Gulita di Sepertiga Jawa - Laporan Utama - majalah.tempo.co

Laporan Utama 1/7

Selanjutnya

Gulita di Sepertiga Jawa


Gangguan transmisi menyebabkan sejumlah pembangkit listrik di Jawa Barat mati. Proses pemulihan terlambat karena ada alat komunikasi antargardu yang ditengarai kehabisan daya darurat.

Retno Sulistyowati

Edisi : 9 Agustus 2019
i Jakarta saat mati listrik, 4 Agustus 2019. REUTERS/Fransiska Nangoy
Jakarta saat mati listrik, 4 Agustus 2019. REUTERS/Fransiska Nangoy

AMIR Rosidin sedang dalam perjalanan kereta dari Jakarta menuju Bandung, Ahad, 4 Agustus lalu. Direktur Bisnis Regional Jawa Bagian Tengah PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) itu berencana menghadiri resepsi pernikahan di Ciumbuleuit, Bandung utara. Di tengah perjalanan, ia menerima panggilan telepon dari General Manager Unit Induk Pusat Pengatur Beban (P2B) PLN Edwin Nugraha Putra.

Suara Edwin terdengar putus-putus. Namun koleganya itu mengabarkan informasi gawat: sistem kelistrikan Jawa-Bali mengalami gangguan. Listrik di Jakarta, Banten, dan sejumlah daerah lain di Jawa Barat mati total. Mendengar kabar itu, Amir langsung mengurungkan niat ke acara pernikahan.

Tiba di Stasiun Hall, Bandung, bekas Direktur Utama PT Pembangkitan Jawa Bali—anak usaha PLN—itu bergegas menuju area pengatur beban (APB) PLN di Cigereleng, Bandung selatan. “Kalau dampaknya sudah meluas seperti ini, direksi harus turun tangan,” kata Amir, Jumat, 9 Agustus lalu.

Di grup WhatsApp direksi, pelaksana tugas Direktur Utama PLN, Sripeni Inten Cahyani, mengabarkan bahwa dia segera merapat ke kantor pusat PLN di Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan. Tapi, tak berselang lama, ia bergeser menuju kantor P2B di Gandul, Depok, Jawa Barat. Di sana, Direktur Pengadaan Strategis 2 PLN Djoko Rahardjo Abumanan tiba lebih dulu. Sedangkan Direktur Bisnis Regional Jawa Bagian Barat Haryanto W.S. langsung menuju Gardu Induk Tegangan Ekstra Tinggi Cawang di Jakarta Timur.

Foto udara suasana kompleks Unit Pelayanan Pengatur Beban Jawa Tengah dan DIY PT PLN di Ungaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, 5 Agustus 2019.

Adapun Direktur Sumber Daya Manusia Muhamad Ali tengah berada di Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. “Saya menyerahkan hewan kurban di sana,” tutur mantan bankir PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) itu. Menerima kabar darurat tersebut, Ali buru-buru meluncur ke Unit Pelayanan Pengatur Beban Jawa Tengah dan DIY di Ungaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.

Tanda-tanda darurat memang sudah muncul. Sesaat sebelum listrik padam, ruang kontrol Pembangkit Listrik Tenaga Uap 1 Banten mendadak geger. Pada pukul 11.48, frekuensi listrik di pembangkit yang terkenal dengan nama PLTU Suralaya itu anjlok tak keruan. Layar monitor yang memantau kondisi pembangkit unit 5, 6, dan 7 menunjukkan frekuensi pada angka 48,60 hertz. Tapi penunjuk angka terus merosot hingga akhirnya lenyap dari layar. “Waduhwaduh... waduh...,” suara panik terdengar dalam video berdurasi 34 detik yang merekam peristiwa itu.

Dalam hitungan detik, pembangkit Suralaya pun terlepas dari sistem kelistrikan Jawa-Bali. “Kami sedang meneliti kenapa frekuensi turun terus,” ucap Amir. Menurut dia, sejumlah pembangkit lain di area Jawa bagian barat ikut kolaps. Inilah yang menyebabkan aliran setrum di DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat mati total hingga malam hari.

Di P2B Gandul, Sripeni dan Djoko terus memantau kondisi kelistrikan Jawa bagian barat. Di APB Cawang, Haryanto memantau informasi perihal kelistrikan Jakarta dan Banten. “Kami cek indikasinya. Di situ baru ketahuan ada gangguan di titik Ungaran-Pemalang,” ujar Amir. Belakangan terbetik kabar: ada dahan pohon berinteraksi dengan saluran udara tegangan ekstra tinggi (SUTET) 500 kilovolt di ruas Pemalang-Ungaran, Jawa Tengah.

