Aku bersaksi, aku syiah - majalah.tempo.co ‚Äč

Kolom 3/4

Sebelumnya Selanjutnya
text

Aku bersaksi, aku syiah


Tanggapan alwi shihab tentang seminar syiah. pendapat mengenai ketidakislamian ali ra perlu diluruskan segera. ia makmum kepada imam syafii mengenai tuduhan syiah lantaran mencintai sayidina ali ra.

Administrator

Edisi : 20 Februari 1988
i
Sikap keterbukaan dalam perbedaan pendapat sungguh patut dipuji. Sebab, orang memang dituntut agar mau bersikap agree to disagree (sepakat untuk tak sependapat), terutama di masa pesatnya pengembangan intelektual kini. Namun, hendaknya dalam setiap melangkah ke sesuatu yang "baru", ada pegangan yang mesti diperhatikan. Yakni, bahwa pengembangan intelektual itu mengacu ke "pelestarian nilai-nilai tradisional yang baik dan mengambil nilai kontemporer yang lebih baik." Dengan demikian, pengembangan intelektual tiap pemikiran "baru" tetap berpijak pada dasar yang benar, akar sejarah, tidak merongrong batin umat, dan tidak tergelincir. Maka, kita menemukan bahwa banyak pandangan tradisional perlu dipertahankan (karena kebaikannya). Sementara itu, tak sedikit pandangan baru perlu diuji kembali kebenarannya. Misalnya, pendapat mengenai "ketidakislamian Khalifah Ali", yang akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang (TEMPO, 23 Januari, Agama). Yang melontarkan pendapat boleh saja berkata bahwa itu pendapat pribadinya. Mungkin ini dimaksud kan agar yang bersangkutan mendapat kekebalan akademis. Tetapi pendapat itu, tentu, tak berpijak pada "pelestarian nilai tradisional yang baik." Dan, itu menggugah saya meluruskan segera. Pendapat itu tidak saja mengguncangkan nilai-nilai sejarah yang mapan, tetapi juga bertentangan secara diametral dengan pendapat para ulama sepanjang sejarah Islam. Itu dicela para ulama pendiri mazhab Ahlussunah: Imam Malik, Abu Hanifah, Ahmad bin Hambal, dan Imam Syafii. Juga, ulamatasawuf seperti Hasan al-Bashri, al-Syazli serta ulama teologi, misalnya al-Ghazali. Bahkan, ulama reformis puritan seperti Ibnu Taimiyah dan Muhammad Abdulwahab. Mereka semua berpendapat bahwa mendiskreditkan salah satu khalifah ar-Rasyidun, sahabat Rasulullah saw., adalah perbuatan tercela. Begitu pula mencerca keluarga Rasulullah saw. tak bisa ditoleransi dalam Islam . Dalam hal mencintai keluarga Rasul dan terhadap -Imam Ali, saya makmum sepenuhnya kepada Imam Syafii. Imam Syafii - seperti dikutip HAMKA dalam kata pengantar buku Al-Husain karya M. Alhamid berkata, "Jika saya akan dituduh Syiah, karena mencintai keluarga Muhammad saw., maka saksikanlah, wahai, seluruh jin dan manusia bahwa saya ini orang Syiah." Maka, jika saya pun dituduh Syiah, karena membela Imam Ali, saya bersaksi bahwa saya seorang Syiah. Sebenarnya, bukan cuma Syafii. Juga Imam Abu Hanifah, yang pernah berguru kepada Imam Ja'far Shadiq selama dua tahun, seorang Syiah dalam politiknya. Dalam kitab AI- Mazahibul-Islamiyyah Imam Abu Zahrah menuliskan soal aliran politik Abu Hanifah ini, yakni dalam sikapnya membantu Imam Zaid . Mungkinkah pembelaan terhadap Imam Ali - dan keluarga Rasul saw. - hanya datang dari keturunan beliau, sebagaimana didakwakan seorang pembicara di seminar itu bahwa di mana pun para keturunan Nabi adalah penganut Syiah? Tentu saja tidak. Para ulama tadi, sebagaimana juga ulama Indonesia dan cendekiawan Muslim kita (Nurcholish Madjid, Syukri Ghozali, Buya HAMKA), semuanya Ahlussunah. Mereka semua membela Ali. Saya bisa memberikan contoh lain. Syekh Hasanain Makhluf, bekas mufti Mesir, Syekh H. Mutawalli Asha'rawi, bekas Menteri Wakaf Mesir, Al-Maududi di Pakistan, Dr. Moh. Al-Maliki, Mekah, Abdulhalim Mahmud, bekas Syeikhul Azhar, Raja Hasan, Maroko, Raja Husein, Yordania, dan Abdurrahman Wahid (Ketua NU), semuanya keturunan Nabi. Tetapi mereka dikenal berada di luar Syiah. Bahkan, saya masih ingat tatkala majalah ini menulis soal bai'at seorang raja Islam (TEMPO, 3 April 1982, Agama, halaman 21). Ketika dilantik, raja itu (Pakubuwono XI) mengucapkan qabul (dalam acara ijab qabul-nya) sembari menyatakan bahwa beliau adalah cucu Nabi dan mengharapkan syafa'at dari eyangnya. Kendati demikian, kita semua mengetahui bahwa beliau bukan seorang Syiah. Maka, saya pun hanya ikut mengharapkan syafaat eyang saya. Itu saja. ALWI SHIHAB Jalan Kenanga 7 Cilandak KKO Jakarta Selatan

Kolom 3/4

Sebelumnya Selanjutnya

Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
Anda akan mendapatkan 8 artikel gratis setelah Register.

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Anda memiliki 3 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

8 artikel gratis setelah Register.