Stuart Robson, Sang Mitra Romo Zoet - Iqra - majalah.tempo.co

Iqra 3/3

Sebelumnya Selanjutnya

Stuart Robson, Sang Mitra Romo Zoet


Di Malang, Perpustakaan Nasional dan Masyarakat Pernaskahan Nusantara mengundang Stuart Owen Robson. Dialah yang bersama Zoetmulder menyusun karya monumental kamus Jawa Kuno-Inggris.

Seno Joko Suyono

Edisi : 30 November 2019
i Wangbang Wideya: A Javanese Panji Romance /Tempo
Wangbang Wideya: A Javanese Panji Romance /Tempo

SELURUH hidupnya diabdikan untuk sastra Jawa Kuno. Lelaki jangkung dan tampak pendiam asal Australia itu kini berumur 78 tahun. Dialah Profesor Doktor Stuart Owen Robson. Pada 1971, Robson menerbitkan buku Wangbang Wideya: A Javanese Panji Romance sebagai hasil disertasi doktornya di Universiteit Leiden, Belanda. Robson juga dikenal bersama Romo Petrus Josephus Zoetmulder berkolaborasi membuat karya monumental Old Javanese-English Dictionary, yang terbit pada 1982. Kamus yang sangat tebal itu diterbitkan Martinus Nijhoff. Pada 2006, kamus tersebut diterjemahkan menjadi kamus Jawa Kuno-Indonesia oleh Darusurapta dan Sumarti Suprayitna, diterbitkan Gramedia Pustaka Utama.

Bersama A. Teeuw, Robson pada 1981 menerbitkan Kunjarakarna Dharmakathana: Liberation through the Law of Buddha. Kunjarakarna adalah kakawin Jawa Kuno karya Mpu Dusun. Kerja sama Robson dengan Zoetmulder dan Teeuw itu bukan yang pertama. Jauh sebelumnya, pada 1969, bersama Zoetmulder, Teeuw, Th. P. Galestin, dan P.J. Worsley, Robson mempublikasikan Siwaratrikalpa of Mpu Tanakung, yang  diterbitkan Martinus Nijhoff. Robson terus melakukan studi terhadap sastra Jawa Kuno.  Bahkan, pada usia tuanya, 75 tahun, pada 2016 dia masih menghasilkan buku mengenai Kakawin Ghatotkacasraya karya Mpu Panuluh. Buku ini dipublikasikan Research Institute for Languages and Cultures of Asia and Africa, Tokyo University of Foreign Studies.

Kakawin Ghatotkacasraya/Tempo

Selama dua hari, 16-17 November lalu, di Hotel Savana, Malang, Jawa Timur, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia memberikan penghormatan kepada Stuart Robson. Dalam acara bertajuk  “Sancaya Sari: Untaian Adikarya Stuart Robson”, mereka menghadirkan pembicara dari teman segenerasi Robson, seperti ahli Jawa Kuno, P.J Worsley; arkeolog, Agus Aris Munadar; epigrafis, Ninie Susanti; Turita Indah Setyani; dan filolog muda, Abimardha Kurniawan.

Robson tampak anteng menyimak presentasi mereka. Kebanyakan hadirin adalah filolog, pemerhati naskah kuno, serta mahasiswa sastra Jawa dan Bali Kuno. Bahkan dari Universitas Udayana, Bali, datang sekitar 30 mahasiswa jurusan sastra Jawa Kuno. Bagi para mahasiswa filologi, karya-karya Robson tak asing lagi. “Buku Pak Robson, Prinsip-prinsip Filologi Indonesia, merupakan buku dasar dan buku wajib yang harus dibaca siapa pun mahasiswa filologi yang mempelajari pernaskahan kuno di Indonesia,” kata Munawar Holil, filolog yang juga Ketua Umum Masyarakat Pernaskahan Nusantara.

Dalam pidatonya, Robson mengungkapkan bahwa ia pertama kali mendengar kata Jawa Kuno pada 1960 atau 1961 dari Doktor F.H. van Naersen, yang saat itu menjabat Ketua Departemen Indonesia di University of Sydney, Australia. Van Naersen adalah epigrafis yang memusatkan perhatiannya pada inskripsi Jawa Kuno. “F.H van Naersen sangat menaruh minat pada prasasti Jawa Kuno. Cara Van Naersen dalam kuliah-kuliahnya mengisahkan sejarah kuno Jawa  demikian hidup seolah-olah masa Majapahit baru kemarin terjadi dan para pertapa  Hindu seolah-olah sampai saat ini pun, sejak zaman Majapahit, masih melakukan meditasi di gua-gua pegunungan Jawa,” ujarnya.