Dampak listrik padam pun meluas. Transportasi dan berbagai pelayanan publik terganggu. Sekitar 240 perjalanan kereta rel listrik dibatalkan. Operasi moda raya terpadu pun berantakan. Para penumpang dievakuasi karena empat rangkaian kereta terjebak di tengah rute Bendungan Hilir-Istora, Istora-Bendungan Hilir, Lebak Bulus-Fatmawati, dan Fatmawati-Lebak Bulus. Hal itulah yang membetot perhatian Presiden Joko Widodo.

Presiden Jokowi sampai berencana menggelar rapat terbatas membahas masalah kelistrikan. Rapat itu dijadwalkan berlangsung pada Senin pagi, 5 Agustus lalu. Direksi PLN mendapat informasi bahwa Presiden hanya mengundang pelaksana tugas Direktur Utama, Sripeni Inten -Cahyani.

Pelaksana tugas Direktur Utama PLN, Sripeni Inten Cahyani (kiri), dan Presiden Joko Widodo (kedua dari kiri) di kantor pusat PLN, Jakarta, 5 Agustus 2019. ANTARA/Akbar Nugroho Gumay

Tapi informasi berubah esok paginya. Presiden berencana datang ke kantor pusat PLN pada pukul 09.00. Satu per satu direktur bersiap. Sekitar pukul 07.00, mereka berkumpul mendiskusikan bahan presentasi yang telah disusun Sekretaris Perusahaan. Materi itulah yang kemudian Sripeni presentasikan di depan Presiden.

Belum genap pukul 09.00, Jokowi sudah berada di ruang rapat utama, lantai 2 kantor pusat PLN. Jokowi bertanya: kenapa contingency plan dan cadangan listrik tidak bekerja dengan cepat dan baik? Sripeni- menjelaskan panjang-lebar sistem kelistrik-an Jawa-Bali, transmisi yang memiliki dua jalur utara dan selatan, juga rencana memperbanyak PLTU di pusat beban Jawa bagian barat. Ia juga meminta maaf lantaran proses pemulihan listrik lama. 

Jokowi mengatakan kejadian seperti itu seharusnya bisa dikalkulasi sebelumnya. “Kalau tahu-tahu listrik drop, artinya pekerjaan yang ada tidak dihitung, tidak dikalkulasi. Itu betul-betul merugikan kita semua.”

Tak sampai satu jam, Jokowi mengakhiri rapat. Ia meninggalkan dua pekerjaan rumah bagi PLN: mempercepat pemulihan listrik dan mencegah peristiwa serupa terulang.

Warga Kampung Malon, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang, baru saja menyelesaikan kerja bakti memasang umbul-umbul dan bendera serta mengecat jalan. Tiba-tiba ledakan keras terdengar dari arah pohon randu yang menjulang di bawah saluran udara tegangan ekstra tinggi. Ketua RT 1 RW 6 Kampung Malon, Supratyo, bercerita, api mendadak sontak menjalar di kabel PT Telkom. Tiga kotak terminal jaringan Internet meledak.

Sebelum ledakan itu, Supratyo mengatakan, ia curiga mendengar suara “derik” jaringan SUTET yang lebih keras daripada biasanya. Setelah ledakan pertama, terdengar empat ledakan seperti petir berturut-turut. “Masyarakat panik berusaha mematikan api di kabel yang jatuh berserakan di jalan,” ujarnya, Selasa, 6 Agustus lalu.

Kendati tak menempel pada kabel transmisi, dalam jarak tertentu dahan pohon bisa memicu kontak yang menyebabkan ionisasi. Menurut Amir, kejadian serupa pernah terjadi di Jawa Timur pada September 2018. Akibat pohon, listrik di sejumlah daerah di provinsi itu padam.

Peristiwa serupa pernah terjadi di sebagian kawasan timur laut Amerika Serikat pada 2003. Kasus mati listrik terbesar dalam sejarah Negeri Abang Sam itu juga dipicu hal sepele: sebatang pohon menyebabkan saluran transmisi mengalami hubungan arus pendek.

Masalahnya, di lapangan, negosiasi untuk memangkas pohon kerap menghadapi persoalan. Ali bercerita, proyek pembangunan SUTET di Klaten, Jawa Tengah, pada 2005 sempat mentok gara-gara masyarakat satu desa menolak uang kompensasi yang diatur pemerintah. Akhirnya, Bupati Klaten bersama kejaksaan, kepala pengadilan, dan Kepala Kepolisian Resor Klaten menjembatani.

