Para Juru Foto dan Wajah Sejarah - Buku - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Buku 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Para Juru Foto dan Wajah Sejarah

Buku yang berisi koleksi foto tokoh dan peristiwa sejarah serta catatan tentang para juru fotonya.

i

IPPHOS Remastered Edition
Penulis: Yudhi Soerjoatmodjo
Tebal: 209 halaman
Penerbit: Harapan Prima, 13 Desember 2013

Akhirnya, bertepatan dengan ulang tahun ke-76 kantor berita Antara, buku kumpulan foto Ipphos hasil penelitian tim Antara, yang pada saat itu diketuai oleh Yudhi Soerjoatmodjo, terbit.

Buku hasil kerja penelitian yang lama dan tekun dengan tim kerja yang muda tapi mumpuni, yang disertai kekaguman dan kecintaan pada fotografi (khususnya jurnalistik-dokumenter), ini diberi judul (tipografi) Ipphos Remastered Edition pada sampul. Judul yang tentu juga mengacu pada kuratorial Oscar Motuloh.

Namun pada halaman dalam ada perlakuan yang lebih spesifik dengan pengantar Yudhi Soerjoatmodjo, "Ipphos Remastered: Dengan Dua Mata Terbuka". Tulisan tentang sejarah Ipphos ini bersebelahan dengan foto pendiri: Frans Umbas, Alex Mendur, Justus Umbas, dan Alex Mamusung di depan kantor mereka.


Dimulai dengan penggambaran situasi penyerahan kedaulatan (dalam bahasa kita; republik kembali ke Jakarta), yang deskriptif. Lalu penggambaran situasi zaman Hindia Belanda, pendudukan Jepang (menuju Indonesia), yang memberi inzicht pada kita tentang situasi dari zaman ke zaman serta kedudukan dan sikap para pelaku—kebanyakan berasal dari etnis Minahasa yang mendapatkan perlakuan khusus dari penjajah Belanda dulu—sampai lahirnya rasa kebangsaan dan ideologi nasionalisme Indonesia.

Pada kesempatan ini juga sempat diceritakan bagaimana arsip penyimpanan negatif yang sulit bagi semua organisasi oleh situasi politik bahkan terakhir bagi kantor berita Antara terjadi pada zaman Orde Baru, ketika kumpulan negatif dibakar oleh dugaan terlibatnya petinggi Antara dengan peristiwa politik pada 1965 (Antara sendiri baru aktif kembali pada 1976).

Dalam pengantar ini boleh dikata kita akan terkesima bagaimana para juru foto ada dan terbawa tapi sekaligus hadir aktif dengan kesadaran penuh, satu juxta-posisi dalam situasi dinamika revolusioner.

Pengantar awal ini diakhiri dengan satu pernyataan yang kritis kepada Budiardjo, Menteri Penerangan pada zaman Soeharto. Pak Bud, yang juga penggemar fotografi dan pernah bekerja di bawah pemerintahan Sukarno, menyatakan kepada Yudhi bahwa Ipphos adalah alat revolusi, yang tugasnya selesai setelah revolusi.

Yudhi menganggap cita-cita dan karya para pendiri Ipphos tidak berhenti saat revolusi fisik kita berhenti. Karya-karya Ipphos ini memiliki perspektif yang tersirat dan tersurat, yang menuntut dicapainya cita-cita kemerdekaan, karya-karya mereka punya fungsi dan tugas yang belum terselesaikan (oleh kita), satu pernyataan yang cukup lugas.

Buku setebal 209 halaman ini juga diantar satu tulisan untuk halaman foto. Tulisan yang mengajak kita untuk lebih memahami kerja serta arsip para juru foto yang tergabung dalam Ipphos, dan bagaimana peneliti GFJA, khususnya Yudhi, mencoba memilih dan memilah. Satu hal yang menjadi tantangan bagi peneliti adalah bahwa (negatif) hasil kerja Ipphos dikumpulkan sebagai hasil kerja bersama dan bukan ditandai oleh nama juru foto, semangat egaliter revolusi kemerdekaan saat itu yang agaknya dominan melandasi Ipphos. Sikap terpuji yang menyebabkan mereka (para juru foto Ipphos) terlupakan, dan perlu digarisbawahi bagi Yudhi menyebabkan "orang peduli pada karya mereka, tapi tidak pada penciptanya".

Buku kumpulan foto yang disunting secara khusus ini berusaha untuk tidak banyak menampilkan foto yang sudah dikenal dan biasanya mendapatkan teks yang juga menjadikan kita terpaku pada satu persepsi. Dijelaskan bahwa melalui pilihan karya-karya, pemirsa diharapkan memahami situasi dan semangat para juru foto yang tidak semata-mata melahirkan foto propaganda, tapi juga foto dengan pendekatan yang lebih manusiawi. Hal yang sebenarnya sudah inheren pada karya-karya mereka tapi (mungkin selama ini) tidak mendapatkan pembacaan dan interpretasi yang tepat.

Foto yang pada umumnya belum pernah atau jarang dihadirkan. Meski pernah dipamerkan—"Tahun-tahun Mukjizat" dan "Masa Depan Sebuah Masa Lalu" misalnya—foto-foto itu tidak pernah dibukukan seperti kali ini.

