Penumpang Tak Kasatmata - majalah.tempo.co

Kesehatan 1/2

Sebelumnya Selanjutnya
text

Penumpang Tak Kasatmata


Microbiome punya banyak peran dalam tubuh kita. Berpengaruh pada kesehatan fisik dan mental.

Nur Alfiyah BT Tarkhadi

Edisi : 5 Oktober 2019
i Kesehatan
Kesehatan

ANDA tentu pernah tiba-tiba ingin menyantap makan-an tertentu, cokelat misalnya. Namun yakinkah hasrat itu benar-benar keinginan Anda, bukan ulah makhluk lain yang numpang hidup di badan Anda?

Kenyataannya, tubuh kita ditunggangi microbiome. Jumlahnya lebih banyak dari sel tubuh kita. Saking banyaknya, koloni microbiome itu bisa mengatur kita, termasuk dalam urusan selera. “Jangan-jangan ketika saya ingin minum kopi manis atau makan donat itu gara-gara tubuh saya dipenuhi bakteri yang suka mengkonsumsi itu,” kata dosen Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Roby Muhamad, Rabu, 25 September lalu.

Microbiome adalah mikroba—termasuk bakteri, jamur, dan virus—yang hidup di semua jaringan tubuh manusia, seperti kulit, usus, kelenjar susu, air liur, plasenta, dan paru-paru. Pembahasan microbiome dan efeknya pada tubuh marak lagi dalam beberapa tahun terakhir. Topik ini sebelumnya mencuat pada 1977 setelah ahli mikrobiologi dari Amerika Serikat, Dwayne Savage, menghitung jumlah sel manusia kalah jauh dibanding sel microbiome yang menumpang hidup di tubuh manusia. Menurut dia, jumlah sel mikroba sepuluh kali lipat sel di badan manusia.

Belakangan, hitungan tersebut diperdebatkan para peneliti lain. Mereka menemukan kuman yang “menjajah” kita tak semelimpah itu, meski jumlahnya memang lebih banyak ketimbang sel di badan. Hasil studi lembaga penelitian Israel, Weizmann Institute, yang dipublikasikan pada 2016 menyebutkan perbandingannya sekitar 1 : 1,3. Sedangkan American Academy Microbiology memperkirakan rasionya 1 : 3. Jadi, dengan perkiraan ada 37 triliun sel di tubuh manusia, jumlah sel mikrobanya 111 triliun!

Namun, berapa pun perbandingannya, microbiome punya kuasa dalam tubuh kita. Beberapa tahun terakhir, banyak penelitian yang membuktikan bahwa microbiome, terutama yang -hidup di usus, berhubungan dengan -banyak penyakit, seperti diabetes, kanker, obe-sitas, peradangan kulit, autisme, ankylosing spondylitis, dan rheumatoid arthritis. Mikroba yang hidup di badan kita juga mempengaruhi kewarasan otak.

Studi yang dilakukan Jeroen Raes dari lembaga penelitian VIB, yang berbasis di Belgia, dan kawan-kawannya menemukan penderita depresi memiliki kadar bakteri Coprococcus dan Dialister lebih rendah dibanding mereka yang normal. Para peneliti menduga keberadaan Coprococcus berkaitan dengan dopamin. Kekurangan hormon dopamin akan membuat suasana hati menjadi jelek, yang lambat-laun bisa mengakibatkan depresi. Bakteri yang sama memproduksi zat anti-inflamasi. Ketika inflamasi naik, salah satu akibat jangka panjangnya adalah depresi. Hasil penelitian ini dipublikasikan pada Februari lalu di The National Center for Biotechnology Information  (NCBI).

Sedangkan penelitian baru yang dipimpin Elaine Hsiao dari Department of Inte-grative Biology and Physiology, University of California, Los Angeles, Amerika Serikat, menyimpulkan bahwa sembilan dari sepuluh hormon serotonin justru dibuat di usus. Jumlah produksinya sangat dipengaruhi oleh bakteri tertentu. “Selama ini kita menyangka serotonin yang menciptakan perasaan nyaman dan tenang ada di otak. Ternyata lebih banyak diproduksi di perut,” ujar psikolog Saskhya Aulia Prima. Serotonin juga bertugas mengatur suasana hati dan perasaan. Seperti dikutip Science-Daily, laporan studi tersebut dipublikasikan pada awal September lalu.