Tapi, setelah SUTET terbangun dan digunakan, mantan Manajer Proyek PLN Jawa Tengah dan DIY, Bambang Supriyanto, diseret ke pengadilan. Pada 2013, ia didakwa melakukan korupsi karena memberikan kompensasi melebihi aturan pemerintah. Peristiwa itu menyebabkan pegawai PLN mengalami trauma.

Negosiasi juga tengah berlangsung dengan pemilik pohon di Ungaran. Menurut Amir Rosidin, si pemilik menolak pohonnya ditebang. Negosiasi belum kelar, sudah muncul petaka pada Ahad dua pekan lalu itu.

Gangguan akibat pohon di sirkuit 1 transmisi Ungaran-Pemalang itu pertama kali terjadi pada pukul 11.27. Dua alat pemutus tenaga listrik (circuit breaker) di Pemalang dan Ungaran merespons dengan membuka sistem proteksi untuk menyetop aliran tegangan. Setelah gangguan dinilai hilang, sirkuit otomatis menutup kembali.

Delapan menit kemudian, gangguan muncul lagi. Kali ini masalah terjadi di dua jalur transmisi Ungaran-Pemalang. Pada saat itulah aliran tegangan pada sirkuit 2 di jalur tersebut terputus karena sistem proteksi di Pemalang tidak menutup kembali. Walhasil, aliran tegangan 1.287 megawatt hanya dialirkan melalui sirkuit 1.

Gangguan ketiga datang lebih dahsyat, menyerang saluran transmisi utara yang hanya tersisa satu. Akibatnya, seluruh aliran tegangan di sisi utara putus, berpindah ke saluran transmisi bagian selatan.

Di sisi selatan, saluran transmisi hanya tersisa satu karena satu lainnya sedang dalam perawatan. Saat itu, jalur selatan sudah memikul beban 979 megawatt. Peralihan tegangan itu menyebabkan saluran transmisi di selatan harus memikul beban 2.266 megawatt. Padahal kapasitas saluran tersebut hanya 2.000 megawatt. Inilah yang membuat aliran tegangan terputus di Tasikmalaya.

Dalam kondisi itu, frekuensi listrik tidak terkendali. Di sisi barat, frekuensi merosot karena menanggung beban pengguna listrik yang besar. Padahal tak ada pasokan daya. Sebaliknya, di wilayah timur Jawa, frekuensi meningkat karena kelebihan pasokan. Tapi sistem di timur cepat menstabilkan diri dengan mengurangi beban secara otomatis. Salah satu indikasinya: PLTU Pacitan unit 2, Jawa Timur, keluar dari sistem.

Mekanisme pertahanan yang sama semestinya berjalan di sisi barat. Penurunan frekuensi seharusnya direspons dengan melepas beban. Ketika frekuensi menyusut ke posisi 49,00-48,3 hertz, under frequency relay akan bekerja “mengeluarkan” pembangkit dari sistem kelistrikan besar untuk membentuk sistem mandiri yang lebih kecil.

Amir menyebutkan mekanisme ini sempat bekerja. Buktinya, frekuensi sempat naik menuju keseimbangan baru antara suplai dan beban. Tapi yang terjadi malah sebaliknya. Tak sampai dua menit kemudian, frekuensi nyungsep dan lantas lenyap dari layar monitor. Sejumlah pembangkit terlepas dari sistem kelistrikan Jawa-Bali, antara lain Suralaya, Lontar, Labuan, Cilegon, Tanjung Priok, Muara Karang, Muara Tawar, dan Drajat.

Menurut Amir, tim investigasi PLN masih menyelidikinya. Peningkatan frekuensi itu seharusnya bisa pulih. Sebab, sistem kelistrikan Jawa diatur untuk membentuk cluster secara otomatis. Di Jawa Barat, misalnya, ada cluster Bandung selatan, Muara Tawar di Bekasi, dan Cirebon.

 

λ  λ  λ

SETELAH listrik padam, PLN berusaha mengoperasikan pembangkit Muara Karang. Pembangkit ini menjadi alternatif karena memiliki sistem black start. Sistem ini memungkinkan pembangkit beroperasi tanpa mengandalkan pasokan daya dari luar. Sementara itu, sejumlah pembangkit memerlukan suntikan listrik dari pembangkit lain untuk beroperasi. PLN juga telah mengoperasikan beberapa pembangkit black start, seperti Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Saguling dan Cirata, untuk menyalakan kembali listrik Jakarta.

