Xu Bing, Aksara, dan Rokok - majalah.tempo.co

Seni Rupa 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Xu Bing, Aksara, dan Rokok


Seniman asal Cina, Xu Bing, menggelar pameran tunggal di Museum MACAN sejak akhir Agustus lalu. Ia mengeksplorasi banyak metode, dari film, grafis, teks, sampai arsip.

Isma Savitri

Edisi : 5 Oktober 2019
i Karya Book from The Sky dalam pameran tunggal Xu Bing di Museum MACAN, Jakarta, 3 Oktober 2019. TEMPO/Nurdiansah
Karya Book from The Sky dalam pameran tunggal Xu Bing di Museum MACAN, Jakarta, 3 Oktober 2019. TEMPO/Nurdiansah

INSTALASI ini menyerupai kain putih panjang yang membentang seperti ceruk dari satu sudut ke sudut lain di seberangnya. Namun ini bukan kain, melainkan tiga lembar panjang kertas bertulisan sederet kalimat yang sekilas mirip huruf Mandarin. Tapi jangan terkecoh. Sebab, dari dekat, kita akan menyadari tulisan rapi ini tak bisa dibaca. Ada juga berlembar-lembar kertas serupa yang terjuntai vertikal seperti tembok di dua sisi ruangan. Sedangkan di bawah bentangan kertas itu terhampar tujuh lajur kertas dengan aksara serupa.

Deretan huruf dalam karya Book from the Sky itu dibuat seniman Xu Bing sejak 1987 hingga 1991. Instalasi ini dipajang dalam pameran tunggalnya, “Thought and Method”, di Museum MACAN, Jakarta, akhir Agustus lalu. Bagi Xu Bing, ini adalah pameran terbesar dan perdananya di Asia Tenggara. Sebelum ini, karyanya dipamerkan di sejumlah museum dan galeri seni di penjuru dunia, di antaranya Metropolitan Museum of Arts di New York dan Blanton Museum or Art di Texas, Amerika Serikat.

Direktur Museum MACAN Aaron Seeto menyebutkan pameran ini menampilkan karya terpenting Xu Bing dalam kacamata budaya, peran teknologi, bahasa, serta budaya global di akhir abad ke-20 dan awal abad ke-21. Untuk itu MACAN bekerja sama dengan UCCA Center for Contemporary Art, Beijing, Cina, yang menggelar pa-meran ini pada Oktober tahun lalu. “Ia seniman yang menggali kedalaman sejarah untuk mempelajari pertukaran budaya di era komunikasi antarnegara,” ujarnya.

Book from the Sky adalah satu dari pu-luhan karya Xu Bing dalam pameran yang berlangsung mulai 31 Agustus 2019 hingga 12 Januari 2020 ini. Dalam karya ini, Xu Bing menggunakan 4.000 karakter berbeda yang mirip abjad Cina tradisional. Walau Book from the Sky sudah dipamerkan di mana-mana, tak ada yang paham pasti apa yang dikisahkan Xu Bing dalam karya ini. Ada yang menafsirkannya sebagai keintiman Xu Bing dengan aksara dan bahasa. Ada pula yang menganggapnya sebagai kritik Xu Bing terhadap tiran Mao Zedong, yang memanipulasi teks selama pemerintahannya.

Xu Bing tak pernah membenarkan salah satunya. Tapi dia tertarik pada satu pertanyaan yang penasaran: apakah ia akan lanjut mengukir huruf karangannya dalam Book from the Sky. Xu Bing mengatakan dia pun menanyakan itu kepada dirinya sendiri. “Saya pikir jawabannya adalah perupa bereksperimen dengan seni. Kami memulainya dari keingintahuan manusia,” katanya.

Seperti menjadi antitesisnya, ada pula instalasi Book from the Ground di sisi lain ruang pamer Museum MACAN. Untuk proyek yang pertama kali dibuat pada 2003 dan masih berlangsung sampai sekarang ini, Xu Bing membuat semacam ruang kerja modern dengan sejumlah komputer, buku, stiker, dan alat tulis dengan banyak sekali simbol universal dan emoji yang sering kita jumpai sehari-hari di rumah ataupun ruang publik.

Dalam karyanya yang lain, Xu Bing kembali mempermainkan visual kita. Tengok saja karya Indonesian Square Word Calli-graphy (2019), yang memelesetkan aksara Latin dan bahasa Indonesia ke huruf bikinannya yang mirip abjad Mandarin. Bila jeli membacanya, kaligrafi itu menulis pepatah populer, seperti “rajin pangkal pandai”, “alah bisa karena biasa”, dan “berjalan sampai ke batas, berlayar sampai ke pulau”. Mengawinkan tradisi dan roman, kaligrafi ini seperti bentuk “curhat” Xu Bing, yang saat pindah ke New York dulu sempat -mengalami gegar bahasa.

Saat mengajar di Amerika Serikat, Xu Bing ditanyai apakah eksplorasinya dengan huruf Mandarin dalam Square Word Calligraphy tak membikin orang Cina tersinggung. Menurut dia, orang Cina justru cukup senang karena ia mengubah bahasa Mandarin ke bahasa Inggris. Tapi tulisannya ini, kata Xu Bing, jika dipelajari tak bakal diketahui apakah termasuk bahasa Mandarin ataukah bahasa Inggris.