Menurut Roby Muhamad, 44 tahun, tubuh seperti sebuah alam semesta bagi microbiome. Mereka tinggal di mana pun di bagian tubuh kita. Lokasi yang paling “padat penduduk” adalah usus. “Mereka butuh makan dan usus adalah tempat makanan,” tuturnya. Sedangkan usus membutuhkan makhluk tersebut untuk membantu mengolah makanan menjadi zat yang dibutuhkan badan. Jenis microbiome yang tumbuh di badan kita sa-ngat dipengaruhi oleh apa yang kita konsumsi.

Roby mengatakan jenis microbiome beraneka rupa. Ada yang baik, ada pula yang jahat. Makin bervariasi penghuni baik, makin seimbang kondisi usus. Sebaliknya, kalau usus dikuasai bakteri jahat, atau dikuasai bakteri baik tapi homogen, atau bahkan steril dari bakteri, kondisi tubuh menjadi tak seimbang. “Ada penelitian yang menemukan bahwa tikus yang memiliki bakteri seragam atau steril di ususnya lebih gampang stres ketimbang tikus yang memiliki bakteri beraneka rupa,” katanya.

Agar bakteri yang tumbuh di usus bervariasi, salah satu cara yang bisa diambil adalah mengubah pola makan dengan mengkonsumsi banyak serat. Studi yang dilakukan John O’Grady dan kawan-kawannya dari Irlandia menyimpulkan micro-biome membutuhkan asam lemak rantai pendek (short-chain fatty acids) untuk berkomunikasi. Nah, asam lemak rantai pendek itu terutama berasal dari makanan yang mengandung banyak serat. Asam lemak tersebut juga penting bagi usus, membantu fungsi metabolisme, dan meningkatkan kekebalan tubuh. Hasil penelitian mereka diterbitkan di NCBI pada Maret 2019.

Studi ini sejalan dengan penelitian sebelumnya tentang depresi. Menurut ahli gizi Tan Shot Yen, beberapa penelitian menyimpulkan makanan yang rendah serat dan tinggi gula serta makanan yang diproses justru memicu depresi dan kecemasan. “Tapi, di Indonesia, remaja tiap hari diracuni dengan produk industri dan makanan serta minuman sarat gula plus rafinasi. -Enggak aneh emosinya senggol bacok,” ujarnya.

Cara lain menjaga kesehatan usus, kata Saskhya, adalah dengan memasukkan pasukan bakteri baik ke usus lewat makanan. Di antaranya dengan mengkonsumsi makanan berprobiotik tinggi, seperti kefir, yoghurt, acar, dan kimchi. “Mereka akan memperbaiki kondisi usus,” tuturnya.

Roby pernah mencoba cara ini untuk anaknya yang kini berusia 15 tahun. Sejak bayi, putranya punya masalah pencernaan. Perutnya gampang kembung dan sakit sehingga sering rewel. Roby, yang waktu itu sedang meng-ambil pendidikan doktoral sosiologi di Columbia University, Kota New York, Amerika Serikat, bolak-balik ke dokter untuk mengatasi -masalah ini. “Membaik setelah diobati, tapi ya kemudian kambuh lagi,” ucap Roby, yang kuliah di Amerika Serikat pada 2000-2010.

Masalah ini merembet sampai anaknya besar. Putranya kesu-litan mengendalikan emosi. Gerakan atau suara yang dianggap normal untuk orang lain, misalnya, bisa membuat amarahnya -meletup. Psikolog yang menanganinya mengatakan emosi berlebihan ini -terjadi karena ia menahan nyeri pada perut.

Tiga tahun lalu, Roby dan istrinya menjajal terapi lain dengan memasukkan ma-kanan yang mengandung probiotik tinggi ke menu harian mereka. Setelah tiga bulan, kondisi perut dan emosi anaknya membaik. “Sekarang dia lebih rileks,” tuturnya.

Di Amerika Serikat, kata Roby, makanan dengan kadar probiotik tinggi biasa diresepkan oleh para psikiater untuk mereka yang menderita gangguan mental. Probiotik dalam makanan diharapkan akan memerangi bakteri jahat yang bisa merusak dinding usus. Kalau dinding usus rusak, racun yang semestinya dibuang oleh tubuh malah masuk ke aliran darah. Walhasil, bisa timbul masalah mental. Ketika kondisi usus membaik, diharapkan kondisi mental pun lebih stabil.

NUR ALFIYAH


Kesehatan 1/2

Sebelumnya Selanjutnya

Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
Anda akan mendapatkan 8 artikel gratis setelah Register.

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Anda memiliki 3 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

8 artikel gratis setelah Register.