Meniup Bara dalam Sekam - majalah.tempo.co

Nasional 4/5

Sebelumnya Selanjutnya
text

Meniup Bara dalam Sekam


Isu rasisme membangkitkan sentimen laten orang Papua dan bukan Papua. Dibayang-bayangi konflik horizontal.

Riky Ferdianto

Edisi : 7 September 2019
i Personel Brimob berjaga di sekitar Asrama Mahasiswa Nayak Abepura  di Kota Jayapura, Papua, 1 September 2019.  ANTARA/Zabur Karuru
Personel Brimob berjaga di sekitar Asrama Mahasiswa Nayak Abepura di Kota Jayapura, Papua, 1 September 2019. ANTARA/Zabur Karuru

ASTUTI memakukan pandangan ke arah pria yang sedang mengasah parang di atas puing bangunan yang hangus di Jalan Koti, Kota Jayapura, Ahad, 1 September lalu. Di sam-ping pria itu, berjejer dua linggis yang panjangnya satu meter, golok, dan badik yang masih terlihat majal. Benda-benda serupa tergeletak di bawah meja di hadapan Astuti, tempat ia menghamparkan minuman botolan dagangannya.

Si pria adalah satu dari enam saudara Astuti yang siang itu menemaninya berjualan di bawah terpal. Warungnya yang tadi-nya berdiri persis di tepi jalan musnah terbakar saat unjuk rasa, Kamis, 29 Agustus lalu. Yang tersisa tinggal temboknya yang berjelaga. Kini Astuti berjualan seadanya agak jauh dari jalan. Dia ditemani saudara-saudaranya untuk mengantisipasi bila ada kerusuhan lagi.

Unjuk rasa itu terlampau membuatnya ngeri. Selama tiga hari, mulai Kamis, 29 Agustus, hingga Sabtu, 31 Agustus, Jayapura mencekam. Demonstrasi yang berujung pada kerusuhan berlanjut dengan bentrokan antarwarga. “Ini bukan demo damai,” ujar perempuan asal Enrekang, Sulawesi Selatan, itu dengan suara bergetar.

Aksi itu merupakan demonstrasi kedua setelah pada 19 Agustus lalu untuk memprotes perlakuan rasis terhadap mahasiswa asal Papua di Surabaya. Warga Papua di Sentani dan Abepura tumpah ke jalan menuntut proses hukum bagi para pelaku. “Ada tiga kelompok. Yang pertama datang pukul empat sore, rombongan terakhir menjelang magrib,” ucap Astuti.

Semula, kata Astuti, keadaan terlihat lumrah. Demonstran hanya melancarkan protes sambil berseru-seru di sepanjang jalan. Kerusuhan terjadi ketika rombongan terakhir melintas di depan pelabuhan Jaya-pura, tak jauh dari warung Astuti. Sejumlah orang memaksa masuk ke warung dan menjarah isi dagangan. “Setelah itu, mereka membakar semua kios di sepanjang jalan ini,” ujarnya.

Setelah propertinya dirusak demonstran, keesokan harinya sejumlah pemilik bangunan yang umumnya pendatang membalas kelompok demonstran yang tengah dalam perjalanan pulang. Tercatat enam orang meninggal dan puluhan lain luka-luka dalam bentrokan antarwarga sipil itu. Astuti dan para pendatang waswas warga Papua akan menyerang balik.

Sepekan setelah kerusuhan, Kota Jaya-pura berangsur-angsur pulih. Jalan raya yang biasa ramai dengan kendaraan kini terlihat lengang. Malam hari betul-betul sunyi. Penduduk Jayapura memilih tidak ke luar rumah untuk menghindari bentrokan susulan antarkelompok warga. Sebagian warga berinisiatif menjaga kawasan hunian mereka secara bergiliran.

Kawasan Expo, salah satu distrik di Jaya-pura, yang menjadi titik kumpul awal demonstrasi kini ramai oleh polisi. Setidak-nya ada tiga-lima petugas yang berjaga di setiap persimpangan jalan. Semuanya menenteng senjata laras panjang. Perhatian ekstra tertuju di wilayah Perumnas II dan III, tak jauh dari kawasan Expo, yang tersohor sebagai kantong Komite Nasional Papua Barat (KNPB), organisasi yang mendorong kemerdekaan Papua.

Ketua KNPB Agus Kossay telah mening-galkan markasnya dan bersembunyi di luar kota. Namanya santer disebut Kepala Kepolisian RI Jenderal Tito Karnavian sebagai salah satu dalang di balik demonstrasi yang berujung pada kerusuhan. Sejak dijadikan target buruan, Agus mengaku harus berpindah-pindah tempat dari satu rumah warga ke rumah yang lain. “Saya tahu sedang diburu,” katanya kepada Tempo.

