetakan. Tak ada logam mulia atau benda berharga lain yang mendasarinya.

Sejak krisis, The Fed dan bank-bank sentral lain mencetak uang untuk membeli surat utang pemerintah. Uang inilah yang kemudian mengalir ke mana-mana menggerakkan ekonomi seluruh dunia yang nyaris runtuh. Yellen termasuk pemimpin The Fed yang percaya bahwa dolar yang dicetak secara semena-mena ini harus dikurangi secara bertahap.

Sejauh ini pasar menilai garis kebijakan Powell bakal sejalan dengan Yellen, yang juga menginginkan pengurangan aset berjalan bertahap. Yellen juga mengirim isyarat untuk menenangkan pasar dan menyatakan The Fed bisa berbalik mencetak dolar lagi jika keadaan memaksa dan ekonomi memerlukan intervensi kembali. Dalam jangka enam bulan hingga setahun ke depan, kebijakan moneter The Fed tampaknya masih akan berjalan sesuai dengan rencana. Desember mendatang bunga naik, dan akan naik lagi pada awal 2018.

Bagi investor di Indonesia, inilah alasan utama untuk mengambil sikap lebih berhati-hati. Naiknya bunga The Fed akan semakin menekan rupiah. Sedangkan euforia di pasar saham hanyalah bagian dari dinamika spekulasi jangka pendek yang memang menjadi motor penggerak pasar di mana-mana. Investor yang cerdas tentu dapat memanfaatkan euforia pasar tanpa ikut larut terseret melupakan risiko yang menghadang di depan.

Yopie Hidayat - Kontributor Tempo


Kurs
Pembukaan 27 Oktober 201713.630
Rp per US$ 13.500
Pembukaan 6 November 2017

IHSG
Pembukaan 27 Oktober 20175.998
6.038
Pembukaan 6 November 2017

Inflasi
Bulan sebelumnya3,72%
3,07%
Oktober 2017 YoY

BI 7-Day Repo Rate
4,25%
19 Oktober 2017

Cadangan Devisa
31 Agustus 2017 US$ 128,787 miliar
Miliar US$129,402
30 September 2017

Pertumbuhan PDB
20165,02%
5,1%
Target 2017

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161820896310



Ekonomi dan Bisnis 3/3

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.