Agama 2/2

Sebelumnya Selanjutnya
text

Memuja kresna sebagai tuhan

Sebuah sekte hindu, waisnawa dharma yang memuja jaganath (kresna), baladewa dan subadra muncul di bali. inti ajarannya memuliakan kresna sebagai tuhan. sedangkan hindu mengenal tri murti.

i
KEJADIAN itu datangnya tiba-tiba dan di luar acara. Ratusan orang Bali tetapi mengenakan pakaian khas India muncul di tengah-tengah upacara pembukaan Festival Kalinga Bali Yatra 1993. Mereka meletakkan tiga arca dari kayu, yang mereka namakan arca Jaganath (atau Kresna), Baladewa, dan Subadra, lalu mereka sembahyang di depan arca itu. Kidung suci yang mereka nyanyikan juga asing buat telinga orang Bali. Begitu pula persembahannya: dupa, sapu tangan, bunga, kipas cemara, dan kipas burung merak. Tak ada daging binatang dalam sesajen persembahan itu. Festival Kalinga yang dilangsungkan di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Denpasar akhir Januari lalu itu sebenarnya adalah pergelaran seni tari dari India dan Bali. Karena itu, upacara persembahyangan unik tadi langsung membuat orang tercengang. Lebih-lebih, pengikut persembahyangan itu menyebut dirinya penganut Hindu sekte Waisnawa Dharma (WD). Ketua STSI Denpasar yang juga ketua panitia festival, Dr. Made Bandem, mengaku kecolongan. ''Sebelumnya, antara panitia di Bali dan India tak ada koordinasi soal itu,'' katanya. Belakangan, dari kelompok WD itu keluar pernyataan bahwa kehadiran mereka ''tidak liar'' sebagaimana yang dituduhkan banyak pihak. ''Kami mendapat surat undangan dari pihak India,'' kata Ketut Suyadnya. Maka, yang kini menjadi polemik dan perbincangan ramai di Bali bukanlah festival seninya itu (beberapa tari dari India yang dipentaskan konon banyak yang bagus), tetapi sekte WD itulah. Jro Mangku Gde Ktut Soebandi, seorang tokoh adat dan agama Hindu di Bali, menilai kelompok Waisnawa Dharma ini sangat ber bau India. ''Mereka itu mentah-mentah menjiplak persembahyangan cara India,'' kata Soebandi. Padahal, katanya, tata cara peribadatan antara Hindu di India dan Indonesia berbeda. Di Bali sistem peribadatan itu telah terbentuk sejak Mpu Kuturan datang ke Bali pada abad ke-11 Masehi. Keberatan Ktut Soebandi ini mungkin masih bisa ''didebat'', karena agama Hindu bukan cuma milik orang Bali. Apalagi pengikut Hindu bebas menentukan cara bersembahyangnya, menurut budaya setempat, asalkan tetap dalam ajaran Weda. Nah, masalah terakhir inilah yang tidak ketemu. Sudah umum diketahui, kitab suci Hindu adalah Weda, yang terdiri dari empat kumpulan kitab dan karenanya disebut Catur Weda. WD menyebut kitab sucinya Bhagawadgita, yang di kalangan Hindu memang dijadikan pedoman juga, tapi hanya dalam urutan Weda kelima. Kelompok WD meyakini Sri Kresna sebagai perwujudan Tuhan, sebagai sang pencipta segalanya. Bahkan Kresna itu sendiri Tuhan atau Hyang Widhi, sebutan bagi umat Hindu di Bali. ''Itu jelas bertentangan dengan keyakinan Hindu. Kresna itu hanya manusia biasa yang diberi sinar Tuhan,'' kata Tjok Rai Sudharta, guru besar Fakultas Sastra Unud. Rai Sudharta bahkan tak menemukan dalam Bhagavadgita tentang Kresna sebagai penguasa alam. Konsep itu, katanya, ada pada kitab Bagavadtam, kitab yang dimuliakan oleh kelompok Waisnawa di India. Yang jadi pertanyaan Rai Sudharta lagi, ajaran Hindu mengenal Tri Murti, yakni sinar-sinar Tuhan (disebut Dewa) yakni Brahma, Wisnu, dan Syiwa. Tugasnya