Gado-gado ala Wayang Bocor - Teater - majalah.tempo.co

Teater 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Gado-gado ala Wayang Bocor


Pentas Wayang Bocor di Dia.Lo.Gue Artspace, Jakarta, kembali mendobrak pakem kesenian tradisi. Mengemas isu kekinian dengan jenaka.

Isma Savitri

Edisi : 2 November 2019
i Pertunjukan Wayang Bocor bertajuk Permata di Ujung Tanduk oleh Eko Nugroho di Dia.Lo.Gue Artspace, Jakarta, 24 Oktober 2019. TEMPO/Nurdiansah
Pertunjukan Wayang Bocor bertajuk Permata di Ujung Tanduk oleh Eko Nugroho di Dia.Lo.Gue Artspace, Jakarta, 24 Oktober 2019. TEMPO/Nurdiansah

PENTAS yang nyeleneh. Begitu kesan yang tertangkap sebelum pertunjukan Wayang Bocor berlangsung pada Kamis malam, 24 Oktober lalu, di Dia.Lo.Gue Artspace, Kemang, Jakarta Selatan. Sebab, para pelakonnya berseliweran di antara bangku penonton yang berformat huruf “U”. Salah satu penampil bahkan enteng saja bilang bahwa ia bakal bolak-balik melewati bagian tangga di belakang bangku penonton. “Prinsipnya, kami akan ada di mana-mana dan jalan ke mana-mana,” katanya. Penampil lain, dengan bahasa Jawa medok, sempat meminta izin untuk ngopi dulu sebelum beraksi.

Kelirnya pun bukan berupa bilik tertutup yang serba misterius seperti dalam kebanyakan pertunjukan wayang. Bahkan, dari bangku penonton, kita bisa mengintip “dapur” si dalang dan penampil. Tak ada rahasia, tapi rasa penasaran tak berkurang karena nama Wayang Bocor sendiri sudah mengundang tanya. Bisa jadi materi dalangnya yang bocor alias membahas topik apa saja. Atau jangan-jangan aksi di balik kelirnya terbuka untuk ditonton? Pertanyaan itu terjawab dalam pentas Wayang Bocor bertajuk Permata di Ujung Tanduk di Dia.Lo.Gue, 24-27 Oktober 2019.

Pertunjukan dibuka dengan siluet kupu-kupu yang mampir ke kelir besar di tengah ruangan, diiringi narasi berbahasa Jawa dari dalang Arekso Pangaribowo. Lalu muncul sesosok perempuan muda (diperankan Theresia Wulandari) yang menggendong boneka bayi. Ia berjinjit, mengendap-endap ke balik kelir oval yang berada di seberang kelir besar. Karena ini Wayang Bocor, kita tak hanya bisa melihat bayangan perempuan dan bayi yang bergerak indah di kelir, tapi juga bagaimana Theresia menari dan meninabobokan boneka bayi itu.

Si perempuan lantas mengeluarkan suara rengekan bayi, karena ia sekaligus menjadi pengisi suara. Kemudian ia berjingkat pergi, meninggalkan bayinya seorang diri di sebuah tempat yang dikisahkan sebagai Sungai Malini. Tak lama, muncul burung Sakuni ke tengah area pentas. Hewan mitos itu diperankan Muh. Arif Wijayanto dengan kostum burung bersayap kuning benderang. Alkisah, dalam babad Mahabharata, burung Sakuni merawat seorang bayi yang ditinggalkan ibunya yang merupakan bidadari. Bayi perempuan itu kemudian dinamai Sakuntala.

Burung ini sangat cerewet. Ia menyambangi satu per satu penonton untuk menanyakan asal suara tangisan bayi. Lalu, atas petunjuk seorang penonton, ia pun menemukan bayi perempuan molek itu dan membawanya terbang ke angkasa. Panggung sunyi sesaat sebelum kemudian lagu dangdut koplo terputar kencang, sejumlah penari keluar untuk berjoget, dan pertunjukan berubah seriuh pasar malam. Absurd dan penuh kejutan.

Dongeng tentang Sakuntala hanya salah satu bagian dari pertunjukan Permata di Ujung Tanduk. Ide dan tata visual pentas ini digarap perupa Eko Nugroho, sementara naskahnya dikerjakan Gunawan Maryanto. Buku puisi Gunawan yang terbit pada Juli 2018 berjudul Sakuntala. “Kisahnya menarik karena memotret feminisme dan menunjukkan bagaimana perjuangan serta pergolakan batin seorang perempuan yang terpaksa meninggalkan bayinya,” ujar Eko saat ditemui seusai pentas.

