Agama 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Al-Quran untuk Kaum Abangan

Kementerian Agama menerjemahkan Al-Quran ke bahasa Banyumasan dan Kaili. Menyasar kaum abangan sekaligus konservasi bahasa yang terancam punah.

i

Saat tersulit-terberat dalam proses penerjemahan yang dimulai pada 2011 ini tampaknya belum terlampaui. Bulan lalu, bersama sepuluh orang dalam tim, novelis Ahmad Tohari bertemu dengan ahli bahasa Arab, penghafal, pengasuh pondok pesantren, dan tokoh Nahdlatul Ulama untuk lebih mendekatkan makna kata terjemahan dengan makna sesungguhnya.

Ya, menerjemahkan Al-Quran ke bahasa Banyumasan membutuhkan napas panjang. Kini Ahmad Tohari beserta tim tengah melakukan validasi yang melibatkan para ahli tersebut untuk juz 13-30. Melalui penerjemahan, penyuntingan, dan validasi, proses ambisius ini akan rampung pada 2014. "Masyarakat awam tidak tahu proses yang panjang ini," ujarnya.

Memang terjemahan Al-Quran berbahasa Indonesia keluaran Kementerian Agama tahun 2011 dijadikan acuan. Meski demikian, tim harus selalu membaca teks asli untuk mencari akar maknanya.


Dalam Al-Quran, ujar Tohari, kata ganti untuk Allah ada dua: aku dan kami. "Dalam terjemahan Banyumasan, semua mendasarkan pada kata ganti aku atau ingsun," ucap penulis Ronggeng Dukuh Paruk yang juga penyusun kamus bahasa Banyumasan ini.

162113015084

Selain itu, ada beberapa kata yang tidak didapat dalam bahasa Banyumasan. Misalnya, kata ganti orang pertama jamak (kami) dalam bahasa Jawa standar adalah kito. Karena bahasa Banyumasan tak mengenal kata kito, tim menggantinya menjadi inyong kabeh.

Kesulitan yang sama dijumpai saat menerjemahkan wal ashri, yang berarti demi waktu atau demi masa. Dalam bahasa Banyumasan tidak ada terjemahan untuk "demi". Lalu tim memilih kata sekawit untuk kata "demi". "Sekawit saat ini sudah sangat jarang digunakan, bahkan nyaris tidak dikenal," ujar Tohari.

Penerjemahan itu, kata Tohari, sejak awal bertujuan mendekatkan Al-Quran kepada masyarakat abangan. Jumlah mereka lebih besar dibanding pengikut NU dan Muhammadiyah. "Menurut penelitian, jumlah Islam abangan sekitar 62 persen," katanya. Karena itu, penggunaan kosakata yang dikenal di kalangan ini menjadi sentral.

Sebenarnya bahasa Banyumasan merupakan bagian dari bahasa Jawa Kuno, yang tidak memakai unggah-ungguh dan dominasi vokal "o". Unggah-ungguh dalam Jawa Anyar muncul setelah daerah itu masuk wilayah kekuasaan Mataram. Dialog antara Tuhan dan manusia diterjemahkan ke bahasa krama ini, meski dalam tingkatan yang sederhana.

Contoh lainnya, orang Banyumas mempunyai beragam bentuk untuk menerjemahkan kata "bagaimana", seperti ­kepriwe, kepriben, dan kepimen. Tim sepakat menggunakan standar kata kepriwe. Selain itu, kata "dimakan" dalam Banyumasan menggunakan depangan, bukan dipangan. Sebab, dipangan merupakan kata yang lazim di daerah Jawa Tengah bagian timur atau Surakarta. "Kami usahakan pakai bahasa yang khas Banyumas," katanya.

Penyusunan terjemahan ini tidak selalu berjalan mulus. Sering ada kosakata yang sulit sekali dicari terjemahannya. Misalnya ketika tim hendak mengalihbahasakan teks Quran yang bercerita tentang umat Nabi Luth. Mereka tak menemukan kata untuk menerjemahkan homoseksual dan lesbian. Setelah dicari, ketemulah kata njambu untuk homoseksual dan gerus lumpang untuk lesbian.

Lantaran sifatnya yang tak sempurna, teks terjemahan selalu didampingi teks asli dalam bahasa Arab. Karena itu pula Ketua Pengurus Daerah Muhammadiyah Banyumas Ahmad Kifni mewanti-wanti tim penerjemah agar tak keluar dari rel dalam proses penerjemahan. Jangan dipaksakan dalam bahasa Banyumas jika memang tak ada kata yang sesuai. "Kami ikut mencermati, tapi kalau ada penyimpangan, ya, akan kami kritik," katanya.

Senada dengan itu, Ketua Nahdlatul Ulama Banyumas Taefur Arofat berpesan agar tim bisa bekerja superhati-hati, sehingga antara teks dan makna bisa sesuai. Menurut dia, terjemahan itu bisa memudahkan masyarakat Banyumas mengerti Al-Quran secara baik dan benar.

