Rugi Terbilang di Akhir Pekan - majalah.tempo.co

Laporan Utama 4/7

Sebelumnya Selanjutnya
text

Rugi Terbilang di Akhir Pekan


Miliaran rupiah menguap akibat nihilnya sambungan listrik lebih dari delapan jam. Berharap ada ganti rugi yang sepadan.

Putri Adityowati

Edisi : 9 Agustus 2019
i Salah satu restoran yang terkena dampak padamnya listrik di kawasan Sabang, Jakarta, 4 Agustus 2019. TEMPO/M Taufan Rengganis
Salah satu restoran yang terkena dampak padamnya listrik di kawasan Sabang, Jakarta, 4 Agustus 2019. TEMPO/M Taufan Rengganis

ENAM ribu alarm peringatan mendengung bersamaan di ruang pusat operasi jaringan (NOC) PT Hutchison 3 Indonesia pada pukul 11.45 WIB, Ahad, 4 Agustus lalu. Tiap alarm menandakan adanya gangguan pada satu perangkat base transceiver station (BTS) milik operator telekomunikasi ini. Stasiun pemancar sinyal itu tersebar di DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, dan sebagian Jawa Tengah. Sekitar 5.000 BTS tak beroperasi lantaran putusnya aliran listrik di wilayah tersebut. Akibatnya, jaringan data, telepon, dan pesan pendek yang dilayani Tri kacau hari itu.

Wakil Presiden Direktur Hutchison Tri Indonesia Danny Buldansyah sedang menghadiri undangan perkawinan saat menerima laporan dari anggota stafnya di pusat operasi. Mulanya dia berpikir padamnya listrik di seantero Ibu Kota tak akan lebih dari tiga jam. Dia pun sempat mendatangi acara reuni kampusnya. Saat itu, desas-desus bahwa pemadaman listrik akan berlangsung lebih dari enam jam berseliweran. Setiap orang berburu informasi. Sementara itu, Danny sulit berkomunikasi dengan stafnya lantaran sinyal telepon seluler timbul-tenggelam. “Akhirnya kami putuskan pukul 13.00 seluruh direksi kumpul di kantor untuk koordinasi,” kata Danny saat ditemui di kantornya, Selasa, 6 Agustus lalu.

Dalam kondisi tanpa aliran listrik, menara pemancar sinyal hanya mampu bertahan hidup satu-tiga jam dari pasokan daya baterai cadangan. Mau tak mau manajemen mesti mengoperasikan 400 genset untuk memasok aliran listrik bagi BTS yang memancarkan sinyal ke area penting, seperti rumah sakit. “Kami pasang genset keliling supaya sebagian BTS hidup dulu,” ujar Danny. Pada pukul 17.30, jaringan paket data, telepon, dan pesan pendek Tri berangsur pulih.

Seluruh komunikasi data, telepon, dan pesan pendek terganggu sepanjang listrik padam pada Ahad dua pekan lalu. Pembeli kartu perdana Tri tak dapat mendaftarkan identitasnya pada hari itu lantaran sistem registrasi di jaringan dinas kependudukan dan pencatatan sipil turut kacau.”Sekitar 3.000 orang kami bypass registrasinya. Sekarang sudah diverifikasi ulang,” ucap Danny.

Trafik komunikasi data Tri anjlok 25 persen akibat peristiwa itu. Tri harus menanggung kerugian Rp 15-20 miliar di luar tambahan biaya bahan bakar genset. Untungnya, tak ada satu pun alat yang rusak akibat listrik padam lebih dari delapan jam pada akhir pekan itu.

Saat menerima kabar bahwa listrik padam pada Ahad itu, Wawan Gunawan, Manajer Restoran D’Cost VIP Jakarta Pusat, berkali-kali mengirimkan pesan pendek kepada karyawannya melalui aplikasi WhatsApp. Tak satu pun pesan terkirim. Sorenya, Wawan baru mendapat kabar dari timnya. “Saya cek genset bisa menyala atau tidak. Untungnya aman, bisa dipakai,” ujar Wawan saat ditemui di restorannya yang terletak di Jalan Abdul Muis, Jakarta Pusat, Rabu, 7 Agustus lalu.

Rumah makan itu sepi pengunjung saat listrik padam. Dengan genset cadangan, manajemen menghidupkan lampu di ruang utama restoran dan empat lemari pendingin di dapur. Sedangkan penyejuk udara terpaksa dimatikan agar tak menambah beban daya. Restoran ini terdiri atas beberapa ruangan, termasuk ruang pertemuan, musala, dan area parkir.

Manajemen D’Cost tetap membuka gerainya hingga pukul 21.00 meski sepi pembeli. Agar genset bisa bertahan hingga sehari penuh, D’Cost membeli tambahan solar hingga Rp 3 juta. “Yang penting lemari stok bahan makanan tetap hidup. Kalau tidak, bisa rusak semua,” kata Wawan.