sebagai pencipta, pemelihara, dan perusak (dalam arti mengembalikan ke asalnya) isi dunia ini. ''Lalu, bagaimana kedudukan Jaganath, Baladewa, dan Subadra itu?'' tanyanya. Kalau Jaganath atau Kresna itu Tuhan, dua yang lain apanya? Namun Rai Sudharta tak berani berkomentar, apakah WD itu Hindu atau di luar Hindu. Pengikut WD di Bali jelas menyebutkan agamanya Hindu dan bukan ''aliran''. Namun Ketut Wiana, Wakil Sekjen Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Pusat, memastikan bahwa kelompok WD itu adalah ''penjelmaan'' Hare Krisna, sebuah aliran yang dilarang Kejaksaan Agung pada tahun 1984. Wiana mengamatinya dari cara pengikut WD melakukan upacara persembahyangan serta dari inti ajarannya yang memuliakan Kresna sebagai Tuhan. Ketut Wiana melihat ada beberapa hal yang membedakan WD dengan Hindu, misalnya tentang pemahaman konsep Tri Marga, tiga jalan menyatakan bhakti kepada Hyang Widi (Tuhan). Konsep ini meliputi karma marga (berbakti dengan kerja), jnana marga (berbakti dengan belajar), dan bhakti marga (selalu menyembah Tuhan). Dalam Hindu, ketiga bagian ini merupakan satu kesatuan, tidak bisa dipisahkan. Penafsiran WD dengan pemujaan pada Kresna sangat bertentangan dengan konsep Tri Marga itu. Bagaimana tanggapan pengikut WD? Ir. Wayan Suena, dosen di Fakultas Pertanian Unud, yang mengaku salah seorang penyembah Kresna, menjawab beberapa hal. Tentang tidak boleh adanya kurban binatang, ia menjelaskan bahwa mereka juga berpegang pada kitab Manawa Dharma Sastra. Pada akhir Bab V itu tertulis: ''Ia yang melukai makhluk-makhluk tak berbahaya dengan maksud mendapat kepuasan untuk dirinya sendiri, ia tak akan pernah merasakan kebahagian.'' Karena itu, kata Wayan Suena, seseorang hendaklah menghindari makan daging binatang. Itu diperkuat dengan pernyataan Sri Kresna dalam Bhagawatam, ''Kalau orang mempersembahkan daun, bunga, buah, dan air dengan cinta bakti, aku akan menerimanya.'' Tidak disebut-sebut ada binatang. Soal boleh tidaknya makan daging memang tidak mendasar benar, toh banyak ulama Hindu yang pantang daging. Yang mendasar, itu tadi, kedudukan Kresna. Bagi penganut WD, ''Kresna itu awatari, sumber dari semua awatara,'' kata Ketut Suyadnya dan Made Amir, mengutip kitab Bhagawatam. Lebih jauh lagi, Ketut Suyadnya menunjuk ke kitab Sri Brahma Samhita, yang menyatakan Sri Kresna adalah sebab segala sebab (sarwa karana karanam). Juga pada Bhagawadgita, ''Aku adalah sumber dari segala sesuatu, baik di dunia materi maupun dunia rohani.'' Jadi, ''Kami tetap beragama Hindu,'' kata Amir. Ada yang melihat fenomena ini sebagai pengaruh dari globalisasi yang membutuhkan pemikiran-pemikiran kontesktual. Orang itu, Prof. Dr. I. Gusti Ngurah Bagus, salah satu pengurus Forum Cendekiawan Hindu Indonesia, melihat selama ini umat Hindu melaksanakan agama hanya sampai pada upacara, dan tidak didasari oleh pemikiran kritis terhadap masalah agama. Dengan kata lain, kajian Hindu secara analitis belum terpenuhi. Tak heran jika pengikut WD datang dari kaum intelektual dan muda. Mereka itu, menurut Ngurah Bagus, mungkin menemukan kebuntuan memahami Hindu, bukan karena ajarannya, tapi karena metode pemahaman yang kontekstual itu tak mereka dapatkan. Julizar Kasiri dan Putu Fajar (Denpasar)

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=162450353771



Agama 2/2

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.