Pentas Wayang Bocor bagian dari Festival Royo-Royo yang berlangsung pada 25 Oktober-9 November 2019 di Dia.Lo.Gue. Selain pertunjukan itu, ada pelatihan membuat wayang dari sampah daur ulang dan mendongeng serta kelas bisnis di bidang seni. Ada juga pameran arsip dari organisasi nirlaba Yayasan Kelola selaku penyelenggara kegiatan. Yayasan ini sejak 20 tahun lalu bergerak menyediakan ruang pertukaran budaya antarseniman dan sejak 2001 menyalurkan dana hibah kepada para pelaku seni. “Lewat Festival Royo-Royo, kami merayakan dua dekade Kelola sekaligus menggalang dana dari publik,” kata Direktur Yayasan Kelola Gita Hastarika.

Wayang Bocor juga merupakan ajang reuni para seniman alumnus Kelola. Sebelumnya, enam pertunjukan Wayang Bocor berlangsung dengan tema cerita berbeda, seperti politik dan terorisme. Namun konsep yang diusung ketujuh pentas itu serupa, yakni menjadi platform yang melibatkan seniman lintas disiplin. “Ini seperti gado-gado karena meracik banyak bidang kesenian menjadi satu pertunjukan. Kami menggunakan elemen wayang, tapi bisa jadi ini menjadi pertunjukan ketoprak, dangdutan, ataupun lenong. Fleksibel saja, sesuai dengan judulnya yang ‘bocor ke mana-mana’,” tutur Eko.

Sejak pementasan pertama pada 2008, sebanyak 20 seniman sudah berkolaborasi di Wayang Bocor. Mereka juga sudah unjuk gigi di luar negeri, seperti di Lyon, Prancis, serta Carolina Utara dan California di Amerika Serikat. Dalam berbagai pertunjukan itu, kendati ada naskah yang menjadi patokan, para seniman tetap bebas bereksperimen. Teks dan gerak, dengan demikian, menjadi hal yang cair dan diharapkan bisa menggali kreativitas para pelakon.

Pertunjukan Wayang Bocor. TEMPO/Nurdiansah

Dalam Permata di Ujung Tanduk, hal itu terlihat saat adegan wayangan tiga punakawan, yakni Gareng (Theresia menjadi pengisi suara), Bagong (Arif Wijayanto), dan Petruk (Arekso), yang ngobrol sembari mengulum permen lolipop. Dengan memilih tiga tokoh karangan Empu Panuluh ini, Gunawan Maryanto menepikan kisah-kisah dari epos Mahabharata dan Ramayana yang “elitis”. Geng bodor ini pun saling melempar guyonan segar seperti dalam lenong Betawi. Dari balik layar mereka saling meledek, termasuk mengenai urusan rumah tangga. Mereka juga melontarkan sindiran kritis atas sejumlah persoalan yang sedang ramai dibahas dalam masyarakat. Di antaranya perubahan iklim dan rencana pemindahan ibu kota Indonesia ke Kalimantan.

Punakawan menyentil persoalan itu lewat celetukan-celetukan yang mbeling. “Udaranya panas, ya, sekarang. Ntar gantian Kalimantan, nih, yang panas,” ucap Petruk, disambut tawa para penonton. Soal revisi Undang-Undang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juga tak luput dibahas. Ketiganya mempertanyakan mengapa korupsi seolah-olah dilindungi, juga mengingatkan kembali bahwa undang-undang semestinya dibikin untuk kebaikan.

Di tengah obrolan gayeng itulah para penampil sesekali mengeluarkan canda yang nyempal dari naskah. “Celetukannya banyak yang spontan. Makanya kadang saya ketawa sendiri di belakang layar,” ujar Eko. Namun ia memastikan lelucon dan kritik yang mereka sampaikan tidak vulgar. Ceritanya pun kadang bertutur tentang keseharian, seperti saat mereka berpentas di kampung-kampung di Yogyakarta dua tahun lalu. Misalnya soal macetnya pembangunan irigasi di kampung tempat mereka berpentas, proyek pengaspalan jalan, dan kisruh dana bantuan untuk desa. “Karena pentas dikemas dengan canda, orang akan tersentil tapi tetap tertawa.”

Eko menjelaskan, konsep Wayang Bocor sejatinya mereka sajikan untuk menarik minat lebih banyak orang pada wayang. Sebab, ia melihat kesenian tradisi ini mulai tak diminati anak muda. Karena itu, dengan mempertontonkan proses produksinya dengan gamblang, Eko berharap persepsi penonton tentang wayang bisa berubah. “Tak lagi menganggap wayang itu kuno dan muluk-muluk, tapi sederhana, mudah dilakukan, dan menyenangkan.”

ISMA SAVITRI


Teater 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
Anda akan mendapatkan 8 artikel gratis setelah Register.

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Anda memiliki 3 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

8 artikel gratis setelah Register.