Sedikit catatan pada penyajian foto dalam buku, dengan sajian grafis yang apik ini. Mungkin terlalu teknis, menyangkut grafis, border hitam yang biasanya menunjukkan full frame. Penggunaan untuk kepentingan estetik mungkin saja melahirkan pertanyaan apakah foto hadir di buku sebagai full frame atau bukan. Karena memang kehadiran foto tentu lebih baik bila sesuai dengan sudut pandang (dan framing) juru foto itu sendiri.

Dalam satu percakapan dengan Oscar Motuloh, didapatkan keterangan tentang adanya karya-karya yang tampak dengan pendekatan estetik yang khas. Komposisi, pencahayaan, dan lain yang mengutamakan estetik, serta karya-karya yang memang dibuat lebih langsung (langsung, tanpa pretensi estetik). Penelitian bila merujuk pada karya-karya seperti ini memungkinkan seseorang dapat menduga siapa pencipta karya, karena setiap juru foto memiliki perspektif estetik yang khas.

Tentu saja ini bukan satu pekerjaan yang mudah, tapi karya seperti siluet Sjahrir di hadapan polisi di Mertoyudan (halaman 70) bisa digolongkan sebagai yang pertama. Foto korban pertempuran dalam perawatan (halaman 54) pun merupakan karya yang unik. Relasi antara juru rawat dan terawat, korban yang terbaring, seolah-olah menanti perawatan dan pengusung tandu. Menempatkan perawat di ujung gambar, dan ruang yang jauh dan lebar di sisi kanan, seolah-olah menggambarkan kerja yang tidak pernah selesai. Foto ini mungkin satu-satunya gambar (yang ditampilkan dalam buku) yang menggambarkan keletihan dalam perjuangan, satu sisi realitas yang jarang ditampilkan.

Sayang, tidak ditampilkan foto parade hari buruh saat Bung Karno didampingi Amir Sjarifuddin. Seri foto yang menarik menggambarkan situasi yang cukup mencengangkan kalau tidak menegangkan (koleksi foto GFJA).

Keharuan sekaligus keraguan tampil juga pada pembuatan foto saat-saat akhir Amir Sjarifuddin, back lighted hingga nyaris kehilangan detail, seolah-olah foto yang tidak sempurna dari seseorang yang sempurna (membaca). Karena memang bagi mereka yang ada di Yogya dan kenal dengan Bung Amir, ada banyak hal yang dipertanyakan dalam peristiwa Madiun (Madiun affaire dan bukan pemberontakan Madiun). Tidak mudah melupakan sosok Amir yang sangat diteladankan.

Melalui pendekatan ini nyatalah bahwa karya Mendur, khususnya Frans di Yogya, banyak memiliki nuansa pribadi-personal.

Dalam pengantar foto, ada penggolongan: Manusia Biasa dan Keseharian. Disampaikan bahwa penelitian mendapatkan begitu banyak karya yang aneka ragam, bukan hanya tokoh dan situasi revolusioner, melainkan juga keseharian dan rakyat biasa. Dan Ipphos merekam lengkap apa yang ada dan tengah terjadi.

Bagaimanapun kecenderungan merekam narasi besar tampak dominan pada koleksi foto. Suatu hal yang tidak bisa dihindari oleh keberpihakan para juru fotonya, yang memang cinta akan kemerdekaan Indonesia serta cita-citanya. Para juru foto tampak memiliki kedekatan serta kekaguman dan kecintaan kepada Bung Karno. Hampir semua karya menunjukkan BK dengan baik.

Ada yang menarik dari pembuatan buku ini, yaitu tentang kepemilikan gambar foto, yang pada zaman digital ini menjadi sangat berbeda dengan zaman negatif dulu ketika foto-foto ini dibuat. Dalam buku ada beberapa bentuk keterangan pemilikan: Ipphos Jakarta, koleksi Antara. Arsip Antara/koleksi Yudhi, atau koleksi Yudhi saja. Mungkin ada baiknya bila hal ini diberi penjelasan, guna kemudahan selanjutnya, baik saat reproduksi maupun izin penggunaannya.

Di sisi lain, agaknya karya-karya Ipphos ini seolah-olah telah menjadi milik negara oleh sumbangan perjuangan Ipphos, yang kita nikmati.

Memang, seperti dinyatakan dalam tulisan OM, bahwa bagi sejarawan Asvi Warman Adam, tidak terbayangkan buku sejarah kita tanpa foto pembacaan proklamasi atau pengibaran bendera Sang Saka pada hari kemerdekaan. Lalu bagaimana pengakuan para pemakai foto ini pada pencipta gambar? Ini bisa menjadi catatan khusus bagi kementerian yang berurusan dengan industri kreatif.

Remastered memberi reinterpretasi pada karya-karya Ipphos. Menghidupkan kembali foto-foto yang pernah menjadi identitas kebangkitan bangsa kita dulu untuk menjadi umbul-umbul penuntun dan rambu bagi generasi selanjutnya. Kebangkitan (kembali) akan identitas kita. Bila bukan untuk masyarakat umum, pastilah teruntuk para juru foto jurnalistik kita, untuk tetap mewarisi sikap dan cita-cita mulia pendahulunya.

Firman Ichsan (Pengamat, pengajar, pelaku fotografi)

2020-06-01 10:00:12


Buku 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
Anda akan mendapatkan 8 artikel gratis setelah Register.

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Anda memiliki 3 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

8 artikel gratis setelah Register.