Robson ingat, dalam pelajaran pertamanya saat mempelajari bahasa Jawa, ia diminta membaca petilan tulisan sebuah karya sastra Jawa modern berjudul Layang Damar Wulan dan petilan karya Jawa Kuno Adi Parwa. “Kami saat itu sangat lama menerjemahkan dan memahaminya. Itu karena kamus Jawa Kuno saat itu masih dalam bahasa Belanda. Sedangkan bahasa Belanda juga tak kami kuasai. Setelah mengetahui padanan sebuah kosakata Jawa Kuno dalam bahasa Belanda, karena itu, kami harus menerjemahkan kosakata Belanda ke bahasa Inggris,” tuturnya.

Robson dalam kesempatan itu mengisahkan bagaimana ia kemudian berangkat ke Universiteit Leiden untuk mempelajari Jawa Kuno. “Generasi pertama dari Australia yang berangkat adalah Peter Worsley pada 1964. Saya menyusul pada 1965,” katanya. Robson mengenang bagaimana selain mempelajari bahasa Jawa ia mendalami bahasa Sanskerta dan Arab karena kedua bahasa itu sangat penting untuk mengetahui pernaskahan Nusantara.

Dalam acara di Malang tersebut, Robson melakukan kilas balik mengenai bagaimana awalnya para peneliti Eropa tertarik melakukan studi Jawa Kuno. Menurut Robson, di Eropa, studi Jawa Kuno sudah dimulai pada abad ke-19. Studi ini mula-mula dilakukan di lingkungan pegawai pemerintah Belanda. Buku pelajaran vokabuler dan gramatika bahasa Jawa dicetak di Kota Haarlem. Kursus-kursus diadakan di Delft, kemudian di Leiden.

Pada awal abad ke-20, lulusan program Jawa Kuno Leiden dapat mencari pekerjaan di Hindia Belanda sebagai taalambtenaar, pegawai pemerintah Belanda yang khusus berurusan dengan bahasa. Salah seorang dari kelompok ini adalah Th. Pigeaud. Di samping itu, banyak misionaris Kristiani mempelajari bahasa Jawa untuk menerjemahkan Kitab Suci. Bahkan J.L. Swellengrebel, penerjemah Bibel di Netherland Bible Society, membuat disertasi mengenai serat dari zaman Majapahit akhir berjudul Korawasrama pada 1936. Kitab ini bercerita tentang Uma yang dikutuk menjadi Durga.

Zoetmulder sendiri seorang misionaris. Stuart Robson mengenang cara mengajar Zoetmulder di Yogyakarta. Robson ingat, pada Desember 1963, Zoetmulder mulai mengajarkan kakawin Jawa Kuno kepada para mahasiswa sastra Universitas Gadjah Mada. Pada zaman itu, Fakultas Sastra UGM belum memiliki gedung sendiri dan menggunakan tempat di sebuah rumah di daerah Wijilan, dekat Alun-alun Lor. Selain mengajar di Wijilan, Zoetmulder sering menggunakan ruang baca Pastoran Kumetiran untuk mengajari mahasiswanya. “Metode Romo Zoet adalah dia mengambil sebuah teks kakawin tertentu, lalu menganalisis isi teks itu kata per kata. Saya ingat, pada 1963, teks yang dibaca adalah Lubdhaka karya Mpu Tanakung,” ujar Robson.

Robson juga ingat bagaimana Zoetmulder menerangkan penggunaan tiap kata dalam berbagai konteks. Satu hal yang terus menancap adalah bagaimana Zoetmulder selalu menekankan bahwa para mpu penulis kakawin Jawa Kuno selalu berusaha mencapai sebuah kondisi yang disebut lango. Lango dalam bahasa Jawa Kuno bermakna keindahan, keindahan puisi (Zoetmulder menerbitkan buku ikhtisar sastra Jawa Kuno dengan judul Kalangwan, yang berasal dari kata lango). “Konsep lango, keindahan puitis, ini adalah murni dan asli Jawa Kuno, sama sekali tidak mengambil dari teori rasa yang menjadi dasar estetika puisi-puisi dan drama-drama Sanskerta di India,” ucap Robson.Bagi Robson sebuah studi atas kakawin Jawa pada dasarnya adalah studi untuk menemukan alusi, lambang atau alegori tersembunyi yang termuat di dalamnya. 