Penerjemahan Al-Quran ke bahasa ­Kaili-digunakan di kalangan suku Kaili di Sulawesi Tengah-juga jauh dari mudah. Sebab, menurut sekretaris tim penerjemah Al-Quran bahasa Kaili, Iskandar Nasaruddin, suku Kaili tidak mempunyai aksara dan kosakata mereka sangat sedikit untuk menerjemahkan Al-Quran ke bahasa tersebut. Belum terhitung kesulitan untuk menyatukan persepsi di antara penerjemah, yang terdiri atas beberapa etnis Kaili.

SebutanRasulullah sulit diterjemahkan dalam bahasa Kaili, sehingga tetap mengikuti bahasa Arabnya. Kata Allah pun tak mudah diterjemahkan. Dalam bahasa Kaili, namaAllahitu disebut Ala. Tapi, dalam penerjemahannya, alamemiliki beragam arti untuk beberapa etnis Kaili. Satu etnis Kaili, misalnya, mengartikan ala sebagai "ambil". Akhirnya, untuk meluruskan perbedaan ini, tim memutuskan penulisan kataAllahmenjadi Allah Ta'ala.

Dari 11 kabupaten dan satu kota di Sulawesi Tengah, empat wilayah membudayakan bahasa Kaili sebagai bahasa sehari-hari: Kota Palu, Kabupaten Sigi Biromaru, Kabupaten Donggala, dan Kabupaten Parigi Moutong. Proses penerjemahan Al-Quran ke bahasa Kaili, yang dilakukan sebelum penerjemahan ke bahasa Banyumasan, kini telah menjalani validasi akhir.

"Dari rekomendasi para pakar, terjemahan ini sudah bisa diterbitkan," ujar dosen ilmu kalam dan pemikiran Islam di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Datokarama Palu itu. Sebelumnya, Al-Quran terjemahan bahasa Kaili sempat diterbitkan beberapa buah untuk keperluan tim validasi.

Namun Sekretaris Umum Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Sulawesi Tengah Nasruddin L. Midu melihat kekurangan terjemahan itu. Kaidah-kaidah dalam bahasa Kaili belum terlalu menyentuh secara spesifik ke dalam isi Al-Quran. Soalnya, bahasa Kaili terbagi lagi atas beberapa etnis, seperti Kaili Ledo, Rai, Tara, dan Doi. "Tentunya ini tergantung siapa yang melakukan penerjemahan," ujarnya.

Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Lektur dan Khazanah Keagamaan Kementerian Agama Choirul Fuad Yusuf mengatakan Kementerian berencana menerbitkan Al-Quran terjemahan bahasa daerah pada 2014. "Jika secara substansi sudah selesai, mudah-mudahan bisa dianggarkan," ujarnya. Selain penerjemahan ke bahasa Banyumasan dan Kaili, penerjemahan Al-Quran dilakukan ke bahasa daerah lain, seperti Makassar, Sasak, Minang, Batak, dan Dayak.

Choirul mengatakan penerjemahan ke bahasa daerah dilakukan untuk melayani masyarakat agar bisa membaca dan memahami Al-Quran. Sebab, banyak dari mereka tidak bisa berbahasa Indonesia atau Arab. Penerjemahan ke bahasa Banyumasan diperlukan karena diperkirakan 10 juta orang Jawa menggunakan bahasa ini.

Namun penerjemahan ke Kaili, ­bahasa yang hanya digunakan sekitar 500 ribu orang, lebih banyak ditujukan untuk kepentingan bahasa itu sendiri. "Dengan diterjemahkan ke bahasa Kaili, diharapkan bahasa itu terus bertahan ratusan tahun, karena Al-Quran tetap terjaga," ujarnya.

Kini banyak pemerintah daerah ingin menerbitkan terjemahan Al-Quran ke bahasa daerah setempat. "Terjemahan ini 'seksi', untuk menarik simpati masyarakat," ujarnya.

Bupati Banyumas Achmad Husein secara pribadi akan membantu penyaluran kitab terjemahan tersebut ke berbagai pelosok. Meski untuk anggaran di APBD ia harus berkonsultasi dengan DPRD agar bisa dimasukkan ke anggaran tahun 2014. "Sasarannya bisa ke masjid-masjid di desa yang selama ini khotbahnya masih menggunakan bahasa Banyumasan," katanya.

Hal yang sama dikatakan Gubernur Sulawesi Tengah Longki Djanggola. "Kami mendukung penuh penerjemahan ini dan siap membantu membiayai dan memfasilitasinya untuk disalurkan ke institusi keagamaan dan masyarakat Kaili," ujar Longki.

Erwin Zachri, Aris Andrianto, Amar Burase


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=162113015084



Agama 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.