Pria gempal itu tak mau menemui sembarang orang. Agus hanya mau ditemui lewat perantara orang yang ia kenal. Itu pun pada malam hari di tempat yang ia tentu-kan. Saat Tempo menemui Agus pada Rabu, 4 September lalu, sedikitnya ada tujuh orang yang mengawalnya. Semuanya anggota KNPB.

Menurut Agus, gelombang protes bisa membesar lagi karena orang Papua masih marah terhadap tindakan rasial di Surabaya. “Perlakuan tak pantas itu memberikan pesan bahwa Papua harus keluar dari Indonesia dan mendirikan negara sendiri,” ucapnya.

Demonstrasi yang berujung pada kerusuhan kemarin, kata Agus, tak bisa dikendalikan karena jumlah massa yang begitu banyak. Barisan manusia yang mengikuti aksi mengular lebih dari satu kilometer. Ia mengaku tak mengetahui siapa otak di balik pembakaran dan perusakan sejumlah bangunan waktu itu. “Bagaimana mungkin bisa mengendalikan massa dengan jumlah sebesar itu?” ujarnya.

Di wilayah Abepura, sejumlah ruas jalan dijaga ketat polisi berseragam hitam. Sebagian lain menyebar dengan mengenakan pa--kaian preman. Mereka berjaga sepanjang hari, terutama di titik-titik panas, seperti Abepura Kamkey. Wilayah ini menja-di fokus pengamanan akibat bentrokan yang menewaskan satu orang dan -melukai pu--luhan lainnya pada Sabtu, 31 Agustus lalu.

Namun pengamanan itu tak sepenuhnya disambut sebagian penduduk Jayapura. Penghuni kawasan Angkasa, Distrik Ja-yapura Utara, justru mengusir polisi yang berniat mengamankan wilayah mereka pada Sabtu, 31 Agustus lalu. Penolakan itu memaksa Kepala Kepolisian Resor Jayapura dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Papua turun tangan.

Salah seorang warga Angkasa, -Herry Mambor, mengatakan penolakan -dilatari pengalaman traumatis sebagian besar war-ga atas insiden Kongres Papua Merde-ka pada 2002. Saat itu, kata dia, seorang warga yang menjadi buruan aparat tewas. “Kami sepakat pengamanan wilayah tak me--li-batkan polisi, tapi kami lakukan sendiri,” ujarnya.

Dampak kerusuhan Jayapura juga berpengaruh pada aktivitas perekonomian. Sejumlah pedagang di sentra bisnis di Distrik Entrop tampak belum beroperasi. Sebagian lain sudah memberanikan diri mem-buka usaha, tapi tetap waspada. Toko perabot rumah, Sagita Furniture, misalnya, sejak Senin, 2 September lalu, hanya membuka sebagian pintu toko.

Wakil Direktur Sagita Furniture -Rianto Wijaya, 30 tahun, mengaku harus meng-ubah jam operasi untuk menyiasati situasi Jayapura yang masih rawan. Pada hari biasa toko buka pukul 10.00, tapi kini semua karyawannya diminta bekerja sejak pukul 08.00. “Biasanya karyawan pulang jam 8 malam. Tapi sekarang lebih awal biar tidak terlalu malam dalam perjalanan pulang,” ucapnya.

Menurut Rianto, usaha yang dirintis kedua orang tuanya sejak 2002 itu kini sepi pengunjung. Pada hari biasa, setidaknya ada enam pembeli yang mampir ke toko-nya. Omzet bisnis mebelnya kini anjlok lebih dari 50 persen setelah kerusuhan. “Dalam kondisi seperti ini, banyak pembeli yang masih berpikir panjang untuk membeli produk furnitur,” katanya.

Rianto bersyukur karena bisnisnya selamat dari amuk massa. Puluhan tempat usaha di Entrop, yang berjejer di -samping markas Pangkalan Utama Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut X -Jayapu-ra, ha-ngus. Pengunjuk rasa membakar ba--ngunan dan sejumlah kendaraan di kawasan itu.

Komandan Pangkalan Utama TNI Angkatan Laut X Jayapura, Brigadir Jenderal Nurry Adrianus Djatmika, mengatakan hampir 10 ribu pengungsi meminta perlindungan saat kerusuhan yang disusul pertikaian warga. “Kami mengimbau korban dan demonstran sama-sama menahan diri agar tidak memicu bentrokan susulan,” ujarnya. 

RIKY FERDIANTO


Nasional 4/5

Sebelumnya Selanjutnya

Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
Anda akan mendapatkan 8 artikel gratis setelah Register.

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Anda memiliki 3 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

8 artikel gratis setelah Register.