Bahasa 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Matré

Penganut materialisme menolak cewek matré, mengingat orang yang bisa menyenangkan perempuan seperti ini adalah kaum borjuis.

i Matré
Matré

Ahmad Sahidah*

KATA di atas sering disematkan pada perempuan muda atau gadis. Cewek matré adalah sebutan bagi seseorang yang menyukai lelaki karena hartanya. Namun cowok matré juga diungkapkan untuk menggambarkan watak serupa dalam percakapan sehari-hari. Meski acap ditemukan dalam keseharian dan media hiburan, istilah ini tidak dimasukkan ke Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Namun kata lain yang merupakan asal kata tersebut diterakan, yaitu materi. Kata ini berarti benda, bahan, dan segala sesuatu yang tampak (konkret). Selain itu, ia bermakna sesuatu yang menjadi bahan (untuk diujikan, dipikirkan, dan dibicarakan), sehingga dari makna terakhir ini kita sering mendengar kata pemateri untuk orang yang menyampaikan sebuah makalah atau kertas kerja. Pendek kata, arti dari entri tersebut sejalan dengan konteks dari kalimat atau ujaran.


Menariknya, kata materi itu berasal dari material yang berfungsi sebagai kata benda dan materialistis sebagai kata sifat dalam bahasa asalnya, Inggris. Secara bendawi, material diserap seperti makna asal, yaitu bahan yang akan dipakai untuk membuat barang lain dan bahan mentah untuk bangunan, seperti pasir, kayu, dan semen. Hanya, dalam pengucapan, huruf e sering hilang, sehingga kita sering mendengar sebutan matrial.

161871459655

Dari kata dasar ini, kita mengenal istilah materialisme, yang ditakrif sebagai pandangan hidup yang mencari dasar segala sesuatu yang termasuk kehidupan manusia dalam alam kebendaan semata-mata dengan mengesampingkan segala sesuatu yang mengatasi alam indra. Kamus Cambridge memberikan pengertian yang hampir serupa: materialism is the belief that having money and possession is the most important thing in life. Tak pelak, kata ini berpadanan dan berkaitan dengan kata rakus, tamak, konsumerisme, dan banyak sifat yang oleh orang Jawa disebut kadonyan. Menariknya, orang Madura menyebut kata yang sama, yang berasal dari bahasa Arab, dunya, sebagai lawan dari akhirat.

Sayangnya, kata materialisme yang bermakna hedonisme sering dikaitkan dengan pemikiran Marxisme. Kaum agamawan sering menyerang penganut pemahaman kiri ini sebagai orang yang hanya memikirkan kesenangan duniawi, dengan berpesta-pora dan menganggap uang di atas segalanya. Apalagi ateisme yang merupakan kepercayaan teologis pengikut Marx makin memantapkan pengertian materialisme sebagai gagasan yang menolak ihwal spiritual dan rohani.

Atas dasar kenyataan di atas, sering pemaknaan kata terperangkap pada makna dasar atau denotatif. Sedangkan makna relasional, pandangan dunia, dan pesan utama tidak hadir dalam pidato pedakwah. Padahal materialisme yang dimaksud oleh Friedrich Engels itu adalah lawan dari idealisme. Kaum materialis dengan jelas menegaskan bahwa benda yang lebih dulu hadir, baru pikiran merespons.

Sejatinya, pengertian materialisme itu sendiri rumit, tidak sesederhana apa yang dibayangkan pengkhotbah. Kesadaran, cara berpikir, dan tabiat terbentuk akibat interaksi manusia dengan lingkungannya, mengingat materi dianggap sebagai sesuatu yang pertama. Buruh, petani, dan pegawai akan memahami secara berbeda benda-benda yang ada di sekelilingnya sehingga pemahaman idealisme bahwa dunia ide itu abadi lancung.

Persoalannya, adakah sifat matré itu musuh agama? Di sini, kontradiksi sering muncul karena hampir semua ibadah manusia, dari salat, puasa, sampai haji, ditunaikan untuk mendapatkan pahala. Dengan modal inilah orang yang beragama meyakini surga sebagai balasan yang setimpal dari kebajikan yang telah dilakukan. Lagi-lagi, ganjaran itu berupa kesenangan yang dulu dianggap maksiat dan dihujat. Tak hanya itu, gambaran firdaus begitu memukau dengan gambaran kesenangan duniawi, seperti ranjang emas, payung emas, sungai susu, dan bidadari yang selalu dalam keadaan perawan.

Betapa motif kebendaan begitu terang-benderang dalam praktik agama itu sendiri. Simak ajakan bersedekah! Penyeru akan mengatakan penderma akan mendapatkan balasan berlipat ganda. Malah, dalam kebajikan yang lain, materialisme itu begitu nyata, misalnya mereka yang melakukan satu kebaikan akan mendapatkan 700 kali lipat di bulan puasa. Belum lagi, pemuasa yang mendapatkan “lailatulkadar” akan memperoleh keutamaan (fadhilah) yang setara dengan seribu bulan.

Sebaliknya, penganut materialisme menolak cewek matré, mengingat orang yang bisa menyenangkan perempuan seperti ini adalah kaum borjuis. Malah pendukung Marx sering menyoal komodifikasi agama, yaitu menjadikan ibadah sebagai barang jualan. Contoh paling terang adalah air yang dibacakan Al-Quran berharga berkali lipat dibandingkan dengan produk pabrik. Sedangkan kaum materialis memandang air secara ilmiah sehingga mereka menuntut barang cair ini tidak diperjualbelikan secara komersial karena termasuk kebutuhan dasar. Jadi kini siapa yang matré?

*) Dosen Filsafat Ilmu Universitas Nurul Jadid Paiton

Reporter Tempo - profile - https://majalah.tempo.co/profile/tempo?tempo=161871459655



Bahasa 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.