Robson lebih jauh mengemukakan bagaimana sebuah tema studi dalam Jawa Kuno yang dilakukan para ahli dari generasinya bisa tak terputus sampai generasi berikutnya. “Pada 1998, Helen Creese dari Australia, misalnya, menerbitkan buku tentang studinya terhadap kitab Parthayana (Perjalanan Partha). Parthayana adalah kisah tentang Arjuna yang ditulis di Klungkung, Bali, pada masa pemerintahan Dewa Agung Surawirya pada 1730.

Stuart Robson, Sang Mitra Romo Zoet/Perpusnas dan IndoPotency

Creese adalah murid (almarhum) S. Supomo di Australia National University. Supomo sendiri murid Zoetmulder di UGM pada 1950-an. “Pak Pomo menulis disertasi mengenai Kakawin Arjunawijaya,” kata Robson. Kisah Arjuna pertama kali muncul di sastra Jawa Kuno dalam Kakawin Arjunawiwaha yang ditulis Mpu Kanwa sekitar 1030. “Menarik, dalam rentang 700 tahun, pada 1730, masih muncul kisah Arjuna lain dalam kitab Parthayana,” tuturnya.

Robson juga menyinggung disertasi A. Teeuw, Kakawin Bhomantaka. Penyair Bhomantaka tidak diketahui. Nama raja yang menjadi persembahan kitab itu juga tak disebutkan. Yang jelas, kakawin itu berasal dari masa Kediri pertengahan abad ke-12 sampai awal abad ke-13. “Bagi saya, pengarang Bhomantaka sangat jenius. Deskripsinya luar biasa dan ekspresinya orisinal. Pak Teeuw mengerjakan disertasi ini di tengah persembunyiannya saat Jerman menduduki Belanda. “Dalam persembunyiannya, Teeuw membawa teks Bhomantaka yang telah dipublikasikan R. Th. A. Friederich pada 1852 dan membawa kamus Van der Tuuk,” kata Robson.

Menurut Robson, setelah perang usai, studi Teeuw tentang Bhomantaka itu diterima sebagai usul disertasi oleh Profesor Gonda di Universiteit Utrecht dan kemudian oleh Teeuw dipertahankan dengan judul “Het Bhomakawya Een Oudjavaans Gedicht” pada  6 Desember 1946. Pada 2005, disertasi Teeuw ini diterjemahkan ke bahasa Inggris dengan bantuan Stuart Robson.

Selain mempelajari kakawin Jawa Kuno, salah satu kelebihan Robson adalah mempelajari sastra Jawa Pertengahan. Disertasinya tentang Kidung Wangbang Wideya, kidung yang bercerita tentang pengembaraan Panji dan ditulis di Bali pada abad ke-16. Kidung adalah genre sastra yang muncul pada masa Jawa Pertengahan. “Robson tak menganggap kualitas estetika kidung di bawah kualitas estetika Kakawin (puisi) Jawa Kuno,” kata Willem van der Molen, ahli sastra Jawa Kuno rekan Robson. Dalam pidato di Malang itu, Robson juga menceritakan momen-momen saat ia mengerjakan disertasinya.

“Saya melakukan riset mengenai manuskrip Kidung Wangbang Wideya pada 1968 di perpustakaan Leiden. Beruntung, saya bisa mendapatkan kidung yang sudah ditransliterasikan oleh J. Soegiarto. Beliau pernah menjadi asisten Profesor C.C. Berg dan Profesor E.M. Uhlenbeck. Saya ingat manuskrip Wangbang Wideya di Leiden saat itu sangat kotor sehingga, untuk menyingkirkan debu-debunya, saya harus membersihkan dengan kapas dan air yang diberikan E. Andriessen, asisten ruang baca perpustakaan. Saya ingat ketika mengerjakan studi Wangbang saat itu saya juga melihat di ruang baca perpustakaan Th. Pigeaud tengah asyik menyelesaikan karya besarnya, Literature of Java, yang studinya dimulai pada 1967. “

Di Malang, sebagai penghormatan khusus kepada Robson, Van der Molen membaca ulang disertasi Robson, “Wangbang Wideya: A Javanese Panji Romance”. Makalahnya berjudul “Grudge and Vow in the Wangbang Wideya”.   

Seno Joko Suyono

 



Iqra 3/3

Sebelumnya Selanjutnya

Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
Anda akan mendapatkan 8 artikel gratis setelah Register.

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Anda memiliki 3 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

8 artikel gratis setelah Register.