Api Penyucian Diri Tantrayana - Iqra - majalah.tempo.co

Iqra 2/3

Sebelumnya Selanjutnya

Api Penyucian Diri Tantrayana


BIKU Tantrayana Taiwan merapal mantra dan menggerakkan kedua tangan, menghadap panas api yang berkobar di empat penjuru lingkaran mandala. Pendamping para biku meletakkan dupa dan benda-benda lain pada api sebagai persembahan. Pendamping lain duduk dalam posisi bersemadi. 

Shinta Maharani -Kores Magelang

Edisi : 30 November 2019
i Ritual Api Homa di lapangan Kenari, Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah./TEMPO/Shinta Maharani
Ritual Api Homa di lapangan Kenari, Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah./TEMPO/Shinta Maharani

PUJIAN dan nyanyian bergema di lapangan Kenari, Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, mengiringi ritual Api Homa pada Sabtu malam, 23 November lalu. Api Homa merupakan ritual pembersihan diri terpenting Tantrayana. Ritual ini dipraktikkan di Tibet, Cina, Jepang, dan Nepal dalam versi berbeda. 

Sekitar 2.000 penganut Buddha Tantrayana duduk melingkar mengelilingi mandala, mengikuti upacara itu dengan khidmat. Selain mengelar simposium bertema panteisme dan Tantrayana, Borobudur Writers & Cultural Festival 2019 bekerja sama dengan True Buddha Foundation—komunitas Buddha yang bermarkas di Taiwan dan Seattle, Amerika Serikat—serta Majelis Agama Buddha Tantrayana Zhenfo Zong Kasogatan Indonesia dan Majelis Agama Buddha Tantrayana Satya Buddha Indonesia (Madha Tantri) menghadirkan ritual Tantrayana versi Taiwan. Sebuah lingkaran mandala dibuat di lapangan Kenari, yang tak jauh dari badan Candi Borobudur. Mandala merupakan diagram suci. 

Bunyi mirip suara tambur dan trompet mengiringi upacara besar di sekitar mandala dengan api sebagai fokusnya. Seusai upacara kudus api untuk membangkitkan dewa-dewa Buddha, para pendeta mengajak umat bersemadi dan melakukan yoga. Pada pengujung ritual, para biku Tantrayana Taiwan menjalankan pradaksina, berjalan memutari Candi Borobudur searah jarum jam, menjelang tengah malam. Umat Buddha dan peserta Borobudur Writers & Cultural Festival mengikuti para biku berjalan mengitari candi. 

Di sela ritual Api Homa, Suprapto Suryodharmo, tokoh meditasi gerak asal Solo, Jawa Tengah, menggelar pertunjukan seni berkolaborasi dengan Sitras Anjalin, spiritualis dari Padepokan Tutup Ngisor, lereng Gunung Merapi, serta para pemusik dari Makassar yang dipimpin Daeng Misbach. Suprapto mempersembahkan pertunjukan yang diberi nama Umbul Donga Alang-Alang Kumitir. “Bertolak dari dunia pewayangan. Semacam dunia keabadian dan pancaran doa menuju sangkan paran dumadi,” kata Suprapto.

Suprapto menjelaskan, ia terinspirasi konsep Jawa Kuno, yakni hasto broto atau delapan perbuatan baik. Hasto broto muncul dalam pewayangan. Delapan perbuatan baik itu mewujud pada delapan unsur alam, yakni api, air, angin, bumi, langit atau angkasa, lintang atau bintang, matahari, dan rembulan. Selama ini, dalam dunia pewayangan, hasto broto hanya bisa dimiliki raja atau keturunan raja. Suprapto membongkar itu dengan gerakan-gerakannya dalam pertunjukannya malam itu. “Mengingatkan kembali hasto broto yang berisi ajaran alam sebagai wahyu untuk petani, tidak hanya untuk dinasti kerajaan,” tuturnya.

Dalam pentasnya selama sekitar 30 menit itu, Suprapto menggunakan properti berupa tangga yang dirangkai dengan kain-kain berwarna putih, kuning, dan merah sebagai umbul-umbul. Seorang lelaki berkostum bak pendeta bissu Bugis naik ke bagian paling atas tangga. Mula-mula para pemusik Bugis mengelilingi mandala Api Homa. Suprapto, yang berbalut kain putih dan sampur, bersama Sitras dan lainnya masuk dengan mengusung kain panjang bertulisan “Kalackra” dengan huruf Jawa. Sebelumnya, Suprapto terbiasa menggelar upacara Api Homa bersama Ida Pedanda dari Bali. 

 Suprapto penganut Buddha Theravada. Pada masa mudanya di Solo pada 1970-an, ketika melakukan pencarian gerak—yang disebut gerak Amerta—Suprapto menggabungkan Vipassana dengan meditasi yang diajarkan penghayat aliran kebatinan Sumarah. Suprapto belajar Sumarah kepada Sudarno Ong, peranakan yang dalam meditasi menggabungkan ajaran Vipassana dan Sumarah. Belasan tahun lalu, Suprapto juga pernah menggelar pertunjukan di halaman Candi Borobudur bersama penari putih asal Jepang, Katsura Kan. Pertunjukan itu ia beri nama The Tempest of Borobudur. Saat berpentas di sebuah kuil di Jepang, ia melibatkan Banthe Sri Pannavaro Terra dari Wihara Mendut. Dalam sepuluh tahun terakhir, Suprapto bersama para muridnya di Eropa secara rutin berlatih gerak di lingkungan situs megalitik Avebury dan Stonehenge, Inggris. Menhir-menhir batu di Avebury membentuk pola-pola tertentu. Salah satunya lingkaran. 

SHINTA MAHARANI

 



Iqra 2/3

Sebelumnya Selanjutnya

Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
Anda akan mendapatkan 8 artikel gratis setelah Register.

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Anda memiliki 3 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

8 artikel gratis setelah Register.