Hamzah Naik Haji - majalah.tempo.co

Bahasa 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Hamzah Naik Haji


Ahmadul Faqih Mahfudz*

Tempo

Edisi : 9 Agustus 2019
i Bahasa
Bahasa

SENYUM Hamzah merekah. Tidak seperti biasa, wajahnya berbinar-binar. Usaha warung kelontong yang bertahun-tahun dia tekuni ternyata berhasil mewujudkan impiannya. “Aku mau naik haji tahun ini. Doakan, ya!” ucapnya malam itu kepada teman-teman di pos ronda.

Ada frasa naik haji dalam ucapan Hamzah. Istilah ini lazim digunakan untuk menyebut aktivitas berhaji yang dilakukan umat Islam di Indonesia.

Orang Jawa biasa menyebut aktivitas berhaji dengan istilah munggah kaji. Dalam bahasa Jawa, munggah bermakna “naik”, sedangkan kaji berarti “haji”. Munggah kaji. Naik haji. Persis! Sebagaimana munggah kaji dalam bahasa Jawa, orang Madura punya istilah ongga hajji. Ongga bermakna “naik”, sementara hajji berarti “haji”. Meski orang Madura juga memiliki istilah ka Mekka (“ke Mekah”) untuk menyebut berhaji, istilah ini kalah populer. Ka Mekka makin tidak populer karena juga bisa bermakna berumrah, ibadah sunah yang kini digemari kelas menengah muslim di Indonesia—karena, untuk berhaji, harus antre belasan bahkan likuran tahun.

Apakah istilah naik haji berasal dari bahasa Jawa atau Madura? Dari bahasa Sunda atau Melayu, mungkin? Saya belum tahu. Yang jelas, frasa naik haji dalam bahasa Indonesia terbentuk dari kata naik dan haji. Naik, dalam frasa itu, bagi saya memiliki dua makna. Pertama, naik dalam arti metaforis. Orang yang berhaji dinaikkan level keislamannya atau status kehambaannya oleh Allah Ta’ala karena telah merampungkan rukun Islam kelima. Dalam Islam, ibadah haji adalah puncak dari lima rukun yang wajib dikerjakan setiap muslim setelah bersyahadat, bersembahyang, berpuasa, dan berzakat.

Makna kedua adalah naik dalam pengertian harfiah, yakni naik pesawat menuju Mekah dan Madinah. Zaman dulu, ayah saya berhaji menumpang kapal laut. Jadi frasa itu semacam mempersingkat ungkapan “naik pesawat (atau naik kapal laut) menuju Tanah Suci untuk beribadah haji”. Naik, dalam pengertian ini, mengacu pada kendaraan yang dipakai ke Jazirah Arab tempat agama Islam berasal tersebut.

 


 

Sebagaimana munggah kaji dalam bahasa Jawa, orang Madura punya istilah ongga hajji.

 


 

Sebagaimana kata naik, kata haji dalam bahasa Indonesia memiliki dua makna. Pertama, sebagai ibadah yang wajib dilakukan setiap muslim jika memiliki kemampuan finansial dan kesehatan badan. Makna kedua, haji sebagai gelar bagi orang yang sudah melaksanakan ibadah tersebut. Haji Mahbub Djunaidi, misalnya, atau Kiai Haji Hasyim Asy’ari. Gelar ini sebenarnya produk kolonial. Di masa itu, para petinggi Belanda menyematkan gelar tersebut sebagai petanda bagi tokoh-tokoh Islam yang menjadi penggerak antikolonialisme, selain karena mereka memang sudah berhaji.

Seiring dengan zaman, naik haji kemudian tidak hanya menjadi istilah yang digunakan orang Jawa atau orang Madura. Istilah ini populer dan menjadi bagian dari bahasa Indonesia. Naik haji tidak hanya dipakai sastrawan sekaligus pelukis Danarto sebagai salah satu judul bukunya, Orang Jawa Naik Haji: Catatan Perjalanan Haji Danarto (Grafiti Pers, 1984). Henri Chambert-Loir, peneliti asal Prancis yang bertahun-tahun meneliti kisah perjalanan haji orang-orang Nusantara, juga memakai frasa naik haji untuk karyanya, Naik Haji di Masa Silam: Kisah-kisah Orang Indonesia Naik Haji 1482-1964 (Kepustakaan Populer Gramedia, 2013). Layanan perjalanan haji juga memasyhurkan istilah ini dengan ongkos naik haji atau yang biasa kita kenal dengan sebutan ONH.

Setahu saya, orang Arab juga tidak memiliki istilah yang struktur dan maknanya persis sebagaimana istilah naik haji di Indonesia. Dalam Kamus Al-Munawwir Indonesia-Arab Terlengkap (Pustaka Progressif, 2007), halaman 596, misalnya, KH Ahmad Warson Munawwir dan KH Muhammad Fairuz sebagai penyusunnya hanya menyebut safara ilal hajj, yang bermakna “berangkat untuk melaksanakan haji” bagi lema naik haji. Adapun dalam versi satunya, Kamus Al-Munawwir Arab-Indonesia Terlengkap (Pustaka Progressif, 1997), halaman 237, Kiai Warson hanya menyebut wahtajjal baytal haram, yang dimaknainya sebagai “naik haji” atau “berziarah ke Baitullah”.

Rupanya, naik haji memang istilah asli Nusantara; murni dari Indonesia dan hanya dipakai oleh orang Indonesia. Istilah ini lahir dari khazanah kebudayaan Islam di Nusantara.

Namun bukan bahasa namanya bila hanya memberikan satu gerbang tafsir. Alkisah, sepulang dari beribadah haji di Tanah Suci, si bujang Hamzah menikahi Bu Haji Maryam, janda kaya di kampung sebelah. Beberapa hari setelah menikah, pasangan pengantin baru itu bertemu dengan seorang kawan. Setelah bersalaman, sedikit berbasa-basi, si kawan tiba-tiba nyeletuk, “Hamzah, kau makin segar saja sejak naik haji!”

Nah, kalau begini, multitafsir, kan? Semoga Haji Hamzah tidak marah.

*) PENULIS, TINGGAL DI BALI


Bahasa 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
Anda akan mendapatkan 8 artikel gratis setelah Register.

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Anda memiliki 3 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

8 artikel gratis setelah Register.