Tapi upaya itu tak mudah. Beberapa kali setrum dari Muara Karang gagal masuk ke sistem. Penyebabnya, menurut Amir Rosidin, saat tegangan masuk ke jaringan 150 kilovolt, harus ada beban pendistribusian listrik agar frekuensi di pembangkit stabil. Hal serupa terjadi di pembangkit Saguling saat tegangan dikirim ke Bandung Selatan. “Ini sedang kami diskusikan dengan tim distribusi, kenapa prosesnya lama,” ujar Amir.

Tim Laboratorium Forensik Kepolisian RI Cabang Semarang melakukan olah tempat kejadian perkara peristiwa ledakan yang diduga akibat loncatan arus jaringan transmisi saluran udara tegangan ekstra tinggi 500 kilovolt interkoneksi Jawa-Bali di Gunungpati, Semarang, 6 Agustus 2019. ANTARA/Aji Styawan

PLN mencatat, pengiriman tegangan dari Saguling ke gardu Cibinong, misalnya, memakan waktu tiga jam. Amir menyebutkan pengoperasian Saguling harus disertai beban pendistribusian listrik agar tidak terjadi kelebihan kecepatan pada turbin pembangkit. “Dari Saguling ke Bandung selatan, lalu dikirim ke Gandul, sampai Suralaya.”

Tiga sumber yang memahami sistem kelistrikan mengungkapkan bahwa salah satu penyebab lambatnya pemulihan adalah komunikasi yang tersendat. Komunikasi itu menggunakan saluran khusus berbasis fiber optik milik anak usaha PLN, PT Indonesia Comnets Plus (ICON+). Perangkat tersebut dilengkapi suplai daya bebas gangguan (UPS) agar tetap berfungsi saat listrik padam. Tiga sumber tadi bercerita, UPS tidak bekerja optimal. Beberapa di antaranya bahkan bermasalah dan hanya bertahan dua-tiga jam. Padahal alat ini vital karena, beberapa jam setelah listrik padam, saluran telekomunikasi komersial pun kolaps.

Amir memastikan problem komunikasi tidak terjadi di gardu-gardu induk besar. Sebab, gardu induk besar memiliki genset untuk menunjang daya alat komunikasi. Amir mengatakan durasi ketahanan baterai perangkat telekomunikasi khusus ini masih wajar, sekitar tiga jam. Tapi ia tak menampik adanya gangguan komunikasi di beberapa gardu saat listrik padam. “Ada alat komunikasi yang terganggu di beberapa gardu induk,” tuturnya.

Persoalan komunikasi itu pula yang menyebabkan pengiriman tegangan dari Saguling ke gardu Suralaya memakan waktu lebih dari lima jam. Padahal tenaga itu diperlukan untuk menghidupkan PLTU Suralaya. “Alat komunikasi yang terganggu itu menjadi bagian dari investigasi,” kata Amir.

Mantan Direktur Utama PLN, Djiteng Marsudi, setuju persoalan komunikasi antargardu salah satu yang perlu diselidiki. Sebab, terlambatnya pengiriman tegangan bisa menyebabkan proses pemulihan Suralaya membutuhkan waktu lebih lama, terutama bila boiler telah dingin. Bila komunikasi lancar, penyaluran tegangan dari Saguling ke Suralaya cukup 30 menit. “Tapi itu juga tergantung kapabilitas operator di gardu induk yang mengatur distribusi sistem jaringan,” ucapnya.

RETNO SULISTYOWATI, KHAIRUL ANAM, EDI FAISOL (SEMARANG)

 


 

Prosedur Operasi di Ruang Kendali

• Sistem kelistrikan dikendalikan pusat pengatur beban (P2B).

• Rencana perawatan harus mendapat persetujuan P2B.

• P2B membuat perencanaan operasi harian.

• Per 30 menit operator mendapat informasi kondisi setiap pembangkit.

• Operator akan menanyakan kesiapan setiap pembangkit bila terjadi gangguan, termasuk soal biaya produksi.

• Bila ada pembangkit mati, setiap operator berkomunikasi di gardu induk dan pembangkit lewat saluran komunikasi khusus milik PLN yang terhubung melalui jaringan fiber optik.

• Bila satu unit pembangkit mati, operator tidak perlu melapor hingga ke direksi.

• Bila efek pemadaman besar, misalnya daya hilang 500 megawatt, gangguan dilaporkan hingga ke level direktur.

• Bila terjadi gangguan, area pengatur beban PLN akan berusaha mengatasinya dengan membentuk gugus (island) yang terpisah dari sistem jaringan yang lebih besar.

DIOLAH DARI BERBAGAI SUMBER. | NASKAH: PUTRI ADITYOWATI


Laporan Utama 1/7

Selanjutnya

Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
Anda akan mendapatkan 8 artikel gratis setelah Register.

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Anda memiliki 3 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

8 artikel gratis setelah Register.