Isu-isu kontemporer juga disentuhnya dengan pendekatan yang unik, seperti saat menggarap film Dragonfly Eyes pada 2017. Karya ini adalah kritik Xu Bing soal -tin-dakan “memata-matai” dan bagaimana kurangnya privasi menjadi konsekuensi dari kemajuan teknologi. Ia menerjemahkannya dengan mengumpulkan 10 ribu jam rekaman footage kamera pengawas (CCTV) menjadi film. Ketika sudah menjadi rekaman baru yang utuh, film ini akan menunjukkan kepada kita bagaimana orang-orang yang tampak hampir serupa dalam rekaman kamera ini memiliki kompleksitas masalah berbeda.

Ranah ide Xu Bing tak jauh dari akar dan jati dirinya. Dia lahir di Chongqing, wila-yah terpadat penduduk di Cina barat, pada 1955, sampai kemudian pindah ke Beijing. Xu Bing dibesarkan dalam lingkungan in-telektual, karena sang bapak adalah Kepala Departemen Sejarah Peking University dan ibunya peneliti di Departemen Perpustakaan kampus tersebut. Itu yang membuat dia mencintai literatur dan betah duduk berjam-jam di ruang baca perpustakaan.

Xu Bing kecil belajar kaligrafi tradisional dari ayahnya. Ia juga mulai melukis dan pada saat bersamaan minatnya terhadap kata-kata tertulis mulai tumbuh. Saat masa Revolusi Kebudayaan Cina pada 1970, Xu Bing muda turun ke perdesaan. Di situ pikirannya bergulat dan mulai menggugah kesadaran dia mengkritik elemen budaya dengan bahasa. Ia lalu mempelajari seni grafis di Akademi Seni Rupa Pusat, Beijing, dan pindah ke Amerika Serikat pada 1990. Xu Bing kembali ke kampung halamannya 18 tahun kemudian untuk mengajar di -kampusnya.

Menurut Xu Bing, untuk menjadi seniman yang baik, seseorang mesti menjadi pemikir yang baik pula. Namun, jika hanya bermodal pemikiran, niscaya nasib orang itu akan berakhir menjadi filsuf, alih-alih tercatat di dunia seni. “Karena itu, seorang seniman mesti punya cara artistik untuk merepresentasikan idenya,” ujarnya. Problematika baginya bukan semata perkara material, melainkan media yang -mengantarnya untuk berdialektika.

Karya Square Word Calligraphy. TEMPO/Nurdiansah

Salah satu yang menarik adalah tafsir Xu Bing soal tembakau dalam karya Honor and Splendor (2004). Karya ini dipajang -paling depan di ruang pameran dan menjadi wajar karena mencuri perhatian secara visual ataupun bagi indra penciuman. Sekilas kita akan melihatnya seperti permadani cokelat bermotif loreng harimau. Nya-tanya, “karpet” ini disusun dari 660 ribu batang rokok Wealth dari Cina dan menjadi salah satu karya dari “proyek tembakau” Xu Bing. Kita akan menyadarinya jika membungkuk dan melihat saksama serta mengendus aroma tembakaunya yang menyengat kuat.

Selain menciptakan Honor and Splendor, Xu Bing membuat sejumlah karya dari material industri tembakau. Misalnya mencetak buku puisi With the Poets in Smokeland (Allen dan Ginter) di kertas gulungan rokok yang tidak digunting dalam karya Reel Book (2000). Ia juga membuat tiga buku lipat Tang Poems (2000) dari kertas filter rokok dengan ketikan sajak-sajak Tang dalam bahasa Inggris.

Xu Bing mulai mengerjakan proyek tersebut pada 1999 di tiga lokasi yang terkait dengan tembakau. Ia mengawalinya di Durham, Carolina Utara, Amerika, lalu di Shanghai pada 2004, dan ditutup di Virginia, Amerika, pada 2011. Ia semula merenungkan citra rokok yang selama ini lekat dengan hal negatif; berbanding terbalik dengan kesenian yang dicitrakan positif. Padahal kebanyakan manusia bergantung pada dua hal itu. Menurut Xu Bing, -menggabungkan seni dan rokok bisa -menghasilkan kekuatan baru. “Ketika melihatnya dari perspektif lain dan meletakkannya di ranah berbeda, saya melihatnya sebagai entitas yang sama sekali baru,” ujarnya.

Kesenian juga kembali dikritik Xu Bing lewat Background Story. Di sini dia menyuguhi kita timbunan sampah yang ia hasilkan selama membuat karya seni yang dipasang dalam pameran “Thought and Me-thod”. Ada kertas yang terserak, plastik-plastik, dedaunan kering, ranting pohon, juga kain yang dibiarkan berantakan. Lewat instalasi ini, Xu Bing mempertontonkan kontradiksi dalam sebuah persoalan: pada saat ada karya seni yang cantik dan agung, ada “kekacauan” dan sampah yang muncul dalam proses produksinya. Seperti kata Xu Bing, “Di mana ada kehidupan, di situ ada permasalahan. Di mana ada permasalahan, di sana ada seni.”

ISMA SAVITRI


Seni Rupa 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
Anda akan mendapatkan 8 artikel gratis setelah Register.

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Anda memiliki 3 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

8 artikel gratis setelah Register.