Buku 1/1

Sebelumnya
text

Setelah AURI Dijadikan Pesakitan

Buku ini mencoba membuka kembali fakta dan sejumlah bukti autentik tentang keterlibatan AURI di saat-saat G30S meletus.

i

MENYINGKAP KABUT HALIM 1965
Pengarang:Aristides Katoppo (koord.), Purnama Kusumaningrat, J.M.V. Soeparno, M.M., Drs. Moh. Cholil
Penerbit:PT Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 1999
KETIKA Soeharto berkuasa melalui "kudeta" konstitusional pada 1967, ia segera memproklamasikan negara Orde Baru (Orba) dengan semboyan saktinya, "…bertekad melaksanakan Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen". Sukarno dan para pendukungnya disingkirkan. Dan yang paling babak belur, tentu saja, adalah Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI). Pimpinan AURI, Laksamana Madya Udara Omar Dani, dituding sebagai salah satu pihak yang harus bertanggung jawab atas Gerakan 30 September (G30S), antara lain karena Presiden Sukarno dan sejumlah pimpinan G30S melarikan diri ke Pangkalan Angkatan Udara Halim.

Tuduhan bahwa AURI terlibat dalam aksi penculikan dan pembunuhan enam jenderal dan seorang perwira AD kian kuat dengan disebutnya Lubangbuaya sebagai tempat pesta-pora anggota Gerwani dan Pemuda Rakyat—inilah tempat yang terkenal sebagai lokasi pesta seks bebas sebelum menyiksa, mengerat kemaluan, dan "menghabisi" para pahlawan revolusi tersebut. Apalagi kemudian ditemukan ribuan pucuk senjata buatan Cina jenis chung, yang "konon" dikabarkan milik AURI untuk mempersenjatai Angkatan Kelima.

Apa yang sebenarnya terjadi seputar peristiwa G30S? Buku Menyingkap Kabut Halim 1965 ini mencoba membuka kembali fakta dan sejumlah bukti yang lebih autentik. Dalam buku ini, pihak AURI, yang selama 32 tahun dijadikan "pesakitan", kini jadi referensi utama untuk merunut kembali peristiwa yang hingga kini masih menimbulkan banyak versi itu.

Buku ini membuka tabir gelap peristiwa Lubangbuaya, yang oleh Orde Baru ditimpakan seluruhnya kepada AURI. Yang betul, di kawasan Pangkalan Angkatan Udara (PAU) Halim memang ada tempat bernama Lubangbuaya yang merupakan dropping zone untuk latihan penerjunan. Tempat ini tentu saja berbeda dengan Lubangbuaya sebagaimana disebutkan dalam sejarah Orde Baru. Lubangbuaya yang menjadi tempat latihan persiapan konfrontasi itu adalah sebuah desa yang berada 3,5 kilometer di luar wilayah PAU Halim.

Pasukan RPKAD pimpinan Letkol C.I. Santosa, yang bergerak menuju PAU Halim, sebetulnya salah sasaran. Juga, sesungguhnya, tak pernah terjadi baku tembak saat RPKAD masuk ke Halim. Memang ada baku tembak yang terjadi pada 1 Oktober 1965, antara RPKAD dan Batalyon 454. Keduanya berada di tempat yang salah, yaitu di dropping zone milik PAU. Pihak AURI justru melerai kontak senjata tersebut. Bukan hanya itu, pasukan AURI ternyata juga menunjukkan sikap bersahabat, antara lain dengan membagi ransum dari pangkalan untuk makan siang pasukan RPKAD.

Buku ini mengungkap sejumlah data, fakta, dan kesaksian baru. Namun, buku ini sama sekali belum memberikan jawaban tuntas atas peristiwa G30S yang masih gelap. Data baru yang terungkap ini malah menimbulkan sejumlah pertanyaan baru. Sejumlah lampiran foto, wawancara panjang dengan Omar Dani, serta surat dan pernyataan pimpinan AU yang tak pernah disebut dalam sejarah memberikan daya interpretasi baru atas kebenaran sejarah yang berlangsung secara "sempurna" selama 32 tahun terakhir.

Buku yang penerbitannya sempat dihambat sejumlah pihak "berwenang" ini bukan hanya sebuah buku menarik, tapi juga buku yang sangat berguna untuk setiap peminat sejarah yang ingin menelusuri kebenaran. Hanya, penggunaan istilah G30S secara tak konsisten merupakan salah satu hal yang mengganggu. Hal lain yang mengganggu dalam buku ini adalah digunakannya hasil interogasi Tim Pemeriksa Pusat (Teperpu) sebagai referensi. Ini adalah suatu hal yang secara akademis sulit untuk dipertanggungjawabkan, mengingat hampir semua bentuk interogasi sehubungan dengan peristiwa 1965 itu dilaporkan "selalu" disertai dengan aksi penyiksaan.

Buku ini juga terkesan melakukan simplifikasi atas seluruh prolog dan epilog peristiwa G30S, antara lain dengan menyatakan bahwa pelakunya tak lain memang tunggal, yaitu PKI yang didukung pemerintah komunis Cina. Dengan demikian, peranan Nekolim sebagaimana dilansir dalam pernyataan Menteri/Pangau Laksdya Udara Omar Dani pada 1 Oktober dan Deputi Menteri/Pangau Komodor Udara A. Andoko telah direduksi dan terabaikan. Padahal, semua orang tahu bahwa dinas rahasia Amerika Serikat, Inggris, dan Australia banyak berperan dalam operasi penggulingan Sukarno.

Stanley Adi Prasetyo


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161866127829



Buku 1/1

Sebelumnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.