Krisis Energi Mengancam Ekonomi Vietnam di Masa Depan - Financial Times - majalah.tempo.co

Financial Times 1/1

Sebelumnya
text

Krisis Energi Mengancam Ekonomi Vietnam di Masa Depan


Dianggap sebagai negara yang diuntungkan dalam perang dagang AS-Cina, Vietnam justru tengah berusaha keras mengatasi ancaman krisis energi yang berpotensi mengakibatkan pemadaman listrik dalam dua tahun mendatang.

Tempo

Edisi : 28 September 2019
i

Pemerintah Vietnam tengah berusaha keras mengatasi ancaman krisis energi yang berpotensi menimbulkan pemadaman listrik dalam dua tahun mendatang. Bila tak ditanggulangi, hal tersebut bisa menghambat masa depan salah satu negara Asia dengan pertumbuhan ekonomi tercepat itu.

Perdana Menteri Vietnam, Nguyen Xuan Phuc, mengingatkan kekurangan daya bisa segera terjadi pada tahun 2021. Oleh karena itu ia memerintahkan para pejabat untuk mempercepat proyek pembangkit listrik yang mangkrak.

Terlebih Vietnam yang menjadikan industri manufaktur berbasis energi intensif kini sudah dipandang dunia internasional sebagai tempat berlindung sekaligus yang akan mendulang keuntungan dari perang dagang Amerika Serikat dan Cina.

Vietnam saat ini menghadapi ancaman krisis energi di dua sisi pada saat bersamaan. Pertama, kapasitas pembangkit listrik berkurang sebagaimana diingatkan oleh pemerintah sebelumnya. Kedua, tekanan dari Cina atas operasi pengeboran minyak dan gasnya di laut.

Sebagai negara yang mencoba mengimbangi AS dan Cina dalam hal diplomasi dan ekonomi, Vietnam menghadapi sejumlah pilihan jangka pendek untuk masalah energinya yang bisa menimbulkan implikasi geopolitik di tahun-tahun mendatang.

"Sumber cadangan minyak dan gas domestik Vietnam diperkirakan bakal hadapi sejumlah tantangan, baik dalam hal kapasitas keuangan perusahaan pelat merahnya untuk mengembangkan sumber daya atau perselisihan maritim dan ketegangan politik," kata Andrew Harwood, direktur penelitian tim hulu minyak dan gas di Wood Mackenzie, di Singapura. "Ada kekhawatiran tentang bagaimana Vietnam dapat memenuhi kebutuhan energi masa depannya."

Vietnam hingga kini masih sangat bergantung pada batu bara, bahan bakar minyak, dan tenaga air untuk kebutuhan listriknya. Namun beberapa tahun belakangan ini, sejumlah proyeknya tertunda karena birokrasi atau ketidakmampuan investor asing mendapatkan jaminan pinjaman pemerintah untuk proyek mereka.

Di 2016, Hanoi mengakhiri program energi nuklirnya yang dulu lama diperdebatkan. Menurut para pejabat pemerintah dan pengamat industri, Vietnam saat ini memburu listrik tenaga surya, mempelajari impor gas alam cair dalam skala besar dan mempertimbangkan impor daya dari negara-negara tetangga.

Awal bulan ini, pembangkit listrik tenaga surya terbesar di Asia Tenggara senilai US$ 391 juta mulai beroperasi di Tay Ninh, Vietnam selatan. EVN, perusahaan listrik negara itu, bulan lalu mengklaim bahwa lebih dari 4.000 rumah tangga telah memasang sistem panel surya atap dengan total kapasitas 200 megawatt dalam tiga bulan terakhir. Akhir 2019 ini, kapasitasnya akan ditambah menjadi 300 megawatt.

"Pertumbuhan pesat pasar solar atap di tahun 2019 ini menandakan bahwa pemerintah telah mengadopsi diversifikasi pembangkit listrik yang menekankan pada energi terbarukan sebagai solusinya," kata direktur Dragon Capital Gavin Smith di Ho Chi Minh.

Namun, ia menambahkan, "Masih harus dilihat apakah pertumbuhan cepat energi terbarukan sejak 2018 itu akan cukup mencegah risiko pemadaman listrik dalam tiga tahun ke depan."

Kondisi ini juga yang menghambat pertumbuhan ekonomi negara berkembang lainnya. Afrika Selatan, misalnya, sering mengalami pemadaman karena perusahaan nasionalnya Eskom gagal menginvestasikan kapasitas yang cukup untuk memenuhi permintaan dalam beberapa tahun terakhir.

Permintaan listrik di Vietnam melonjak sekitar 9 persen per tahun, lebih tinggi dari pertumbuhan ekonominya sebesar lebih dari 7 persen pada 2018.

Karena sensitivitasnya, tidak ada perwakilan pemerintah yang bersedia diwawancarai resmi oleh FT tentang masalah ini. Namun, seorang pejabat mengakui ada "beberapa risiko kekurangan listrik dalam situasi ekstrim dan tidak terduga" yang kemungkinan besar terjadi bila fungsi waduk yang menggerakkan pembangkit listrik tenaga air menurun.

Hanoi saat ini berupaya mengatasi kesenjangan daya dengan meningkatkan impor listrik dari Laos. Para pejabat juga membahas kemungkinan impor daya listrik dari Cina meski wacana ini sensitif karena tingginya sentimen anti-Tiongkok yang baru-baru ini merebak karena sengketa laut.

Perusahaan dan pejabat Amerika mempromosikan proyek gas alam cair atau LNG sebagai salah satu solusi kebutuhan listrik Vietnam serta menjualnya agar dapat mengurangi surplus perdagangan Vietnam dengan AS yang merupakan salah satu isu ketegangan dengan pemerintahan Trump.

Namun, gas cair tidak bisa menjadi solusi yang cukup cepat untuk mencegah krisis energi di masa mendatang karena Vietnam perlu membangun fasilitas darat untuk sumber daya tersebut.

Kemampuan Vietnam untuk mengeksploitasi gas di lepas pantainya sendiri dipertanyakan. Sejak awal Juli, kapal survei Tiongkok Haiyang Dizhi 8 beroperasi di lepas pantai selatan Vietnam dekat Lan Tay-Lan Do, ladang yang dikembangkan oleh PetroVietnam dan Rosneft Rusia—yang oleh AS disebut sebagai aksi "paksaan".

Awal bulan ini, media sosial Vietnam dikejutkan dengan isu ExxonMobil yang memberi tahu Perdana Menteri Phuc bahwa ia menarik diri dari Blue Whale, proyek gas lepas pantai terbesar Vietnam.

ExxonMobil yang tengah menjual sebagian asetnya sebelum buyback saham terencana menolak berkomentar tentang apa yang disebutnya "rumor pasar atau spekulasi tentang rencana bisnis kami". Mengutip pernyataan mitra ExxonMobil yaitu PetroVietnam, juru bicara pemerintah Vietnam Le Thi Thu Hang mengatakan proyek tersebut "sedang dilaksanakan sesuai rencana."



Financial Times 1/1

Sebelumnya

Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
Anda akan mendapatkan 8 artikel gratis setelah Register.

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Anda memiliki 3 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

8 artikel gratis setelah Register.