Ekonomi dan Bisnis 5/7

Sebelumnya Selanjutnya
text
i

TAK kuasa ia menahan tangis. Suaranya bergetar. ”Sekarang saya di Belanda, jiwa saya sangat tertekan,” kata Pauliene Maria Lumowa, buron kasus pembobolan BNI itu, di ujung telepon, Jumat dua pekan lalu.

Kepada Metta Dharmasaputra dari Tempo, sekitar setengah jam lamanya Erry—begitu ia biasa disapa—bertutur panjang-lebar soal kasus BNI. Pemilik Grup Gramarindo ini membantah jika dikatakan dialah aktor utama pembobolan BNI Rp 1,7 triliun. Belum lama ini ia mengirim surat kepada Kepala Kepolisian RI, Jenderal Sutanto, meminta agar kasus ini diusut lebih jauh.

Sebagian ceritanya pernah dimuat majalah ini dari hasil wawancara khusus dengannya di Singapura, dua tahun lalu (Tempo, 21 Desember 2003). Berikut ini petikan hasil perbincangan dengan Erry, ditambah beberapa kali penjelasan tertulis yang dikirimnya lewat surat elektronik.


Apa maksud Anda berkirim surat ke Kapolri?

161831059043

Intinya menjelaskan perkara letter of credit (L/C) dan memohon agar rekening BNI di Bank of New York dibuka. Saya berharap polisi bukan lagi seperti dulu, yang melakukan pemeriksaan sesuai dengan pesanan sponsor. Dulu bukan mencari kebenaran, melainkan memaksakan pembenaran.

Maksudnya?

Dulu polisi tidak mau memeriksa adanya akta pengakuan utang. Terkesan ada pesan sponsor harus melemparkan semua terdakwa, termasuk Gramarindo, ke penjara. Para karyawan BNI pun dikorbankan. Kenapa para atasan mereka yang menyetujui pencairan L/C tidak diperiksa? Apakah cabang mampu mengeluarkan fasilitas L/C tanpa diketahui pusat?

Apa makna penting akta itu?

Dengan akta itu, hubungan Gramarindo dan BNI diakui sebagai hubungan utang-piutang. Jadi, mengapa dikatakan BNI dibobol dan kasus ini dipidanakan?

Kapan APU itu dibuat?

Akta ditandatangani oleh Ollah A. Agam dari Gramarindo pada 26 Agustus 2003 di hadapan notaris BNI, Muhammad Ridha. Juga ada akta penanggungan utang (personal guarantee) yang ditandatangani oleh Adrian Waworuntu dan saya sendiri. Tapi, selama ini akta itu disembunyikan.

Disembunyikan bagaimana?

Akta itu diserahkan notaris ke BNI pada 11 September 2003, tapi tidak pernah diserahkan ke Gramarindo. Saya baru mendapatkannya pada Februari 2005. Padahal, pembayaran biaya notaris Rp 180 juta dipotong dari rekening Gramarindo. Apa tujuan BNI menggelapkan akta itu?

Menurut Anda, apa sebabnya?

Agar Gramarindo tidak bisa membuktikan kepada polisi bahwa ada ikatan hukum atas pemberian fasilitas L/C oleh BNI kepada Gramarindo. BNI pun kemudian pada 3 Oktober 2003 melaporkan ke polisi bahwa Gramarindo membobol Rp 1,7 triliun.

Berdasarkan APU, berapa kewajiban Gramarindo?

Totalnya sekitar US$ 141,3 juta. Terdiri dari 30 slip L/C senilai US$ 81,9 juta dan 12 slip senilai euro 56,1 juta.

Dulu Anda pernah menyatakan L/C Gramarindo membengkak karena diminta menutup L/C macet perusahaan lain. Bisa dijelaskan?

Awalnya, Gramarindo mengajukan kredit untuk pembangunan pabrik marmer. Namun kemudian Edy Santoso (mantan Kepala Pelayanan Konsumen Luar Negeri BNI Kebayoran Baru) meminta bantuan Gramarindo untuk menutup L/C sejumlah perusahaan yang macet.

L/C perusahaan apa saja?

PT Mahesa US$ 5,4 juta, PT Petindo US$ 8,9 juta, PT Cipta Tulada US$ 2,2 juta, dan PT Pankifros US$ 5,3 juta. Total US$ 21,8 juta.

Mengapa Anda mau menerima tawaran itu?

Tidak ditawari, tapi dimintai tolong. Janjinya bukan Gramarindo yang akan membayar, tetapi akan menjadi kewajiban BNI untuk menutup kembali bila tagihan sudah dibayarkan oleh perusahaan yang berutang.

Gramarindo punya keterkaitan dengan empat perusahaan itu?

PT Mahesa dan PT Petindo tidak saya kenal. PT Cipta Tulada saya kenal, karena pernah meminjamkan uang kepada saya.

Ngomong-ngomong, Anda sekarang tinggal di mana?

Sekarang saya tinggal di Eropa.

Apa aktivitas keseharian Anda?

Membaca koran, khususnya kasus BNI, dan menghitung hari. Saya tidak mampu melakukan apa pun. Jiwa saya hampa, seperti kehidupan saya sekarang ini.

Aktivitas bisnis Anda?

Adakah orang yang mau berbisnis dengan buron seperti saya? Kalau ada, tolong kasih tahu saya. Biar saya bisa membiayai hidup.

Untuk menuntaskan kasus ini, apakah Anda bersedia datang ke Indonesia?

Saya bersedia apabila BNI sudah mengakui adanya APU. BNI juga harus mengakui, ada L/C yang dibuka Gramarindo namun dipakai oleh BNI sendiri untuk membayar L/C macet perusahaan lain.

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161831059043



Ekonomi dan Bisnis 5/7

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.