Esoknya, listrik di sebagian wilayah Jakarta kembali padam setelah sempat menyala. Pada Senin siang, D’Cost masih sepi pembeli. Dua ruangan seluas lapangan tenis senyap tak seperti Senin biasanya. Padahal rumah makan ini ramai saat hari kerja. Penjualan baru pulih dua hari setelah peristiwa nahas itu.

Kepala Pemasaran PT Green Asia Food Indonesia Inneke Christiana masih sibuk menghitung ulang kerugian perusahaan es krim merek Joyday itu akibat padamnya listrik di sebagian Jawa dua pekan lalu. Sebab, tanpa aliran listrik, es krim dalam kotak pembeku milik perusahaan afiliasi Yili Group asal Cina tersebut dipastikan rusak. “Paling lama hanya bisa bertahan tiga-empat jam. Setelah itu, pasti cair tak berbentuk,” tutur Inneke.

Inneke mengklaim lebih dari 10 ribu lemari pembeku di pedagang-pedagang kecil tak berfungsi karena terhentinya aliran listrik. Artinya, puluhan ribu karton es krim Joyday meleleh sepanjang hari itu. Selama ini, es krim memang diimpor langsung dari Cina dan didistribusikan ke warung-warung kecil di 20 kota di Tanah Air. Harga jualnya Rp 2.500-12.000 per kemas-an. Karena es krim mencair, perusahaan harus menanggung kerugian Rp 3-5 miliar. “Karena kami harus menanggung produk rusak yang dikembalikan dari warung-warung,” ucapnya. “Belum lagi kalau nanti ada alat yang rusak.”

Satu unit komputer milik Wedi Andro, pengusaha penyuplai ikan hidup untuk restoran, juga rusak lantaran listrik di tokonya mati mendadak. Andro memang tak memasang alat penstabil tegangan untuk komputer itu. Walhasil, komputernya tak bisa digunakan lagi. Pada saat yang sama, pelanggannya di Bandung hampir menolak pasokan ikan yang ia kirim. Alasannya, tak ada kepastian kapan listrik untuk suplai oksigen ikan akan mengalir kembali. “Setelah dirayu, akhirnya tetap dibeli. Ikan kami juga masih hidup semua,” ujar pendiri Andro Marine Asiatic itu.

Bukan hanya pengusaha perorangan, para pengusaha retail juga gigit jari akibat padamnya listrik secara massal. Di Jakarta, sedikitnya 82 mal terimbas pemadaman itu. Rata-rata tiap mal kehilangan 10 ribu pengunjung pada puncak akhir pekan itu. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia Roy Mande mengatakan, jika tiap orang menghabiskan Rp 200 ribu, satu mal merugi Rp 2 miliar. Adapun potensi kerugian 82 mal ditaksir mencapai Rp 160 miliar saat itu.

Nilai tersebut belum mencakup potensi kerugian retail modern di luar mal yang mencapai Rp 40 miliar. Fasilitas pembayaran elektronik terganggu akibat hilangnya jaringan telekomunikasi pada saat yang sama. “Potensi kehilangan penjualan terlihat betul karena masyarakat akhirnya enggan atau membatalkan keinginan berbelanja,” kata Roy.

Pengelola Indomaret menyatakan sekitar 6.000 gerai terpaksa tutup setelah pasokan listrik dari genset cadangan tak lagi mencukupi. Setiap gerai memang dilengkapi genset berkapasitas 5 kilovolt-ampere, tapi hanya mampu beroperasi hingga tiga jam. “Hanya dapat dimanfaatkan untuk penerangan sebagian, pos kasir, dan lemari pendingin,” tutur Direktur PT Indomarco Prismatama Wiwiek Yusuf. Menurut Wiwiek, sebagian produk yang rusak karena penyimpanan tak berpendingin terpaksa dimusnahkan.

Tak sampai sepekan setelah pemadaman listrik massal, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menerima enam aduan dari rumah tangga yang merasa dirugikan. Beberapa di antaranya ihwal terganggunya jaringan Internet, rusaknya televisi akibat pemadaman, catatan meter yang tidak akurat, dan buruknya pelayanan pelanggan PLN saat terjadi krisis.

Komunitas Konsumen Indonesia dan YLKI mengusulkan pembentukan lembaga khusus yang menangani ganti rugi apabila ada hak-hak konsumen yang dilanggar. “Jadi tak perlu lewat pengadilan karena itu sangat melelahkan,” ujar Koordinator Pengaduan dan Hukum YLKI Sularsi.

PLN menyiapkan dana Rp 839 miliar untuk membayar kompensasi kepada para pelanggan yang terimbas pemadaman massal. Pembagiannya akan disesuaikan dengan Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 27 Tahun 2017.  Direktur Pengadaan Strategis 2 PLN Djoko Raharjo Abumanan menyebutkan dana kompensasi ini akan diambil dari pemangkasan bonus lantaran tidak tercapainya target kinerja perusahaan. “Akan kami hitung sesuai dengan kelompok tarifnya,” kata Djoko.

PUTRI ADITYOWATI


Laporan Utama 4/7

Sebelumnya Selanjutnya

Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
Anda akan mendapatkan 8 artikel gratis setelah Register.

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Anda memiliki free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

8 artikel gratis setelah Register.